Bisa Dihargai Rp30 Juta, Babi Jadi Hewan yang Disakralkan di Papua

Bisa Dihargai Rp30 Juta, Babi Jadi Hewan yang Disakralkan di Papua
info gambar utama

Terdapat beberapa aturan tidak tertulis bagi wisatawan yang berkunjung ke Lembah Baliem, Papua. Salah satunya, soal memotret babi. Aturan tidak tertulis di Lembah Baliem itu tidak boleh memotret sembarangan tanpa izin Suku Dani yang sedang berkoteka. Seusai memotret, wisatawan wajib memberi tips bagi pria berkoteka.

"Sebaiknya izin dulu dan seusai memotret wajib berikan tips kepada pria berkoteka itu," kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto yang dikabarkan Tempo, Jumat 1 Januari 2021.

Pemberian tips, menurut dia, bukan berarti pria yang memakai koteka tersebut minta bayaran, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas izin memotret tersebut. Sebagaimana diketahui, babi adalah binatang peliharaan yang berharga bagi masyarakat Papua.

Mengenai aturan memotret babi, Hari Suroto yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih menjelaskan, wisatawan yang sedang melakukan perjalanan di Lembah Baliem boleh memotret babi milik Suku Dani yang berkeliaran tanpa harus membayar.

Hanya saja, jika wisatawan sedang mampir ke pasar tradisional dan ingin mengambil gambar babi yang diperjualbelikan di sana, mereka harus minta izin kepada pemiliknya.

Tradisi Pernikahan Suku Biak, Warisan Budaya di Pulau Ujung Timur Indonesia

"Apalagi kalau yang akan dipotret adalah anak babi yang sedang digendong," katanya.

Jika pemilik tidak berkenan babinya difoto, jangan nekat memfoto, bisa-bisa nantinya akan disuruh membayar babi yang difoto tersebut. Masalahnya, harga seekor babi di Lembah Baliem sangatlah mahal. Satu ekor babi dewasa bisa berharga Rp30 juta.

Babi memang dibiarkan berkeliaran di jalanan dan kebun. Babi yang berkeliaran di jalan atau permukiman biasanya menjadi daya tarik bagi wisatawan karena merupakan pemandangan unik dan objek foto yang bagus. Selain itu jangan sampai menabrak hewan peliharaan yang dibiarkan bebas berkeliaran di jalan ini. Tak peduli ukuran dan usia, semua babi yang tertabrak senilai babi dewasa.

Lebih apes lagi kalau yang tertabrak adalah babi betina karena punya cara penghitungan ganti ruginya berbeda. Apabila menabrak babi betina, maka jumlah ganti ruginya semakin besar. Cara menghitungnya, harga babi dewasa tadi dikalikan jumlah puting susu babi betina yang tertabrak.

Pengendara juga mesti bertanggung jawab jika menabrak babi. Sebab jika terjadi tabrak lari pada babi, maka masyarakat akan memberikan sanksi kepada pengendara lain yang melintasi jalan tersebut.

"Karena sangat sulit mengingat pelat nomor mobil penabrak lari, maka yang menjadi sasaran adalah mobil yang berwarna sama," kata Hari yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih, Papua.

Misalkan mobil yang menabrak babi berwarna merah, maka semua mobil merah yang melewati tempat itu harus membayar denda hingga angkanya senilai dengan harga babi yang tertabrak

Babi dan makna sosial di Papua

Pada Februari 2020 lalu, Yus Yunus (26), pria asal Dusun Taramanu, Desa Sumberjo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), tewas diamuk warga di Nabire, Papua. Korban tewas dikeroyok setelah dituding menabrak warga dan seekor babi hingga tewas.

Peristiwa tersebut mempertegas bahwa babi memang bukan binatang sembarangan bagi masyarakat di Bumi Cendrawasih. Babi bisa menjadi pembawa suka cita, sekaligus menghadirkan perkara runyam di sana. Bagi suku-suku di Papua, babi telah menjadi binatang yang tidak dapat dilepaskan dari sistem sosial dan budaya, terlebih bagi masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan.

Antropolog dan Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Loka Budaya, Universitas Cenderawasih, F. Sokoy, di Jayapura mengatakan, beternak babi dalam perspektif antropologi dikenal dengan istilah "kebudayaan memelihara babi."

"Kebudayaan ini merepresentasikan simbol sosial-ekonomi, juga kepemimpinan," ujarnya, dalam Tempo.

Mamalia omnivora ini memiliki makna simbolis yang penting di dalam adat dan tradisi masyarakat di pulau paling timur wilayah Indonesia itu. Dalam sistem sosial budaya masyarakat Papua, daging babi selalu disajikan sebagai menu utama dalam jamuan di setiap acara dan pesta adat. Selain itu, babi juga dijadikan sebagai penanda status kemapanan serta kedudukan sosial dari pemiliknya.

Sejarah Kampung Pathuk dan Bakpia Jogja yang Dulu Berisi Daging Babi

Dalam setiap hajatan adat dalam masyarakat pegunungan Papua, banyaknya jumlah babi yang dikurbankan, menjadi tolok ukur kemampuan sosial dan ekonomi masyarakat di daerah tersebut.

Tradisi menyantap daging babi bersama-sama, seperti yang dilihat dalam upacara bakar batu, menjadi simbol perekat ikatan sosial dan religi bagi masyarakat Papua secara luas. Pembagian jumlah potongan daging babi yang telah dimasak, juga menjadi penanda kedudukan suatu tokoh beserta klannya dalam sistem adat.

"Itu adalah nama struktur adat. Di Sentani, nama kepala suku dalam satu kampung yang memiliki jabatan strategis hanya lima orang, dan hanya lima orang ini yang berhak membagi daging babi," jelasnya.

Sementara itu di wilayah Pegunungan Tengah, para perempuan bertanggung jawab merawat babi layaknya anak sendiri karena pertimbangan nilai yang begitu tinggi.

"Babi sangat penting dan dihargai dalam kebudayaan Papua dan Melanesia," imbuh Sokoy.

Asal mula babi di tanah Papua

Sedemikian lekatnya kebudayaan masyarakat tradisional Papua dengan babi, boleh jadi menimbulkan pertanyaan lanjutan. Pertanyaannya adalah, sejak kapan binatang tersebut mulai mendiami dan menyebar di seluruh tanah pulau Papua?

Tanah Papua yang dahulu tergabung dalam paparan Sahul, bergabung dengan benua Australia, umumnya hanya ditinggali oleh mamalia jenis marsupialia seperti kangguru pohon (wallaby) dan aneka kuskus.

"Babi bukan mamalia asli Papua. Sebab, mamalia endemik Papua ciri khasnya punya kantung di perutnya," terang Hari.

Hari menjelaskan, babi yang ada di Papua saat ini dikenal sebagai jenis Sus Scrofa Papuensis. Sampai hari ini masih saja terjadi persilangan pendapat antar para ahli mengenai kapan pertama kali babi masuk di Papua. Teori mengenai waktu kehadiran babi di Papua juga beragam, ada yang menyebut 10.000 tahun lalu namun teori dengan bukti lain menyebut 6.000 tahun yang lalu.

Babi Rusa, Hewan Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai

Kemungkinan besar babi-babi dari pulau lain dahulu kala berhasil merintangi lautan dan sampai ke tanah Papua. Atau ada kemungkinan yang lain, yaitu babi-babi tersebut dibawa oleh manusia-manusia penghuni tanah Papua, tetapi bukan manusia dari rumpun penutur Austronesia seperti yang kita kenal saat ini.

Fase kedua adalah, persebaran babi secara besar-besaran sebagai binatang yang sudah didomestifikasi. Teori tersebut mengungkapkan bahwa kemungkinan besar babi-babi tersebut dibawa sendiri oleh orang-orang Papua, yang kita kenal saat ini, namun tempo waktunya masih belum terlampau lama.

"Mungkin ada orang Papua yang mengadakan migrasi kembali ke tiga wilayah di Indonesia yakni Halmahera, Alor, dan Timor, dan saat kembali ke Papua, mereka membawa babi-babi dari ketiga tempat ini bersama mereka."

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini