Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Burhanuddin Mohammad Diah atau yang dikenal dengan B.M. Diah adalah seorang wartawan sekaligus salah satu tokoh, yang menjadi saksi perumusan naskah proklamasi di Laksamana Maeda. Sebagai seorang wartawan, B.M. Diah turut terlibat dalam penyebaran berita kemerdekaan Indonesia atas perintah langsung dari Bung Hatta.

Tak hanya itu, B.M. Diah juga yang telah menyelamatkan draf naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno. Dialah yang menyimpan naskah tersebut lebih dari 40 tahun sehingga bisa kita saksikan saat ini.

Pada saat Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebardjo menyusun draf proklamasi, B.M. Diah, para aktivis, dan para pemuda lain menunggu di ruang tengah rumah Laksamana Maeda. Kemudian, ketika draf tersebut telah disetujui para wakil pemuda dan anggota PPKI yang hadir, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskah tersebut.

Rekomendasi Film untuk Rayakan 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Setelah naskah tersebut selesai diketik dan ditandatangani Soekarno dan Hatta, Sayuti Melik membuang begitu saja draf proklamasi tersebut. Mengutip dari buku biografi B.M. Diah tertulis,

“Setelah naskah tersebut disalin oleh Sayuti Melik, naskah tersebut dibuang ke tempat sampah begitu saja” Ungkap B.M Diah dalam buku biografi berjudul Butir-butir Padi B.M Diah, Tokoh Sejarah yang Menghati Zaman”.

Tak seorang pun yang peduli terhadap draf tulisan tangan tersebut. Namun, naluri B.M. Diah sebagai wartawan berbeda. Ia memiliki pemikiran untuk menyelamatkan setiap bukti dari sebuah momen atau peristiwa.

Naskah Proklamasi | Foto: KataMedia.co
info gambar

Ia pun memungut kembali naskah tersebut untuk dirapikan dan diselipkan ke buku catatan yang dibawanya saat itu. Naskah tersebut kemudian dikantonginya dan disimpan lebih dari 40 tahun, sebelum pada tahun 1992 ia serahkan kepada pemerintah Republik Indonesia.

Perjuangan B.M. Diah

Tak sampai di situ, pria kelahiran Kutaraja, Aceh, 7 April 1917 ini juga turut membantu dalam angkat senjata dalam merebut percetakan “Djawa Shimbun”. Percetakan itulah yang juga menerbitkan Harian Asia Raja.

Meskipun Jepang berusaha meralat berita-berita kemerdekaan hingga menyegel kantor berita, semangat perjuangan dari B.M. Diah dan rekan-rekannya tak pernah padam. Mereka terus menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak surat kabar dan selebaran hingga ke pelosok Indonesia.

B.M Diah | Foto: Wikipedia
info gambar

Bukan hanya sebagai seorang wartawan saja, B.M. Diah juga seorang aktivis. Sejak pendudukan jepang, ia telah tergabung dalam lingkaran aktivis yang berhimpun di Asrama Menteng 31.

Asrama ini juga yang menjadi tempat tinggalnya para aktivis lain, seperti Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, D.N. Aidit, dan Lukman. Pada Juni 1945, B.M. Diah terlibat dalam pendirian Gerakan Angkatan Baru Indonesia. Gerakan tersebut merupakan antitesis dari Gerakan Angkatan Muda yang dinilai sangat dipengaruhi oleh Jepang. Di sana, B.M. Diah menjadi ketua panitia pendiri dari gerakan tersebut.

Semangat Dewi Dorong Anak Muda Mengabdi Bagi Negeri di Masa Pandemi

Gerakan tersebut melibatkan para tokoh militan, seperti Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Harsono Tjokroaminoto, dan Asmara Hadi. Tujuan dari gerakan ini adalah sebagai tempat berhimpun seluruh golongan, menyuarakan kemerdekaan, hingga menegaskan dalam pembentukkan Republik Indonesia.

Tak berhenti sampai di situ, awal Oktober 1945, B.M. Diah menerbitkan surat kabar Merdeka dan menjadi pemimpin redaksi. Sebagai seorang redaktur, ia memiliki informasi mengenai perkembangan perang Jepang yang membuatnya menjadi orang yang berpengaruh, didengar dan dihormati. Ia juga menjalin relasi yang baik dengan kelompok pemuda lainnya, seperti kelompok Kaigun yang melibatkan Achmad Soebardjo, Wikana, dan A.A. Maramis.

Selain berkiprah dalam dunia jurnalisme, B.M. Diah juga ditunjuk sebagai duta besar Cekoslowakia dan Hongaria. Ia juga diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1968. Hingga akhirnya, pada 10 Juni 1996 B.M. Diah menghembuskan napas terakhir di usia 79 tahun di Jakarta. Bahkan, saat menjelang kepergiannya, B.M Diah masih terus giat bekerja.

Refleksi Kemerdekaan: Pemuda Pendiri Bangsa

Atas jasa dan perjuangan B.M. Diah, ia menerima penghargaan dari Presiden Soeharto, yakni Bintang Mahaputra Utama pada 10 Mei 1978. Ia juga mendapatkan penghargaan medali perjuangan angkatan 45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1955.

Berkat tindakan yang dilakukan B.M. Diah, saat ini Kawan bisa melihat draf naskah proklamasi asli yang ditulis tangan oleh Soekarno. Walaupun, B.M. Diah tak berjuang di garis terdepan, tetapi ia memiliki kontribusi besar akan kemerdekaan Indonesia.

Semoga semangat dan perjuangan yang diberikan B.M. Diah dapat memberikan motivasi dan semangat juga kepada Kawan sebagai generasi muda Indonesia, ya.*

Referensi: jppn.com | detik | tirto.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini