Pesona Pemandian Air Panas Sipoholon di Tapanuli yang Mirip Pamukkale Turki

Pesona Pemandian Air Panas Sipoholon di Tapanuli yang Mirip Pamukkale Turki
info gambar utama

Selain Cappadocia yang terkenal dengan balon udaranya, salah objek wisata tersohor di Turki ialah Pamukkale. Di sana terdapat sumber mata air panas yang berwarna biru kehijauan dalam kolam-kolam berundak. Pada dasar dan dinding kolam alami tersebut berwarna putih bersih seperti kapas. Tak heran bila banyak orang menyebutnya sebagai Cotton Castle atau kastil kapas.

Pemandangannya memang sangat mengagumkan dan unik. Namun, tak perlu jauh-jauh ke Turki untuk melihat suasana serupa, sebab di Indonesia juga ada tempat yang bisa dibilang mirip. Namanya Air Panas Sipoholon.

Objek wisata eksotis ini berlokasi di Situmeang Habinsaran, Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Letaknya tak jauh dari Kota Tarutung, sekitar 38 menit berkendara. Bila dari luar kota dan terbang ke Bandara Silangit, waktu tempuhnya sekitar satu jam sampai di Sipoholon.

Namun, Anda juga bsia berangkat dari Medan. Jalurnya akan melewati Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Parapat, Porsea, Balige, Siborongborong, dan sampai ke Sipoholon.

Air Panas Sipoholon biasa menjadi tujuan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, untuk bersantai, menikmati suasana yang tenang, dan membuat tubuh lebih rileks setelah lelah beraktivitas.

Kabupaten Ngada, Pilihan Destinasi Wisata di NTT Selain Labuan Bajo

Pamukkale versi Tapanuli Utara

Sumber air panas di sana berasal dari pusat mata air perut bumi. Saat mengunjunginya langsung, Anda akan merasakan bau belerang begitu menusuk hidung. Namun, wisatawan tetap menikmati mandi air panas di sana karena kandungan belerangnya dipercaya berkhasiat untuk kulit, seperti melembutkan, menyembuhkan penyakit kulit, dan membuat kulit lebih sehat.

Air Panas Sipoholon sendiri terjadi akibat letusan Gunung Martimbang ratusan tahun lalu dan air panas dengan kandungan belerangnya terus mengalir di sana hingga saat ini. Untuk suhu air panasnya, berkisar antara 40-70 derajat Celsius.

Untuk kolam pemandian alaminya membentuk oval dengan diameter sekitar 25 meter dengan kedalaman 0,5-2,5 meter. Di sana terkenal dengan airnya yang seperti soda dan sangat jernih serta segar. Masyarakat sekitar juga menyebutnya sebagai aek rara, yang berarti air merah. Ini karena warna air di sana nyaris kemerahan seperti karat.

Untuk mengunjungi sumber air panas tersebut, pengunjung harus naik ke bukit kapur. Tenang, letaknya tak jauh dari area parkir dan jalan raya, sekitar 30-50 meter saja. Namun, perlu diingat bahwa jalan masuknya akan sedikit mendaki dan melewati batu kapur yang dialiri dengan air panas.

Bila dilihat dari jalan raya, objek wisata ini tak terlalu nampak jelas. Jadi, pengunjung bisa masuk ke dalamnya melalui warung-warung atau rumah makan yang letaknya ada di jalan raya. Kemudian, bisa membeli makanan atau minuman, dan lewat ke belakang untuk sedikit mendaki ke pemandian air panasnya.

Bahkan, ada beberapa rumah makan yang punya kolam pemandian air panas sendiri lho dengan ukuran yang lebih kecil. Biasanya, kolam-kolam kecil ini diminati pengunjung yang ingin berendam bersama kelompok kecil sehingga tak berbarengan dengan rombongan lain.

Menelusuri Hutan Gambut dan Danau Eksotis di Taman Nasional Zamrud

Pesona bukit batu kapur yang memanjakan mata

Selain kolam-kolam pemandian air panas, daya tariknya juga beruba bukit batu kapur yang berasal dari endapan belerang yang terkandung dalam air dan menutupi permukaan tanah. Dari endapan tersebut, perlahan mulai menebal, mengeras, dan tampak seperti batu.

Perpaduan bukit kabur dengan air berwarna biru kehijauan ini sungguh memukau. Bahkan, bila tak ingin bermain air di sana pun, pengunjung bisa sekadar menikmati pemandangan sambil berfoto-foto.

Jika sudah lelah bermain-main, di sekitaran tempat wisata juga terdapat beberapa warung dan rumah makan untuk beristirahat dan mengisi perut. Selain itu, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh khas Tarutung, yaitu kacang sihobuk.

Sangat mudah menemukan penjual kacang sihobuk di sekitaran Sipoholon. Kudapan ini berasal dari Desa Sihobuk, Tarutung, Tapanuli Utara. Sekilas, bentuknya mirip kacang tanah yang biasa kita temukan di supermarket. Namun, kacang tanah di sana dimasak dengan cara disangrai menggunakan pasir sampai bagian kulitnya garing dan bagian kacang di dalamnya pun matang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini