Kerja Sama Proyek Jet KF-21 Berlanjut, 100 Insinyur Indonesia Bertolak ke Korea Selatan

Kerja Sama Proyek Jet KF-21 Berlanjut, 100 Insinyur Indonesia Bertolak ke Korea Selatan
info gambar utama

Situasi pandemi yang melanda tidak menghentikan Indonesia untuk terus melakukan upaya terbaik demi menjaga dan mempertahankan keamanan nasional.

Sebelumnya, upaya menjaga keamanan nasional dilakukan dalam bentuk mengasah kemampuan sumber daya manusia, dalam hal ini Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), lewat program latihan militer Garuda Shield.

Sudah bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam melaksanakan program Garuda Shield selama 15 tahun berjalan, upaya lain juga dilakukan Indonesia lewat kerja sama dengan sesama negara di kawasan Asia, yaitu Korea Selatan (Korsel).

Bedanya, kerja sama dalam hal keamanan nasional dengan Korsel dilakukan lewat bentuk pengembangan megaproyek pesawat jet tempur KF-21 Boramae (elang muda), untuk keperluan TNI Angkatan Udara (AU) di waktu yang akan datang.

Prototipe ke-5 Jet Tempur KFX/IFX Dibuat di Bandung

Rencana kerja sama sejak tahun 2010

Proses produksi KF-21 Boramae
info gambar

Bukan hal baru, pengadaan proyek jet tempur ini sebenarnya pertama kali diumumkan pada tahun 2001, oleh Kim Dae-Jung, Presiden Korsel yang menjabat kala itu. Baru pada bulan Juli 2010, Korsel dan Indonesia sepakat bekerja sama untuk memproduksi pesawat tempur yang kala itu masih dinamai KF-X/IF-X di Seoul.

Fokus keseluruhan dari proyek ini adalah untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi, ketimbang pesawat tempur kelas KF-16. Adapun jumlah pesawat tempur yang diproduksi, rencana awalnya ada sebanyak 120 unit untuk Angkatan Udara Korsel, dan 80 unit untuk Angkatan Udara Indonesia.

Berlanjut pada tahun 2016, kerja sama pengembangan pesawat tempur akhirnya terjalin lewat nota kesepahaman yang dilakukan antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Korea Aerospace Industries (KAI). Kala itu, puluhan insinyur Indonesia dikirimkan ke Korea Selatan untuk mulai berpartisipasi dalam proses pengembangan pesawat tempur yang dimaksud.

Melansir Detik, proyek KF-21 Boramae yang kabarnya memakan anggaran senilai 8,8 triliun won (Rp114,5 triliun) tersebut dijadwalkan akan melakukan tes penerbangan pertama pada tahun 2022, sedangkan proses pengembangan final diharapkan akan selesai pada tahun 2026.

Saat selesai, Korsel akan menjadi negara ke-13 yang mengembangkan pesawat tempur sendiri, di mana dalam pengembangannya melibatkan Indonesia, baik dari segi sumber daya manusia, ataupun investasi dana sebesar 20 persen dari keseluruhan anggaran yang diperlukan.

Bicara mengenai spesifikasi secara singkat, KF-21 Boramae disebut memiliki kapasitas muatan maksimum 7.700 kilogram, dan memiliki 10 pod untuk rudal udara-ke-udara serta senjata lainnya. Pesawat tempur ini juga disebut mampu terbang pada kecepatan 2.200 kilometer per jam dengan jangkauan terbang hingga 2.900 kilometer.

Daftar Belanja Alutsista Indonesia: Jet, Kapal Selam, dan Kapal Perang

Sempat terhenti karena pandemi dan negosiasi ulang Indonesia

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kiri) bersama Menteri Pertahanan Korsel Suh Wook
info gambar

Beberapa waktu lalu sempat beredar kabar mengenai status kerja sama Indonesia dengan Korsel dalam penggarapan pesawat temput KF-21 Boramae ini. Disebutkan bahwa dari total keikutsertaan 20 persen dana investasi yang digelontorkan, Indonesia baru mengirimkan dana sekitar 200 juta dolar AS, dan masih memiliki kewajiban membayar sebanyak 540 juta dolar AS, yang seharusnya sudah jatuh tempo pada awal tahun 2021.

Melansir IDX Channel, hal tersebut rupanya menimbulkan spekulasi dari pihak Korsel bahwa Indonesia akan menarik diri dari proyek pengembangan KF-21 Boramae. Menanggapi isu yang ada, kedua belah pihak baik Korsel dan Indonesia rupanya terus melakukan konfirmasi berkelanjutan mengenai kerja sama yang terjalin.

Jika menilik situasi saat ini, kondisi Indonesia yang setahun terakhir masih harus berjuang keras di tengah hantaman pandemi, diyakini sebagai salah satu penyebab belum dilakukannya sisa pembayaran yang harusnya dibayarkan pada awal tahun 2021.

Belum lagi, tahun lalu disebutkan bahwa sejumlah insinyur Indonesia yang terlibat dalam proyek tersebut dilaporkan meninggalkan Korsel bersamaan dengan situasi pandemi yang terjadi. Berangkat dari hal tersebut, pada bulan April lalu Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, bertolak ke Korsel untuk mengonfirmasi komitmen Indonesia dalam pengembangan KF-21 Boramae.

Prabowo mewakili pemerintah Indonesia dilaporkan melakukan negosiasi ulang terkait proyek pengembangan KF-21 Boramae, lewat permintaan penurunan cost share Indonesia dari sebelumnya 20 persen menjadi 15 persen.

Negosiasi tersebut kabarnya hanya memperoleh pengurangan menjadi 18,8 persen dan belum mendapat kesepakatan secara resmi dari pihak Korsel saat itu. Namun, kelanjutan dari proyek ini nampaknya akan terus berjalan bersamaan dengan Korsel yang meyakini bahwa pihaknya akan terus mengupayakan pengembangan kerja sama dengan Indonesia.

Terbaru, Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korsel juga mengonfirmasi bahwa negaranya siap menerima kedatangan insinyur Indonesia yang akan kembali bergabung dalam pengembangan lanjutan dari KF-21 Boramae.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan diskusi terkait seperti kontribusi Indonesia dengan mengadakan pembicaraan tingkat kerja paling cepat," ungkap Jung Kwang-sun, kepala program KF-21 di DAPA.

Pada Rabu (11/8), jajaran insinyur Indonesia yang akan bertolak ke Korsel dikabarkan sedang dalam tahap pengajuan visa melalui 32 orang yang akhirnya mendapat persetujuan. Sementara sambil menunggu sisanya, total 100 orang insinyur dari tanah air akan bertolak ke Korsel pada akhir tahun 2021.

Benarkah Korea Selatan Sudah Lebih Maju dari Jepang?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini