Berjaya di Festival Internasional, Film Karya Anak Bangsa Raih Golden Leopard Award

Berjaya di Festival Internasional, Film Karya Anak Bangsa Raih Golden Leopard Award
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Kabar membanggakan kembali datang dari industri perfilman Indonesia. Salah satu karya yang disutradarai oleh Edwin, berjudul “Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash” (versi internasional dari “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”) berhasil meraih prestasi tertinggi di Festival Film Locarno Swiss.

Penghargaan Golden Leopard (Pardo d'Oro) yang diterima pada Sabtu (14/08) ini mengukuhkan “Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash” sebagai Film Terbaik di festival film tertua di dunia tersebut. Unggahan dari Instagram resmi Locarno Film Festival menampilkan sang sutradara, Edwin, ketika menghadiri pembukaan festival tersebut.

Peraih penghargaan tertinggi di Locarno International Film Festival 2021

Muhammad Zaidy Amirruddin, Produser | Locarno Film Festival/Marco Abram
info gambar

"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” berhasil meraih Piala Golden Leopard untuk kategori Film Terbaik pada festival yang dihelat pada 4 sampai 7 Agustus 2021 lalu. Joko Anwar, dalam pengunggahan video kemenangan film ini menyebutkan bahwa film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” adalah film Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan utama dari Locarno International Film Festival.

Ia juga menyebutkan bahwa prestasi ini mestinya menjadi pemicu bagi semua pembuat film Indonesia untuk menaikkan standar mereka. Dalam prosesnya, "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” bersaing dengan berbagai film kenamaan di dunia.

Salah satunya ialah “Zeros and Ones” yang dibintangi oleh aktor Ethan Hawke. Torehan prestasi yang diukirnya menjadi bukti bahwa film Indonesia tak kalah saing dengan film produksi negara lain.

Jajaran Penyanyi Indonesia Isi Soundtrack Film Superhero "Shang-Chi" Garapan Marvel

Angin segar bagi industri perfilman Indonesia di tengah pandemi

Dikabarkan, Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” diputar hingga empat kali di Locarno International Film Festival 2021. Tayangan ini juga disambut dengan meriah oleh para penonton, serta kritikus film internasional. Sejumlah media hiburan mancanegara bahkan turut memberikan ulasan positif untuk film ini.

Dilansir dari Jawa Pos, Edwin menyebutkan bahwa penghargaan Golden Leopard ini menjadi semacam vaksin, booster, atau vitamin yang diharapkan mampu menguatkan kembali film Indonesia dan segenap jiwa raga pecinta film indonesia di manapun mereka berada.

Melalui Kompas, sosok yang juga menjadi sutradara bagi film “Posesif” ini menambahkan, bahwa prestasi ini adalah kemenangan untuk cinta kita semua terhadap segala pengalaman sinema yang sudah pernah kita alami, juga untuk segala cita-cita, dan harapan kita semua atas bentuk-bentuk sinema yang akan datang.

Edwin berharap penghargaan ini dapat menjadi penyemangat sekaligus momentum untuk membangkitkan kembali gairah perfilman nasional, setelah sempat terjun bebas akibat terdampak COVID-19.

Rekomendasi Film Perjuangan untuk Rayakan 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Lahir dari novel Eka Kurniawan: kritik atas budaya toksik maskulinitas

Diangkat dari novel karya Eka Kurniawan dengan judul serupa, Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” menyajikan cerita unik bergenre action-drama dan black comedy dengan setting tahun 1980-an.

Sinema ini mengisahkan tentang tokoh utama bernama Ajo Kawir, seorang jagoan tak takut mati yang dikenal sebagai petarung handal. Hasrat besarnya untuk bertarung ini didorong oleh sebuah rahasia, yaitu impotensi yang dialaminya. Kehidupan Ajo Kawir kemudian berubah ketika ia babak belur setelah bertarung dengan perempuan tangguh yang kemudian dicintainya, bernama Iteung.

Film ini dibintangi oleh berbagai aktor dan aktris kenamaan Indonesia, yaitu Marthino Lio (Ajo Kawir), Ladya Cheryl (Iteung), Reza Rahadian (Budi Baik), Ratu Felisha (Jelita), dan Sal Priadi (Tokek).

Destinasi Wisata Bali yang Ditampilkan dalam Film "A Perfect Fit"

Dilansir dari Variety, kritikus Jay Weissberg menilai sinema ini menggunakan impotensi sebagai metafora untuk mengkritik secara luas budaya maskulinitas toksik dalam masyarakat yang menekankan pada kejantanan. Situs ini juga menambahkan, “suatu penghormatan bagi film laga Asia Tenggara tahun 1980-an yang dirancang sebagai kritik terhadap maskulinitas beracun (toxic masculinity)”

Tak cukup di situ, apresiasi dan pujian juga datang dari portal berita Eropa bernama Cineuropa yang menyebutkan bagaimana “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” menjadi tontonan yang menarik, baik dari segi cerita romansa, maupun tokoh-tokohnya.

Elizabeth Hittman, presiden juri dari Festival Film Locarno tahun ini juga menambahkan apresiasi melalui pernyataannya yang dilansir di akun Instagram @sepertidendamfilm.

"Kami tersentuh oleh eksplorasi maskulinitas dan feminitas yang sensitif dan subversif di dunia yang penuh dengan kekerasan dan macho," ucapnya.

Belum berhenti berpetualang, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” akan melanjutkan perjalanannya untuk memukau penikmat film seluruh dunia pada 9 hingga 18 September 2021 di Toronto International Film Festival (TIFF).*

Referensi: Tempo | Jawa Pos | Variety | Para Puan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini