Anak Muda Indonesia Yakin Mampu Memenuhi Kebutuhan Dasar di Masa Depan

Anak Muda Indonesia Yakin Mampu Memenuhi Kebutuhan Dasar di Masa Depan
info gambar utama

Kebutuhan dasar manusia dalam pandangan konsevnsional adalah berupa pakaian, makanan dan tempat tenggal. Tiga komponen tersebut juga kerap disebut sebagai kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan papan.

Sementara itu, kebutuhan dasar dalam pandangan modern tidak sebatas pada tiga hal di atas melainkan juga dilengkapi dengan pendidikan dan perawatan kesehatan. Meskipun demikian, pakaian, makanan dan tempat tinggal dianggap sudah mewakili komponen kebutuhan dasar di berbagai era.

Pandemi Covid-19 teridentifikasi masuk Indonesia pada Maret 2020 yang hingga kini belum menampakkan tanda-tanda kapan pandemi tersebut akan berakhir. Pandemi Covid-19 menjungkirbalikkan berbagai rencana dan keadaan yang kini dianggap sebagai new normal atau kebiasaan baru.

Mengadaptasi kebiasaan baru selama pandemi, membuat terbesitnya rasa tanya dari dalam diri setiap lapisan masyarakat. Pertanyaan yang muncul, “mampukah kebutuhan kami tercukupi dan dapat bertahan melawan pandemi Covid-19?”

Menakar Optimisme Generasi Muda pada Sektor Ekonomi di Puncak Bonus Demografi Indonesia

Optimisme generasi muda dalam memenuhi kebutuhan dasar

Tidak melulu bersikap pesimis, kepercayaan diri generasi muda Indonesia dalam bertahan di tengah pandemi Covid-19 nyatanya masih ada. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia tahun 2021 yang dilakukan oleh Good News From Indonesia (GNFI) berkolaborasi dengan Lembaga Survei KedaiKOPI.

Generasi muda Indonesia yang diwakili oleh generai milenial atau generasi Y (usia 25 s/d 40 tahun) dan generasi Z (usia <25 tahun) dalam survei tersebut merasa optimis bisa memenuhi kebutuhan dasar di masa depan.

Hasil survei indeks optimisme generasi muda di sektor kebutuhan dasar memiliki tingkat optimisme yang tinggi. | Foto : Hasil Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia Tahun 2021
info gambar

Hal tersebut mengindikasikan bahwa generasi muda Indonesia optimis dapat bertahan melawan pandemi Covid-19 melalui terpenuhinya kebutuhan dasar. Indeks optimisme generasi muda dalam memenuhi kebutuhan dasar adalah 75,1 (tinggi) dari rentang angka 0 (terendah) hingga 100 (tertinggi).

Terpenuhinya kebutuhan makanan dengan gizi yang seimbang menjadi salah satu cara untuk dapat bertahan di masa pandemi Covid-19. Kebugaran tubuh yang didapat melalui pola hidup dan pola konsumsi yang sehat dikatakan sebagai upaya dasar supaya terhindar dari paparan Covid-19.

Pola konsumsi yang sehat adalah melalui terpenuhinya gizi yang seimbang. Pedoman gizi seimbang berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia yakni konsumsi makan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur.

Ada empat pilar dalam memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang. Empat pilar tersebut adalah anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik dan memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal.

Empat pilar tersebut pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi yang masuk dengan memantau berat badan secara teratur. Generasi muda Indonesia optimis mampu memenuhi kebutuhan makanan dengan gizi yang seimbang bagi diri sendiri, anak dan pasangan dengan indeks optimisme kategori tinggi.

Melihat Hasil Survei Indeks Optimisme Indonesia 2021, Optimis atau Pesimis?

Meningkatkan kemampuan finansial menjadi rencana prioritas generasi muda agar dapat memenuhi kebutuhan dasar di masa depan

Beberapa waktu lalu, terdengar kabar bahwa generasi milenial atau generasi Y dianggap “terancam menjadi gelandangan” karena tidak mampu memiliki rumah atau hunian yang layak. Hal tersebut disebabkan generasi muda yang dianggap cenderung boros dan rata-rata harga rumah mengalami kenaikan yang tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia melampirkan rata-rata harga per unit pembangunan rumah oleh Perum Perumnas dalam beberapa waktu belakangan. Harga pembangunan rumah per unit selalu mengalami kenaikan sejak tahun 2008 hingga tahun 2018. Tentunya, harga yang dipaparkan oleh BPS tidak dapat menjadi tolok ukur yang paten mengingat ada beragam faktor penentu fluktuasi harga rumah dan industri properti.

Poin yang harus digaris bawahi adalah harga properti seperti hunian layak terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Hal tersebut dapat menjadi sebuah tantang bagi para generasi muda dalam mengupayakan memiliki hunian layak di masa depan.

Meski demikian, berdasarkan survei optimisme kali ini, tingkat optimisme generasi muda untuk dapat memiliki hunian layak di masa depan sebesar 58,0 (tinggi). Angka tersebut mewakili optimisme yang tinggi dari generasi muda untuk memiliki hunian layak di masa depan.

Rencana prioritas generasi muda untuk tahun depan | Foto : Hasil Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesi 2021
info gambar

Guna membantah anggapan “terancam menjadi gelandangan” di masa depan, responden survei indeks optimisme memiliki rencana prioritas di tahun depan yang didominasi dengan upaya meningkatkan penghasilan. Upaya tersebut sebagai salah satu jalan untuk memiliki hunian yang layak dan dapat memenuhi segala kebutuhan dasar maupun lanjutan di masa depan.

Tiga rencana prioritas teratas para generasi muda untuk tahun depan adalah sukses di pekerjaan atau usaha (28,5 persen), menjadi pengusaha (19,5 persen) dan mendapat pekerjaan (13,1 persen).

Menakar Baik Buruk Optimisme di Masa Krisis

Baju tidak memiliki masa kedaluarsa sehingga dapat dikenakan untuk jangka waktu yang lama selagi layak dan memiliki nilai guna

Trend fashion tidak pernah berhenti dan selalu memunculkan sesuatu yang baru dalam cara berbusana. Meskipun gaya berbusana selalu mengalami pembaruan, namun pakaian adalah barang jadi yang tidak memiliki masa kedaluwarsa selagi masih layak pakai.

Oleh sebab itu, apapun trend fashion di masa mendatang, generasi muda Indonesia yakin mampu memenuhi kebutuhan pakaian yang layak pakai di masa depan dengan tingkat optimisme sebesar 53,3 (tinggi). Hal tersebut mengingat sifat baju yang tidak memiliki masa habis pakai sehingga dapat dikenakan untuk jangka waktu yang lama selagi dalam keadaan layak dan nyaman dikenakan.

Memiliki pakaian yang layak pakai di masa depan dapat diperoleh melalui berbagai cara, salah satunya adalah membeli baju bekas layak pakai yang kini sedang menjadi gaya di beberapa kelompok anak muda. Thrift shop adalah toko atau tempat yang menjual barang-barang bekas yang masih memiliki kualitas baik dan masih memiliki nilai guna.

Thrifting atau kegiatan membeli barang bekas (contohnya pakaian) dapat mengurangi jumlah pengeluaran juga dapat membantu mengurangi jumlah limbah tekstil yang secara tidak langsung dapat memberikan dampak bagi lingkungan. Hal tersebut dapat meminimalisir kerusakan lingkungan akibat limbah tekstil yang sukar terurai.

Terpenuhinya kebutuhan dasar di masa pandemi seperti sekarang ini menjadi sesuatu yang teramat penting. Kebutuhan dasar dapat dikatakan sebagai fondasi keberlangsungan hidup, yang mana jika kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi maka kelangsungan hidup setelahnya akan dalam ancaman.

Terpenuhinya kebutuhan dasar dapat menjadi pendorong terpenuhinya berbagai sektor lain penunjang kehidupan seperti sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan hingga keterlibatan politik praktis maupun etis. Rasa optimis generasi muda Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dasar di masa mendatang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.

Optimisme Generasi Muda Terhadap Kemajuan Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini