Cikal Bakal Lahirnya Hari Orang Utan Internasional yang Jatuh Setiap Tanggal 19 Agustus

Cikal Bakal Lahirnya Hari Orang Utan Internasional yang Jatuh Setiap Tanggal 19 Agustus
info gambar utama

Orangutan menjadi salah satu jenis hewan yang diyakini memiliki tingkat kepintaran di atas rata-rata, melebihi jenis hewan lainnya yang ada di muka bumi.

Tak heran, menurut penelitian yang telah dilakukan dan dipublikasi oleh ScienceDaily, terungkap bahwa orang utan (orangutan/orangutans) memiliki kemiripan DNA mencapai 97 persen dengan manusia. Karena sebab itu pula, orang utan masuk ke dalam jajaran hewan spesial yang mendapat perhatian khusus hingga saat ini.

Sayangnya, keunggulan yang dimiliki oleh orang utan beserta keberadaannya sebagai hewan istimewa kian terancam seiring dengan populasinya yang kian menurun dan terancam mengalami kepunahan.

Di Indonesia sendiri, saat ini ada tiga spesies orang utan yang terancam punah bahkan masuk ke dalam daftar merah (red list category) IUCN dengan status kritis, yaitu orang utan sumatra (Pongo abelii), orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orang utan tanapanuli (Pongo tapanuliensis).

Adapun informasi detail mengenai karakteristik ketiga spesies orang utan tersebut dapat dilihat di bawah ini:

Fenomena dan penyebab berkurangnya populasi orang utan

Kehidupan orang utan berlangsung dengan baik pada awalnya, namun permasalahan mulai muncul di sekitar tahun 1990-an. Melansir data organisasi lingkungan internasional atau World Wide Fun for Nature (WWF), selama tahun 1992-2000, populasi orang utan sumatra menurun hingga 50 persen.

Bukan hanya itu, di saat yang bersamaan orang utan kalimantan juga mengalami penurunan populasi sebesar 43 persen pada rentang tahun 1996-2006, lebih tepatnya penurunan dari sebanyak 35.000 menjadi hanya 20.000 populasi.

Melansir Mongabay Indonesia, sedangkan berdasarkan penelitian berbeda yang dilakukan oleh Current Biology pada tahun 2018, diperkirakan ada sebanyak 148.500 populasi orang utan telah lenyap dalam 16 tahun di rentang waktu 1999-2015.

Bisa diduga, menurunnya populasi dalam jumlah besar tersebut dilatar belakangi dari adanya deforestasi hutan sebagai habitat asli orang utan itu sendiri, yang digantikan dengan pembangunan kebun kelapa sawit secara besar-besaran.

Hal lain yang membuat fenomena penurunan populasi dan ancaman kepunahan tak terelakkan adalah, kondisi alamiah orang utan yang sejatinya termasuk jenis hewan yang lambat dalam hal berkembang biak dibandingkan jenis primata lainnya.

Diketahui bahwa induk orang utan biasanya memiliki siklus melahirkan setiap tujuh hingga sembilan tahun sekali.

Mengapa demikian?

Hal tersebut rupanya sejalan dengan karakteristik anak dari orang utan yang biasanya masih tumbuh dan berkembang dengan bergantung pada induknya dalam kurun waktu yang sama, sehingga sang induk tidak mengalami kelahiran pada rentang waktu tersebut.

Seakan belum cukup, kondisi alamiah yang dimikili orang utan tersebut nyatanya berbanding terbalik dengan fenomena deforestasi hutan, yang justru terjadi dengan begitu cepat dari waktu ke waktu.

Karena itu, tidak heran jika ada beberapa ahli yang memprediksi bahwa dua dekade mendatang, keberadaan orang utan bisa saja menjadi hilang sama sekali.

Hal tersebut tentu menjadi mimpi buruk yang sangat dihindari, mengingat selain keberadaannya sebagai salah satu hewan spesial yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, orang utan nyatanya juga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem lingkungan dan regenerasi hutan.

Upaya pelestarian lewat peringatan Hari Orang Utan Internasional

Berkaca pada fenomena dan ancaman kepunahan yang terjadi, akhirnya digagas International Orangutan Day, atau Hari Orang Utan Internasional yang jatuh setiap tanggal 19 Agustus dan pertama kali diperingati pada tahun 2015.

Hari Orang Utan Internasional digagas dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga dunia, terhadap populasi orang utan agar dapat kembali meningkat.

Karena sejatinya, upaya pelestarian tidak bisa dilakukan secara parsial dan sendiri-sendiri oleh pihak tertentu, dibutuhkan juga keterlibatan pemerintah dan masyarakat di dalamnya dengan secara bersama-sama menggaungkan kampanye pelestarian hewan dari genus Pongo ini.

Bukan hanya itu, upaya pelestarian juga dilakukan dengan dibentuknya kawasan konservasi yang ditetapkan khusus untuk memelihara populasi orang utan yang tersisa. Di Indonesia, ada berbagai kawasan konservasi Orangutan yang masih berjalan dan berusaha memelihara populasi yang ada hingga saat ini.

Sisi baiknya, kawasan konservasi orang utan terbesar di dunia nyatanya ada di Indonesia sendiri, tepatnya di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, yang berada di wilayah Kalimantan Tengah dengan luas area yang diperkirakan mencapai 415.040 hektare.

Pada TN Tanjung Puting, diperkirakan terdapat sebanyak lebih dari 40 ribu populasi orang utan baik yang berada di dalam maupaun di luar cakupan kawasan konservasi.

Dengan adanya beberapa kawasan konservasi lain yang juga turut memelihara kelangsungan hidup orang utan, diharapkan populasinya dapat terus terjaga serta terhindar dari ancaman kepunahan, dan secepatnya bisa segera keluar dari status spesies berkategori kritis yang terdapat di daftar merah IUCN.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini