Ujungan: Seni Sabet Rotan Asal Bekasi untuk Pertaruhan Harga Diri

Ujungan: Seni Sabet Rotan Asal Bekasi untuk Pertaruhan Harga Diri
info gambar utama

Mendengar kata 'Bekasi', pasti Kawan tak akan asing lagi. Kota yang menjadi salah satu tempat mengadu nasib para perantau agar dapat bekerja di berbagai macam industri. Bahkan, Bekasi digadang-gadang sebagi kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.

Ada beberapa kawasan industri yang cukup terkenal di Bekasi. Ada nama Cikarang yang menjadi salah satu kecamatan penghasil kawasan industri. Misalnya kawasan MM2100, Kota Jababeka, East Jakarta Industrial Park (EJIP), Lippo Cikarang, dan masih banyak lagi.

Namun, di sisi lain sebagai kawasan industri, ternyata Bekasi mempunyai kesenian bela diri. Tak banyak yang tahu memang. Bukan tanpa sebab, kesenian yang ada di Bekasi tertutup dengan informasi kawasan industri. Sebelum mengulik kesenian ini, kita harus mengetahui terlebih dahulu kebudayaan yang mempengaruhi kesenian di Bekasi.

Sejarah yang membentuk kebudayaan Bekasi

Bekasi tempoe doeloe | Foto: Histori.id
info gambar

Secara etnogeografis, terdapat tiga kelompok etnik yang cukup dominan di Bekasi karena diapit oleh Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Mulai dari etnik Sunda, etnik Betawi, dan etnik Jawa-Banten. Berdasarkan pembagian wilayah budaya tersebut, Bekasi terbentuk tiga tipologi kebudayaan, yaitu kebudayaan Sunda dengan sistem perairan sawahnya, kebudayaan Betawi, dan kebudayaan Banten dengan budaya pesisirnya.

Etnik lain pun juga memasuki Bekasi. Ada etnik Batak, Ambon, Bali, Cina, dan Arab. Etnik Cina dan Arab kebanyakan tempat tinggal dan domisilinya di daerah perdagangan sehingga tampil menonjol di bidang perekonomian.

Aspek sosial budaya yang menjadi tolok awalan munculnya kebudayaan Bekasi. Sebelumnya, penduduk Bekasi di dominasi oleh suku Sunda yang secara tidak langsung juga mempengaruhi kehidupan mereka secara keseluruhan. Dalam menjalani aktivitas, seperti cara berkomunikasi menggunakan Sunda.

Kisah Iin Herina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Pelosok Flores

Namun, seiring majunya zaman yang ditandai dengan era globalisasi, Bekasi pun juga merasakannya. Perkembangan yang begitu pesat dalam proses migrasi, berdampak pula pada unsur kebudayaan luar yang berkembang di Bekasi. Dengan mudahnya Bekasi terkena imbas budaya Betawi yang masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk faktor bahasa.

Pada zaman kerajaan, Bekasi disebut dengan Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri yang merupakan ibu kota Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini memiliki wilayah yang cukup luas, seperti Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor hingga ke wilayah Sungai Cimanuk.

Dayeuh Sundasembawa dikenal sebagai tempat asal dari Maharaja Tarusbawa (669-723 Masehi) yang merupakan pendiri Kerajaan Sunda dan menjadi tempat para penerusnya. Wilayah Bekasi tercatat sebagai daerah yang memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda. Tercatat telah ditemukannya empat prasasti yang dikenal dengan Prasasti Kebantenan, berasal dari keputusan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 Masehi).

Setelah melihat pendahuluan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bekasi baik dari segi sosial budaya, geografis, dan sejarah memiliki kedekatan yang erat dengan budaya Sunda. Namun, itu semua tak dapat dipungkiri kalau Bekasi telah melewati masa migrasi dari warga DKI Jakarta. Hal itulah yang menyebabkan akulturasi budaya dan penyerapan budaya baru dari Betawi.

Asal kesenian Ujungan

Kesenian yang bisa dibilang dipengaruhi oleh budaya Betawi dan Sunda adalah Ujungan. Ujungan merupakan kesenian bela diri yang unik bertujuan untuk mempertaruhkan harga diri dan perebutan status sosial. Dikenal pada tahun 1980 hingga 1990-an, kesenian ini menggunakan tongkat, dipadukan dengan musik dan tari.

Kata 'ujungan' sendiri berasal dari bahasa Sunda. Kata 'jung' berarti dari lutut ke bawah, berkembang menjadi ujung berarti kaki. Dari beberapa tokoh Ujungan Bekasi mengatakan bahwa ujungan berasal dari kata Ujung (bongkot, bahasa dialek Bekasi), baik ujung rotan maupun ujung kaki.

Di Betawi, ujungan memiliki nama lain seperti Sabet Rotan dan Gitikan. Di Desa Srijaya, Kampung Gabus, Tambun Utara, kata ujungan diistilahkan dengan Pencug Ujung. Namun, sebagian besar masyarakat Betawi mengenalnya sebagai ujungan.

Ritual Naik Dango, Bentuk Syukur Atas Hasil Panen Padi Suku Dayak

Praktik kesenian Ujungan

Potret kesenian Ujungan | Foto: budaya-indonesia.org
info gambar

Ujungan memiliki tiga unsur seni, yaitu aitu bela diri yang dimiliki para pemain, tari yang diperlihatkan dalam uncul, serta musik berupa instrumen perkusi sampyong dan tok tok sebagai wadrita pengiring ujungan dan uncul. Alat musik Sampyong berbahan kayu dan sejenis dengan gambang, kemudian digantikan oleh gamelan.

Sampyong dimainkan bersamaan dengan masuknya pengibing pencak silat atau disebut uncul ke arena. Pengibing akan berjalan mencari penantang. Jika ada orang yang menerima tantangan, ujungan akan dimulai.

Tok tok juga menyertai atraksi uncul dan ujungan yang berbahan baku bambu seperti kentongan. Alat ini berfungsi sebagai pengatur ritme musik dalam menggiring gerakan petarung Ujungan. Di beberapa tempat, tok tok diganti alat musik kecrek.

Pemenang akan menantang penonton. Begitu seterusnya sampai petarung disebut jawara Ujungan karena tidak ada yang berani menantang. Seni ini berkembang dari tradisi para pendekar dalam menyeleksi yang terkuat di antara yang paling kuat.

Pemain Ujungan akan saling berhadapan menggunakan rotan yang dimainkan berdasarkan teknik pencak silat masing-masing. Sasarannya pinggang ke bawah, di luar area vital, dan fokus utamanya adalah tulang kering dan mata kaki. Ukuran rotannya pun bervariasi, berkisar 40 hingga 125 sentimeter dengan diameter sebesar lengan bayi.

Saat permainan, ujung jari kaki harus diperhatikan dan dipertahankan agar tidak terkena ujung rotan. Sebab, akan menimbulkan luka berat jika terkena pukulan penjug. Menariknya dalam permainan ini, yang perlu diperhatikan adalah ujung rotan dan ujung kaki.

Ini Alasan Berbagai Bisa Dilakukan Kapan Saja Oleh Siapa Saja

Pertandingan akan dipimpin wasit yang disebut boboto. Biasanya, boboto dipilih berdasarkan kekuatan atau kesaktian yang diatas rata-rata dan merupakan tokoh sesepuh. Kehadirannya diperlukan untuk menengahi para petarung yang dapat lepas kendali.

Tokoh yang dikenal sebagai jawara dan pelestari ujungan di Bekasi adalah Abah Natrom. Selain itu, ada pula Ki Dalih atau panggilan akrabnya Babab Dalih. Ia terkenal merajai Ujungan dari Cikarang, Cakung, Betawi hingga Tangerang di era 1950-an.

Pada zaman penjajajahan, ujungan diajarkan kepada pemuda untuk menumbuhkan mental perlawanan dan tidak takut terhadap penjajah saat itu. Tahun 1960-an ujungan dilarang oleh pemerintah karena dianggap permainan sadis.

Pada perkembangan selanjutnya, ujungan tidak lagi dikenal sebagai tempat untuk menyeleksi jawara. Namun, hanya sebagai hiburan rakyat semata. Saat ini, ujungan akan mengalami kepunahan.

Padahal, bela diri ini merupakan kesenian Sunda dan Betawi yang sudah memiliki umur cukup lama. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, menamkan rasa persaudaraan, dan sportivitas.*

Referensi: Kumparan | Sejarahjakarta | histori.id | Jurnal Sejarah Sosial Kota Bekasi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini