Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores

Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores
info gambar utama

“…dari apa yang saya temui, permasalahan literasi yang ada itu bukan soal minatnya yang rendah, melainkan masalah kemudahan akses dan fasilitas yang bisa dijangkau anak-anak untuk membaca” ungkap Iin Herlina Dewi, sosok yang membagikan kisah aksi sosialnya di Ende, Flores, NTT.

Minggu pagi (22/8/2021), dengan penuh antusias Iin berbagi cerita pada GNFI mengenai awal mula dirinya memiliki tekad dan niat mulia meningkatkan literasi di Flores, khususnya pada berbagai wilayah pedalaman yang ada di pulau tersebut.

Iin sebetulnya berasal dari wilayah Pesisir Selatan di Sumatra Barat. Sebelum berlabuh ke Flores, dirinya terlebih dahulu berpindah ke Medan pada tahun 1995 untuk menempuh pendidikan, bersamaan dengan kepindahan keluarga besarnya.

Pada awal tahun 2014, Iin menikah dengan seorang pria asal Blora yang memiliki pekerjaan di Ende, Flores, dan pada akhirnya membuat dia ikut berpindah ke pulau tersebut. Siapa sangka, kepindahan tersebut nyatanya menjadi awal mula dari langkah besar yang Iin lakukan untuk berperan meningkatkan literasi bagi anak-anak di Flores.

Tak Ada Gawai dan TV, Guru Ujang Setiawan Keliling Rumah Murid untuk Bantu Belajar

Berawal dari keprihatinan masa kecil yang tidak ingin terulang

Iin dan Rumah Baca Mustika
info gambar

Semangat Iin dalam menceritakan perjalanan yang dilalui kepada GNFI sama besarnya dengan semangat yang ia miliki dalam membangun literasi di Flores. Wanita yang sebelumnya berprofesi sebagai dosen selama menetap di Medan ini, ternyata memang sudah memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap buku sejak masih kecil.

Iin bercerita, saat ia masih ada di bangku sekolah dasar sekitar tahun 1980-an, akses untuk bisa mendapatkan buku bisa dibilang masih sangat sulit dan terbatas. Lokasi tempat tinggalnya yang berada di perkampungan, membuat satu-satunya fasilitas membaca hanya bisa ditemui pada sebuah sudut di ruang sekolah yang dinamakan perpustakaan.

Pada akhirnya, salah satu kesempatan membaca yang bisa Iin dapatkan dimiliki dalam suatu kegiatan rutin seminggu sekali, tepatnya saat sang Ibu berbelanja ke pasar setiap hari Sabtu.

Dirinya selalu antusias menunggu kepulangan ibunya dari pasar. Ketika sampai, dirinya langsung mengambil belanjaan dari tangan sang ibu dan membongkar semuanya hanya untuk mencari sayuran atau bahan dapur yang dibungkus oleh kertas koran.

“Jadi begitu sampai, saya taruh semua belanjaannya, saya bongkar, kemudian saya ambil semua kertas-kertas koran yang dijadikan pembungkus, lalu saya ke belakang rumah cari tempat nyaman untuk membaca isi koran-koran tersebut, pokoknya apapun yang bisa dibaca saya baca…” kenang wanita 45 tahun itu.

Padahal, Iin sendiri tidak memahami sepenuhnya isi atau tulisan dari koran-koran tersebut yang kebanyakan berisi berita ekonomi, politik, dan sebagainya.

“Saking pengennya membaca, tapi tidak ada yang bisa dibaca, jadi saat itu kalau nemu bahan bacaan perasaannya seperti gimana gitu, bahagia sekali…” tambah Iin.

Memiliki kenangan masa kecil seperti itu, nyatanya menjadi hal yang paling diingat oleh Iin saat pertama kali menginjakkan kaki di pedalaman Ende.

Semangat Dewi untuk Indonesia, Dorong Anak Muda Mengabdi Bagi Negeri di Tengah Pandemi

Awal mula tergugah membangun Rumah Baca Mustika

Rumah Baca Mustika
info gambar

Saat pertama kali sampai di tanah Flores, Iin tak menampik bahwa dirinya sempat tidak memiliki relasi terdekat. Hanya tinggal bersama sang suami yang bekerja, dirinya mengungkap sempat dilanda kebinggungan dalam kurun waktu 1-2 tahun.

“Karena sebelumnya saya kan biasa mengajar sebagai dosen, begitu pindah di rumah saja tidak ada kegiatan jadi seperti ada yang aneh, sempat ada di masa kesulitan untuk berbaur dengan tetangga mungkin karena masih belum terbiasa dengan daerah baru waktu itu…” paparnya.

Namun seiring berjalannya waktu, Iin dan suaminya mulai aktif berhubungan dengan orang-orang sekitar. Di awal tahun 2017 dirinya aktif bergabung dengan komunitas backpacker, komunitas pencinta alam dan lainnya untuk melakukan perjalanan bersama-sama menjelajah wilayah Flores lebih jauh, terutama ke wilayah-wilayah pedalaman.

Dalam satu kesempatan, Iin dan teman sesama anggota komunitas melakukan aksi bakti sosial (baksos) di salah satu wilayah pedalaman Flores, salah satunya kegiatan penyerahan buku kepada Sekolah Satu Atap.

Namun, ada satu hal yang membuat hati Iin kurang nyaman. Pada kesempatan tersebut, buku-buku yang diberikan ternyata buku pelajaran untuk tingkat SMA. Padahal, anak-anak yang berada di sekolah tersebut nyatanya ada di kisaran usia SD hingga SMP.

“Jadi saya merasa seperti ada yang mengganjal, kok gak tepat rasanya, kita maunya baksos tapi yang benar-benar manfaat sesuai sasaran…” tuturnya.

Seakan belum cukup, keterkejutan Iin ditambah dengan kemampuan literasi anak-anak yang ia temui di wilayah pedalaman tersebut.

“Di saat yang bersamaan saya kaget sekaligus seperti merasa Déjà vu. Waktu itu kan sudah tahun 2014, tapi kenapa ketertinggalannya jauh sekali seperti kembali ke masa puluhan tahun yang lalu, sampai-sampai saya merasa seperti kembali lagi ke masa kecil yang waktu itu mau membaca saja rasanya susah sekali, timpangnya jauh sampai puluhan tahun…” beber Iin.

Memang, jika menilik pada wilayah perkotaan jelas semua sudah serba maju seperti wilayah di perkotaan Indonesia lain pada umumnya. Namun, hal sebaliknya justru Iin temui saat masuk ke wilayah-wilayah pedalaman.

Akhirnya pulang dari baksos yang diikuti, Iin memiliki tekad untuk membuat suatu pergerakan yang bisa bermanfaat bagi anak-anak di wilayah pedalaman Flores, khususnya Ende.

“Setidaknya ada sesuatu yang harus saya bangun, ada sesuatu yang harus saya lakukan, bismillah…” terang Iin yang berhasil membentuk Rumah Baca Mustika hingga saat ini.

Langsung bergerak cepat, Iin melakukan pencarian berbagai informasi yang bisa mewujudkan keinginan yang ia miliki, akhirnya Iin mendapat info mengenai akses pengiriman buku gratis dari Pos Indonesia.

Dibarengi dengan usaha lainnya, Rumah Baca Mustika yang dibangun Iin akhirnya terdaftar di instansi bawahan Kemdikbud untuk mendapatkan program donasi buku gratis.

Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan di Nabire, Papua

Kelangsungan Rumah Baca Mustika hingga saat ini

Kegiatan berbagi Rumah Baca Mustika
info gambar

Pada bulan pertama keberadaannya, Iin mengungkap bahwa ada kiriman buku sebanyak 150 kilogram yang ia terima. Hal tersebut berhasil dicapai berkat usaha Iin menghubungi rekan-rekannya yang berasal dari luar wilatah Flores seperti Jawa, Sumatra, dan lain sebagainya.

Di bulan-bulan berikutnya buku yang datang juga semakin bertambah, pernah di satu waktu jumlah buku yang terkumpul mencapai setengah ton banyaknya.

“Jadinya waktu itu rumah udah bukan kaya rumah lagi, tapi seperti gudang buku…” jelas Iin.

Dari sekian banyak buku yang berhasil terkumpul, Iin bersama suaminya menyortir buku yang ada. Sesuai fungsinya, beberapa buku dibagikan kembali pada komunitas-komunitas literasi yang kekurangan akses buku untuk anak-anak di usia pendidikan lebih tinggi.

Untuk rumah baca yang dimiliki Iin sendiri, dirinya lebih fokus meningkatkan literasi murni buku bacaan bagi anak-anak di kisaran usia SD. Sedangkan buku-buku yang dikirimkan lagi mayoritas berupa buku pelajaran yang dikirimkan ke wilayah pedalaman lain seperti Papua, Sulawesi, dan sebagainya.

Mengenai situasi semenjak pandemi melanda, Iin mengungkap bahwa Rumah Baca Mustika yang ia miliki memang mau tidak mau harus tutup. Namun, bukan berarti itu akhir dari segalanya, dalam kondisi tersebut Iin bersama dengan sang suami yang justru mengantarkan fasilitas membaca kepada anak-anak yang berada di wilayah pedalaman.

Aksi berbagai Rumah Baca Mustika
info gambar

“…kita kan tetap harus mematuhi peraturan pemerintah demi kebaikan bersama, tapi pada akhirnya ya saya dan beberapa kawan juga tetap bertekad untuk mengantarkan fasilitas dan akses membaca kepada anak-anak yang berada di bawah pedalaman…” jelas Iin.

“…Jadi selama ini saya dan yang lain juga biasanya melewati gunung, ke masyarakat di pesisir laut, buat menjangkau anak-anak di pedalaman sebelum pandemi melanda, bagian itu yang justru paling saya senangi, bisa memberi fasilitas yang sama bagi mereka yang mungkin gak memiliki kesempatan seperti ini kan rasanya luar biasa sekali..” tambahnya.

Upaya meningkatkan literasi kepada masyarakat pelosok tetap dilakukan di tengah pandemi, dengan terlebih dahulu meminta izin dari pihak yang berwenang dalam hal ini pemerintah desa, atau Mosalaki, lembaga adat yang berada di Ende.

“Kalau mereka memberi izin baru kita masuk, mereka juga bilang bahwa anak-anak di daerahnya banyak yang bosan karena sudah lama tidak sekolah dan membaca, padahal senang. Jadi kita tetap masuk tapi dengan prokes yang ketat, pakai masker, mencuci tangan, bahkan kita bagikan juga masker untuk anak-anak selama ikut pelajaran membaca dengan kita..” tutur Iin.

Di akhir pembicaraan, Iin mengungkap bahwa ia juga sempat ada di kondisi terpapar Covid-19 dan membuat kegiatan pengajaran membaca harus terhenti. Setelah kembali pulih, dirinya mengungkap bahwa hal pertama yang paling ia tunggu adalah kembali bertemu anak-anak yang memiliki semangat membaca di daerah pelosok.

“Walau harus naik gunung dan menyebrangi sungai, tapi rasanya senang. Bahkan kemarin sewaktu sudah sembuh dan ada donatur yang ingin menyumbang untuk kegiatan 17 Agustus, saya langsung bilang wah ini imun saya bisa langsung naik 1.000 persen karena ada kegiatan untuk anak-anak ini…” pungkasnya.

Carlos Ferrandiz, Penjamin Kehidupan Masyarakat Desa Hu’u di Pulau Sumbawa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini