Kesenian Kuda Kosong Cianjur Tak Lepas dari Cerita Mistis

Kesenian Kuda Kosong Cianjur Tak Lepas dari Cerita Mistis
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Indonesia yang terdiri dari banyak pulau menjadikannya kaya akan keberagaman suku, adat, dan kebudayaan. Kesenian yang merupakan bagian penting dari kebudayaan berkaitan erat dengan sistem sosial masyarakat setempat. Kesenian diartikan sebagai perilaku atau aktivitas yang dikembangkan oleh masyarakat melalui berbagai bentuk, serta memiliki estetika tersendiri.

Wujud kesenian tersebut dapat dilihat dalam Kuda Kosong di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kuda Kosong merupakan kesenian asli Cianjur yang digelar satu tahun sekali pada saat hari jadi kabupaten Cianjur, yakni 12 Juli atau pada saat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Kuda Kosong merupakan kuda dengan postur tubuh yang besar, dibalut dengan kain hijau. Kuda tersebut berjalan dengan dikawal dua orang berbaju putih. Meskipun tidak ada orang yang menaiki kuda tersebut atau kosong, tetapi kuda ini berjalan seolah-olah sedang ditunggangi.

Ketika berjalan, kuda beberapa kali mengarahkan pandangan ke penonton. Kemudian, mengangguk dan menunduk layaknya memberi hormat. Kuda Kosong sebagai sebuah kesenian yang diambil dari peristiwa nyata, tetapi tetap tak bisa dihindarkan dari tradisi masyarakat sekitar yang masih kuat dengan sifat mistik.

Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama yang Terbit di Indonesia

Sejarah Kuda Kosong

Kuda Kosong | Foto: Pinterest
info gambar

Hadirnya Kuda Kosong berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kabupaten Cianjur. Pada masa itu, sedang berlangsung kepemimpinan Raja Mataram. Saat itu, Raja Mataram mengetahui bahwa terdapat daerah kecil yang sedang dibangun, yakni Cianjur. Raja Mataram pun mengirimkan surat kepada pemimpin Cianjur untuk menyerahkan upeti ke raja Mataram.

Kemudian, Aria Natadimanggala yang merupakan perwakilan dari pemimpin Cianjur menyerahkan upeti berupa 3 padi, 3 pedes (lada), dan 3 cengek (cabai rawit). Upeti diserahkan kepada raja Mataram, kemudian raja Mataram menyambutnya dengan baik dan memberikan balasan.

Raja Mataram memberikan balasan dengan keris, kuda kerajaan, dan pohon Saparantu kepada pemimpin Cianjur. Kuda tersebut dibawa Aria dengan dituntun atau tidak ditunggangi, dikarenakan untuk memberikan rasa hormat kepada pemimpin Cianjur saat itu. Setelah sampai di Cianjur, kuda tersebut diarak mengelilingi kota dan menjadi sebuah kebanggaan bagi Kabupaten Cianjur.

Melihat Sisi Soekarno yang Mencintai Dunia Lukisan

Kuda yang dibawa pulang itu tanpa ditunggangi, hingga akhirnya disebut sebagai kuda kosong. Namun, masih banyak masyarakat Cianjur yang memaknai Kuda Kosong dengan sesuatu yang mistis. Beberapa masyarakat meyakini bahwa kuda tersebut ditunggangi oleh Suryakencana.

Menurut beberapa masyarakat, Suryakencana merupakan anak dari hasil pernikahan Raden Aria Wira Tanu (Dalem Cikundul) dengan jin. Mereka percaya bahwa Suryakencana sering hadir dan duduk di Kuda Kosong tersebut. Walaupun sebagian masyarakat merasa hal ini kedengarannya tidak rasional, tetapi kita sebagai masyarakat harus menghormati adat dan kepercayaan orang lain.

Kesenian Kuda Kosong ini pernah dilarang untuk dipertunjukan pada tahun 1998--2006 oleh pemerintah Kabupaten Cianjur. Hal itu disebabkan sebagian besar masyarakat Cianjur masih mengartikan Kuda Kosong dengan hal mistis dan gaib.

Akan tetapi, pada tahun 2006, saat masa kepemimpinan Bupati Tjetjep Muchtar Soleh, pemerintah daerah bermusyawarah dengan para ulama dan budayawan untuk membahas kesenian Kuda Kosong tersebut. Alhasil, kesenian Kuda Kosong dapat dipertunjukan kembali dengan menghilangkan sifat-sifat mistik.

Pelaksanaan kesenian Kuda Kosong

Pelaksanaan Kuda Kosong | Foto: Pakuan Pos
info gambar

Pada mulanya, kesenian Kuda Kosong dipertunjukan lebih dari satu kali dalam setahun. Namun kini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kesenian Kuda Kosong hanya dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Kesenian ini akan digelar pada saat hari jadi kota Cianjur atau pada hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Masih berkaitan dengan hal yang gaib, sebagian masyarakat meyakini bahwa yang bertugas menuntun Kuda Kosong hanyalah orang-orang tertentu saja. Namun, faktanya siapa saja boleh bertugas sebagai penuntun Kuda Kosong. Asalkan penuntun tersebut telah memahami dan mengenal watak dari kuda, agar kuda merasa nyaman dan tidak berontak atau kabur ketika pertunjukan.

Dalam pelaksanaan kesenian Kuda Kosong juga melibatkan berbagai peralatan dan perlengkapan. Peralatan dan perlengkapan tersebut meliputi aksesoris kuda untuk menghiasi kaki, dan kepala kuda serta bunga warna-warni di bagian badan kuda.

Terdapat pula payung yang digunakan untuk memayungi kuda agar kuda tidak kepanasan. Jika kuda kepanasan, kuda dapat ngamuk dan berontak. Kesenian Kuda Kosong dilakukan dengan beberapa tahap.

Wujud dari Legenda Putri Mandalika dalam Tradisi Bau Nyale.

Pada tahap pertama adalah memandikan kuda agar kuda tampak bersih dan tidak bau. Tahap selanjutnya adalah berdoa yang dilakukan pada sore hari satu hari sebelum kesenian berlangsung, dengan memohon pertunjukan di esok hari akan berjalan dengan lancar.

Tahap ketiga adalah tasawul, dilaksanakan setelah sholat isya yang bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal. Kemudian, prosesi penyalaan dupa. Pada pagi hari sebelum pawai Kuda Kosong dilaksanakan, para pemimpin pawai akan menyalakan dupa dengan tujuan untuk wewangian. Setelah keempat tahapan tersebut, barulah pawai akan diselenggarakan pada sekitaran jalan di Kabupaten Cianjur.*

Referensi: ums.ac.id | upi.edu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini