Mengenal Satelit Satria-1, yang Diklaim Mampu Suplai Koneksi Internet Merata di Indonesia

Mengenal Satelit Satria-1, yang Diklaim Mampu Suplai Koneksi Internet Merata di Indonesia
info gambar utama

Seiring berjalannya waktu, teknologi yang digunakan untuk menghubungkan komunikasi suatu wilayah tidak lagi hanya bergantung pada keberadaan sistem telekomunikasi seluler sederhana. Konektivitas internet menjadi hal utama dalam melancarkan sistem komunikasi yang kian dibutuhkan kehadirannya.

Perkembangan tersebut berjalan bersamaan dengan pengembangan infrastruktur, salah satunya satelit yang terus mengalami pembaruan dari waktu ke waktu.

Memiliki sejumlah satelit yang sudah beroperasi, Indonesia saat ini diketahui sedang menggarap rangkaian proyek satelit baru yang digadang-gadang akan menjadi satelit terbesar di kawasan Asia, yaitu Satelit Republik Indonesia (Satria).

Proyek ini sendiri sebenarnya sudah berjalan sejak akhir tahun 2019 dengan menggandeng perusahaan satelit asal Prancis, Thales Alenisa Space, pihak yang sebelumnya kerap membangun rangkaian satelit Palapa milik Indonesia.

Berbeda dengan satelit-satelit sebelumnya yang dibuat dengan tujuan mencukupi kebutuhan telekomunikasi seluler sederhana, rangkaian proyek Satria diharapkan mampu mencukupi keutuhan internet dan bisa menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, terluar, serta daerah perbatasan di tanah air.

Sudah sejauh mana proyek pembangunan satlit Satria saat ini?

Siap-siap. Indonesia Akan Bangun Satelit Terbesar di Asia

Target peluncuran dan detail pembiayaan

Menteri Kominfo, Johnny G. Plate
info gambar

Rangkaian proyek Satria pertama diawali dengan pembuatan satelit Satria-1 yang ditargetkan meluncur pada kuartal III 2023, tepatnya di bulan November.

Pembangunan satlet Satria-1 berjalan dengan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang diwakili Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementrian Komunikasi, dengan konsorsium Pasifik Satelit Nusantara sebagai pemenang tender.

Di saat yang bersamaan, dalam rilis Kementerian Komunikasi dan Informastika (Kemkominfo), tidak hanya bekerja sama dengan Thales Alenisa Space, pihak Indonesia juga menyatakan sudah bertemu dan bekerja sama dengan SpaceX, penyedia roket yang akan meluncurkan SATRIA-1 ke orbit menggunakan rocket launcher Falcon 9-5500. Nantinya, satelit ini akan menempati slot orbit 146 Bujur Timur.

Dalam rilis yang sama, Menkominfo Johnny G. Plate juga menjelaskan mengenasi skema pembiayaan dan dana yang digelontorkan untuk proyek perdana Satria ini.

Capital expenditure proyek ini sebesar 545 juta dollar AS, atau setara dengan Rp7,68 triliun,” ungkap Johnny.

Adapun nilai dari proyek tersebut terdiri dari porsi ekuitas sebesar 114 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,61 triliun, dan porsi pinjaman sebesar 431 juta dolar AS atau setara dengan Rp6,07 triliun.

“Pinjaman ini didanai oleh sindikasi BPI France (Bank Kredit Ekspor Perancis) dan didukung oleh Banco Santander, HSBC Continental Europe, dan The Korea Development Bank (KDB). Porsi pinjaman komersial didanai oleh KDB dan bersama dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB),” tambahnya.

Pertama di Asia Tenggara, Mengenal 10 Generasi Satelit Palapa Milik Indonesia

Target konektivitas internet yang disuplai oleh Satria-1

Ilustrasi Proyek Satelit Multifungsi Indonesia
info gambar

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, rangkaian proyek satelit Satria sejatinya diproyeksikan dapat memberi koneksi internet yang lebih baik dan merata ke seluruh wilayah di Indonesia termasuk wilayah-wilayah pelosok.

Nantinya, Satria-1 akan digunakan untuk penyediaan akses internet berkapasitas 150 Gigabyte per detik untuk 150 ribu titik layanan publik yang belum tersedia akses internet dari total 501.112 titik layanan publik di Indonesia.

“Fasilitas internet pada 150 ribu titik layanan publik tersebut terdiri dari 3.700 fasilitas kesehatan, 93.900 sekolah dan pesantren, 47.900 kantor desa dan kelurahan, serta 4.500 titik layanan publik lainnya,” jelas Johnny.

Di balik besarnya biaya yang diperlukan untuk membangun proyek Satria-1, hal tersebut diyakini sebagai langkah paling tepat untuk menghubungkan konektivitas di berbagai pelosok tanah air.

Sebagaimana Indonesia yang merupakan nengara kepulauan dengan banyak wilayah perbukitan, kondisi tersebut menjadi kendala dalam menghadirkan konektivitas internet lewat jaringan fiber optic karena tingkat kesulitan dan biaya yang lebih tinggi, sehingga pengadaan satelit merupakan satu-satunya solusi terbaik.

Pembangunan proyek Satria-1 ini juga diproyeksikan mampu menghemat anggaran negara dalam pengadaan infrastruktur internet selama 15 tahun kedepan, dengan total penghematan biaya sebesar Rp29 triliun yang berasal dari berbagai sektor seperti eGovernment, eEducation, dan eHealthcare.

Internet Makin Ngebut karena Indonesia Bakal Tambah 3 Satelit Lagi

Pembangunan infrastruktur penunjang

Groundbreaking fasilitas Satelit Satria-1 di Cikarang
info gambar

Pada Rabu (18/8/2021), Johnny diketahui menghadiri proses peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan sejumlah fasilitas pendukung dari satelit Satria-1 yaitu ruang kendali yang salah satunya berlokasi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Selain lokasi tersebut, sejumlah ruang kendali lainnya juga akan dibangun di berbagai daerah, yaitu Batam, Banjarmasin, Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manokwari, Timika, dan Jayapura.

Sementara itu, konstruksi penunjang lain sebenarnya sudah berjalan sejak tahun lalu tepatnya pada 3 September 2020. Adapun progres kemajuan konstruksi satelit Satria-1 hingga saat ini dilaporkan telah mencapai 30 persen.

“Proyek satelit Satria-1 ini merupakan bentuk nyata upaya pemerintah melalui Kominfo untuk menyediakan konektivitas yang inklusif dan merata hingga ke seluruh pelosok negeri” pungkas Johnny.

Satelit Voyager dan Kebudayaan Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini