Kabar Baik, Populasi Badak Jawa Meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon

Kabar Baik, Populasi Badak Jawa Meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon
info gambar utama

Populasi badak jawa atau badak cula satu (Rhinoceros sondaicus) bertambah dengan kelahiran dua ekor anak Badak di Kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten.

Sebelumnya, Balai Taman Nasional Ujung Kulon sepanjang tahun 2021 ini mencatatkan kelahiran 4 ekor anak badak jawa. Anak badak jawa pertama dengan jenis kelamin betina (ID.083.2021) mulai terekam video kamera trap pada tanggal 18 Maret 2021.

Anak badak jawa itu terlahir dari induk bernama Ambu (ID.023.2011). Kelahiran ini merupakan yang kedua bagi induk badak Ambu setelah sebelumnya melahirkan pada tahun 2017.

Lalu, pada April dan Juni 2021 muncul 2 ekor anak badak jawa yang terekam kamera video trap Tim Monitoring Badak Jawa TNUK. Ini adalah kelahiran kedua di tahun 2021 setelah kelahiran pertama 2 ekor anak badak jawa di Maret 2021 lalu.

Berita gembira kelahiran spesies endemik ini muncul di saat kondisi negara sedang dilanda pandemi Covid-19 dan menjelang perayaan HUT ke-76 RI. Kelahiran badak jawa ini mencatatkan penambahan jumlah populasi badak jawa menjadi sebanyak 75 ekor.

Menyambut Luther dan Helen yang Lahir di Belantara Ujung Barat Jawa

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), KLHK, Wiratno menyatakan, kelahiran badak jawa di TNUK merupakan salah satu contoh keberhasilan upaya perlindungan penuh (full protection) badak jawa dan habitatnya di TN Ujung Kulon.

“Hal ini adalah bukti optimisme yang selalu disampaikan Ibu Menteri LHK Siti Nurbaya bahwa di Indonesia terus terjadi pertumbuhan flagship species,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (17/8/2021).

“Demikian juga optimisme bahwa tidak terjadi kepunahan seluruh flagship species di Indonesia, termasuk Badak Jawa,” tambahnya.

Dari 75 ekor badak yang hidup di Ujung Kulon, 43 ekor jantan dan 33 nya betina. Kemudian, ada 68 ekor dewasa dan 7 lainnya masih anak-anak. Empat ekor anak badak yang baru ditemukan pada 2021 belum diberi nama oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Balai TNUK akan menyodorkan nama badak jawa itu ke KLHK untuk diresmikan. Kelahiran empat ekor badak itu, menurut Kepala Sub Bagian (Kasubag) Tata Usaha (TU) Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Dudi Mulyadi membuat Balai TNUK semakin semangat untuk terus melestarikan badak langka di dunia itu.

"Harapannya kita tetap eksis mempertahankan dan tentu meningkatkan populasi badak jawa. Semoga peningkatan sarana prasaran di Taman Nasional Ujung Kulon juga selalu baik, sehingga bisa optimal digunakan di lapangan," ujarnya.

Habitat Ujung Kulon baik

Perkembangan populasi badak jawa di TNUK saat ini dalam kondisi baik. Pada September 2020 lalu, ada kelahiran anak badak jantan dan betina. Jantan bernama Luther, sementara betina dipanggil Helen.

Sebelumnya pada pertengahan 2020, Kepala Urusan Pengawetan, Pemanfaatan, dan Pelayanan Analis Data Taman Nasional Ujung Kulon, M. Syamsudin, mengatakan bahwa tren penambahan populasi badak jawa di Ujung Kulon dalam 9 tahun terakhir sedang bagus-bagusnya.

Data menunjukkan, pada 2011 hanya 35 individu badak jawa di TNUK. Nah pada 2019 tercatat sebanyak 72 individu dengan komposisi 39 jantan dan 33 betina.

“Artinya, dalam 9 tahun ini badak jawa bertambah 37 ekor,” tutur dia yang dikabarkan Mongabay.

Pada 2012, tercatat sebagai penambahan populasi paling banyak, yaitu 16 individu. “Data kami 2011 awalnya 35 individu, satu tahun kemudian bertambah angkanya menjadi 51 individu.”

Nasional Ujung Kulon yang Resmi Dibuka untuk Wisata

Pada 2013 tercatat 58 individu. Namun sayangnya pada 2014, angka itu berkurang satu disebabkan ada yang mati, total menjadi 57 individu. Kabar baik berlanjut pada 2015, jumlah badak jawa di Ujung Kulon bertambah 6 individu, sehingga ada 63 individu. Pada 2017, jumlahnya terpantau 67 individu.

Data pada 2019 tercatat 72 individu. “Komposisinya lebih banyak jantan,” jelasnya.

Sementara itu menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, melalui akun Facebook miliknya, Selasa (2/2/2021), temuan badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon itu membuktikan habitatnya dalam kondisi baik.

“Ini dikarenakan adanya penguatan sistem patroli kawasan yang rutin dilakukan dan kuatnya dukungan masyarakat desa sekitar TNUK membantu pelaksanaan protection dan monitoring badak,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya terdapat pula daya dukung utama ekologi atau jejaring kehidupan, seperti ketersedian pakan yang melimpah, kebutuhan mengasin, dan kondisi habitat yang relatif sangat baik di sekitar semenanjung Ujung Kulon.

“Sehingga kondisi itu menjadi daya dukung utama untuk perilaku berkembang terhadap populasi individu badak jawa di TNUK.”

Meski ada harapan bahwa kelangsungan hidup badak Jawa bisa dilestarikan, disebutkan bahwa badak jawa adalah spesies yang sensitif dan butuh perlindungan penuh.

"Agar tidak orang memasang jerat, dan hal lain yang mengganggu konservasi. Di Ujung Kulon ada hampir 100 kamera trap yang dipasang dan aktif. Setiap bulan baterainya diganti, sambil dilihat apakah ditemukan keberadaan badak," kata Wiratno, dalam Kompas.

Selain itu, tambahnya, patroli keliling TN Ujung Kulon juga dilakukan secara terus-menerus, agar kondisi badak bisa dipantau. Untuk badak, pemantauan dilakukan melalui kamera video jebak yang dipasang di beberapa tempat, seperti tempat badak berkubang.

"Karena badak ini kan tidak bisa dipasangai GPS (Global Positioning System), tidak seperti gajah. Kalau gajah bisa dipasangi GPS dan dipantau lewat smartphone bisa, baterai GPS-nya juga tahan dua tahun, sehingga ke mana gajah itu bergerak bisa dipantau," ujar dia.

Badak Indonesia yang terancam punah

Badak jawa merupakan mamalia dengan tinggi badan antara 1,28–1,75 meter. Bobot tubuhnya sekitar 1,6–2,28 ton. Meski penglihatannya tidak begitu tajam, akan tetapi pendengaran dan penciumannya sangat sensitif. Hal paling mudah ditandai adalah, cula sekitar 30 sentimeter berwarna abu-abu gelap ada di kepalanya.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi menetapkan, badak jawa merupakan satwa dilindungi. International Union for Conservation of Nature (IUCN), menetapkan badak jawa dalam status Kritis (Critically Endangered/CR) atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar.

Regulasi itu menjelaskan bahwa badak jawa ini tidak boleh disakiti, dibunuh, dipelihara, ataupun diperdagangkan. Bila hukum ini dilanggar, maka pelakunya akan dijerat hukuman penjara selama 5 tahun dan denda Rp100 juta.

Organisasi Konservasi Dunia atau World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, menyebutkan bahwa 2 dari 5 spesies badak yang kritis dan terancam punah di dunia saat ini hidup di Indonesia. Spesies pertama adalah badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula, dan spesies lainnya yang bertahan di hutan Indonesia adalah badak jawa (Rhinoceros sondaicus), yang hanya memiliki satu cula.

Fakta Menarik, Mengapa Kehidupan Badak Harus Kita Jaga

Kedua spesies ini bertahan dari ancaman kepunahan akibat penyempitan habitat, penyakit menular, hingga perburuan ilegal. WWF menyebut sama halnya seperti gajah yang diburu gadingnya, badak diburu untuk diambil culanya kemudian dijual ke pasar gelap. Perdagangannya, bahkan hingga ke pasar internasional dan ini merupakan tindak kejahatan transnasional.

Cula badak dipercaya sebagai obat tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, namun dalam kenyataannya hal tersebut tidak terbukti secara ilmiah. Cula badak tersusun dari zat keratin sama halnya seperti kuku dan rambut manusia sehingga tidak memiliki khasiat apapun.

Menilik status keterancaman badak jawa, dan juga badak sumatra, jika mengacu pada 'daftar merah' IUCN masuk ke dalam kategori terancam kritis (CR), yakni kategori satu tingkat di bawah punah di alam, menjadi keniscayaan agar upaya konservasi serius harus dilakukan guna melindungi satwa ini.

Perlindungan badak jawa mutlak dilakukan agar tidak mengikuti jejak kepunahan harimau bali (Panthera tigris balica) dan harimau jawa (Panthera tigris sondaica).

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini