Generasi Muda Masih Ketar-Ketir akan Mapan di Dunia Kerja

Generasi Muda Masih Ketar-Ketir akan Mapan di Dunia Kerja
info gambar utama

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi seluruh sektor kehidupan kita. Tak hanya bidang kesehatan, sektor ekonomi juga mengalami dampak serius.

Terhambatnya aktivitas ekonomi membuat banyak pekerja yang harus diberhentikan (PHK). Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), mencatat total pekerja yang terdampak Covid-19 per Agustus 2020 mencapai 2,1 juta pekerja.

Secara lebih rinci, sebanyak 1,5 juta orang dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja. Lalu, terdapat 633 ribu orang pedagang atau pengusaha yang bangkrut. Hal tersebut membuat jumlah pengangguran di Indonesia hampir berjumlah 10 juta orang pada Agustus 2020.

Lebih lanjut, lowongan pekerjaan yang tersedia kerap kali tak berbanding lurus dengan jumlah orang pencari kerja. Pada 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi yang memiliki kelebihan pencari kerja tertinggi dengan jumlah 938.269 orang. Selanjutnya Jawa Barat dengan 715.395 orang, Jawa Tengah dengan 449.506 orang, Jawa Timur dengan 423.256 orang, dan Riau dengan 273.394 pencari kerja.

Adapun kelebihan pencari kerja ini diukur dengan mengurangi jumlah lowongan kerja terdaftar, dan jumlah pencari kerja terdaftar.

Pada Mei 2021, BPS kembali merilis data jumlah pengangguran di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, terdapat 8,75 juta orang yang menganggur per Februari 2021. Jika dilihat dari data sebelumnya, jumlah pengangguran mengalami penurunan sebesar 11,7 persen atau setara dengan 1.021.746 orang.

Meskipun demikian, jika dilihat secara tahunan, jumlah ini meningkat 10 persen atau 1.820.522 orang, karena pada Februari 2020, terdapat 6,9 juta orang yang menganggur.

Mirisnya, jumlah pengangguran tersebut didominasi oleh anak muda dengan rentang usia 15-29 tahun. Padahal, Indonesia sedang berada di masa bonus demografi dan anak muda yang diharapkan akan menjadi pilar negeri di masa depan.

Bonus demografi tercipta ketika proporsi penduduk berusia produktif (15-65 tahun) lebih banyak dari mereka yang berusia non-produktif atau di luar usia kerja, yang meliputi anak-anak (di bawah 15 tahun) dan lansia (di atas 65 tahun). Saat ini, BPS mencatat usia produktif di Tanah Air mencapai 70,72 persen, atau 191,1 juta orang, dari total populasi yang berjumlah 270,2 juta jiwa.

Penyerapan tenaga kerja masih rendah

BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II (Q2) 2021 tumbuh 7,07 persen secara tahunan (YoY) pada, Kamis (05/8/2021). Dengan pencapaian tersebut, Indonesia berhasil keluar dari resesi, setelah beberapa kuartal terakhir ekonomi Indonesia mengalami kontraksi.

Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi ini belum dapat menyerap banyak tenaga kerja dan membuka lapangan pekerjaan.

“Dampaknya belum terdampak ideal terhadap penciptaan lapangan kerja, karena kondisi sebenarnya belum pulih normal,” kata Kepala BPS Margo Yuwono, seperti dikutip dari Kontan, Kamis (05/8).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut terjadi karena dasar acuan perhitungan yang rendah pada Q2 2020, yaitu minus 5,32 persen.

Maka dari itu, secara riil pertumbuhan positif belum dapat menciptakan banyak peluang penyerapan tenaga kerja. Hal itu dikarenakan sektor-sektor yang biasanya banyak menyerap tenaga kerja tidak tumbuh tinggi pada Q2 2021.

Data BPS juga mencatat, pada Februari 2021 sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, menyerap tenaga kerja Indonesia paling banyak, yaitu 29,59 persen atau setara dengan 38.777.600 orang. Sektor selanjutnya yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor sebanyak 19,2 persen atau setara dengan 25.161.613 tenaga kerja, serta industri pengolahan sebanyak 13,6 persen atau setara dengan 17.823.568 orang.

Sayangnya, ketiga sektor tersebut tidak mengalami pertumbuhan yang tinggi pada Q2 2021.

Optimisme anak muda terhadap ekonomi Indonesia

Good News From Indonesia (GNFI) kembali melakukan survei indeks optimisme. Pada survei tahun ini, GNFI bekerja sama dengan lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI).

Survei ini dilakukan terhadap 800 responden di 11 kota besar di Indonesia, yaitu Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Banjarmasin, dan Makassar, pada periode 8-15 Juli 2021.

Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2021 ini dilakukan untuk mengetahui seberapa optimistis generasi muda terhadap masa depan Indonesia di berbagai sektor kehidupan. Sektor kehidupan tersebut adalah pendidikan dan kebudayaan, kebutuhan dasar, ekonomi dan kesehatan, kehidupan sosial, serta politik dan hukum.

Optimisme Sektor Ekonomi dan Kesehatan | GNFI
info gambar

Hasil survei ini menunjukkan 64,6 persen generasi muda optimistis terhadap sektor ekonomi dan kesehatan di Indonesia. Lalu, 35,5 persen anak muda berada di posisi netral, dan 0,1 persen sisanya merasa pesimis. Dari hasil tersebut, diperoleh net index untuk sektor ekonomi dan kesehatan sebesar 64,5 persen atau berarti optimisme yang tinggi.

Adapun tiga indikator penilaian untuk sektor ekonomi dan kesehatan, yaitu:

  • Mendapatkan akses layanan kesehatan di masa depan, dengan net indeks 51 persen,
  • Terserap di dunia kerja di masa depan, dengan net indeks 50,9 persen,
  • Menciptakan usaha di masa depan, dengan net indeks 49,5 persen, dan
  • Mendapat pekerjaan yang diinginkan di masa depan, dengan net indeks 48,7 persen.

Jika mengacu pada tiap indikator, generasi muda berada di posisi optimisme tinggi untuk terserap di dunia kerja. Selain itu, mereka juga pesimistis untuk dapat pekerjaan yang diinginkan di masa depan. Maka dari itu, kebijakan-kebijakan yang ada perlu mendukung generasi muda agar mereka dapat terserap di dunia kerja dan mendapat pekerjaan yang diinginkan di masa depan.

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2021 mengalami penurunan. Menurut Menaker Ida Fauziyah, pencapaian tersebut disebabkan oleh program Balai Latihan Kerja (BLK) dan link and match.

BLK merupakan sarana tempat pelatihan bagi masyarakat untuk mendapatkan keterampilan atau mendalami keahlian di bidang masing-masing. Program BLK meliputi kejuruan teknik otomotif, teknik las, pengolahan hasil pertanian atau perikanan, woodworking, teknologi informasi dan komunikasi, menjahit, desain grafis, refrigeration dan teknik listrik, industri kreatif, bahasa, dan lain-lain.

Untuk program link and match, program ini berlaku bagi masyarakat yang berlatar belakang pendidikan SMK. Kemnaker telah membangun integrasi pelatihan, sertifikasi, dan penempatan tenaga kerja yang efektif untuk mempertemukan pencari kerja dengan permintaan pasar kerja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Lydia Fransisca lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Lydia Fransisca.

LF
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini