Ngayau, Tradisi Masa Lalu Suku Dayak yang Dikenal Sebagai Pemburu Kepala

Ngayau, Tradisi Masa Lalu Suku Dayak yang Dikenal Sebagai Pemburu Kepala
info gambar utama

Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi. Hampir semua daerah dan suku bangsa punya tradisi yang telah ada sejak zaman dahulu. Beberapa di antaranya masih terjaga dan tetap dilestarikan, tetapi ada pula yang sudah jadi bagian dari sejarah masa lalu.

Salah satu tradisi yang bikin merinding adalah ngayau. Ini adalah tradisi Suku Dayak di Kalimantan yang sadis dan menyeramkan. Pada masa lalu, mereka seringkali berburu kepala manusia untuk dipenggal dan membawa kepala-kepala itu pulang ke rumah.

Tradisi ngayau atau kayau ini bermula di Dusun adat Pamangka yang terletak di pelosok Barito Selatan. Dusun ini keberadaannya terhubung dengan asal muasal kerajaan purba, Nan Sarunai, di Amuntai. Ada dua suku, yang masih bagian dari Suku Dayak, yang memiliki adat ngayau, yaitu Suku Iban dan Suku Kenyah.

Tari Hudoq, Tradisi Suku Dayak Meminta dan Mensyukuri Hasil Panen Melimpah

Memenggal kepala musuh demi kebanggaan

Suku Dayak telah berburu kepala secara turun-temurun dan tradisi ini dipenuhi dengan dendam serta pembuktian diri. Memang sadis betul, misalnya seorang anak yang ayahnya dibunuh, maka ia akan balas dendam pada keluarga si pembunuh dan menebas kepalanya lalu membawanya pulang ke rumah. Karena sudah tradisi, ngayau terus berlangsung sampai generasi selanjutnya.

Bisa juga saat ada orang Suku Dayak mau menikah, tetapi calon pasangannya beda sub suku. Maka pihak perempuan akan meminta beberapa syarat, salah satunya adalah satu kepala dari keluarga laki-laki.

Anak laki-laki Suku Dayak pun harus melakukan ngayau agar dapat memberi kebanggaan pada keluarga dan mendapatkan pengakuan sebagai bujang pemberani. Dengan memiliki ‘gelar’ tersebut, si pemuda juga jadi punya nilai tambah bila ingin menikahi gadis pilihannya.

Saat berburu kepala, biasanya dilakukan bersama kelompok, baik kecil maupun besar. Namun, pastinya mereka akan memenggal kepala musuh dalam keadaan hidup sebab kepala dari orang mati tak dianggap berharga.

Setelah kepala dipenggal dan dibawa pulang, rambutnya akan diambil dan dijadikan sebagai hiasan perisai dan gagang pedang. Sedangkan kepala-kepala tersebut akan dikeringkan dan digantung di depan rumah sebagai lambang keberanian, kebanggaan keluarga, dan kekuatan magis untuk menolak bala.

Tiwah, Upacara Kematian Suku Dayak untuk Mengantar Arwah ke Surga

Ngayau bagi Suku Iban dan Kenyah

Bagi Suku Dayak Kenyah, ngayau juga berkaitan dengan tradisi mamat. Saat para prajurit kembali dari perburuan dan mengalahkan musuh, mereka akan disambut dengan tradisi mamat bali akang yang terkenal keramat. Prosesi penyambutan ini melibatkan iringan alat musik tradisional dan tarian datun julud oleh para perempuan.

Sedangkan bagi Suku Iban, ngayau juga disebut gawai, tak hanya bersifat religius, tetapi juga cara mereka berpesta besar-besaran dan bersenang-senang.

Di sana, pedang dan tombak memang lazim digunakan untuk menyelesaikan segala masalah. Peperangan antar suku demi menguasai wilayah kelompok lain pun jadi hal biasa. Dalam setiap pertempuran, kepala jadi incaran dan selain dipajang di rumah, bisa juga digantung di pohon yang dianggap keramat.

Tradisi Lawang Sakepeng Bermakna Pemutus Rintangan dan Malapetaka dalam Pernikahan Adat Dayak Ngaju

Tradisi masa lalu yang telah berakhir

Saat ini, tradisi ngayau sudah tidak dipraktikkan lagi. Bahkan, telah lama ditinggalkan. Pada tahun 1874, Damang Batu, Kepala Suku Dayak Kahayan mengadakan musyawarah bernama Tumbang Anoi. Pada musyawarah tersebut, dijelaskan perjanjian untuk mengakhiri tradisi ngayau karena dianggap menimbulkan perselisihan di antara Suku Dayak.

Meski demikian, tahun 2001 tradisi ngayau sempat menggegerkan Indonesia. Saat itu di Sampit, Kalimantan Tengah, Suku Dayak bentrok dengan pendatang Madura di Sampit. Ratusan korban tanpa kepala berjatuhan dan ribuan pendatang dari Madura tak henti-hentinya dibunuh sepanjang tahun. Konon, Suku Dayak dapat mengenali aroma tubuh orang Madura yang disebut bau sapi.

Citra buruk Suku Dayak

Karena tradisi yang mengerikan, Suku Dayak sempat memiliki citra buruk dan mendapat sebutan Barbaric Borneo. Citra paling populer tentang Kalimantan ini berkaitan dengan buku karya Carl Bock yang berjudul The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan di Inggris tahun 1882.

Buku tersebut memang banyak memberikan informasi soal Suku Dayak dan mengenalkannya kepada dunia. Namun di sisi lain, tulisan di bukunya pun banyak menggambarkan citra negatif yaitu sosok masyarakat Suku Dayak sebagai pemburu kepala.

Padahal, tak semua Suku Dayak melakukan tradisi ini, tetapi citranya seolah-olah menggambarkan masyarakat tersebut secara keseluruhan.

Orang Boentoet, Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini