Riwayat "Bung", Panggilan Kesetaraan pada Masa Perjuangan Kemerdekaan

Riwayat "Bung", Panggilan Kesetaraan pada Masa Perjuangan Kemerdekaan
info gambar utama

Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri memiliki keinginan memopulerkan kembali sapaan “bung”. Ia mengatakan, sapaan tersebut dapat menjadi salah satu usaha menghilangkan perbedaan. Hal ini disampaikannya pada dialog virtual bertajuk “Bung Hatta Inspirasi Kemandirian Bangsa” yang diadakan Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI-P, Kamis (12/8/2021).

Megawati menuturkan, panggilan itu sangat populer pada masa Presiden Soekarno.

“Dulu semua orang dipanggil ‘bung’. Saya masih ingat. Saya dari kecil suka berpikir, panggilnya ‘bang-bung-bang-bung’,” kenang Megawati.

Saking populernya kata "Bung", sapaan itu dapat digunakan kepada siapa saja. Tak peduli seseorang itu berprofesi sebagai badut penghibur orang Istana ataupun seorang presiden. Orang-orang pada masa itu percaya dalam frasa ‘bung’ terdapat makna kesetaraan dan persaudaraan. Lambat-laun, sapaan "Bung" begitu populer.

Dilansir dari Alinea, menurut Jos Daniel Parera dalam buku Teori Semantik (2004), kata sapaan bung mendapatkan tempat terhormat karena dipakai pemimpin bangsa, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Bung Tomo.

“Di samping sapaan netral untuk tukang becak, misalnya bung becak,” tulis Parera.

Sepeda yang Setia Mengantar Soekarno Menuju Indonesia Merdeka

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) juga mendukung ide Megawati Soekarnoputri ingin memopulerkan panggilan 'bung'. Panggilan 'bung' dinilai bisa menghilangkan mental feodalisme yang gila hormat.

"Sapaan 'bung' memiliki makna yang egalitarian (kesetaraan). Bung Karno dan Bung Hatta dipanggil bung, tidak dipanggil dengan gelar yang lain, misalnya selalu ingin dipanggil paduka yang mulia," kata Wakil Kepala BPIP Profesor Hariyono, menukil detikcom, Senin (16/8).

Menurutnya, sapaan bung mencoba menghancurkan kelas-kelas sosial yang dibangun sejak era feodalisme dan dilestarikan penguasa kolonial. Pancasila kemudian digali Bung Karno dan memuat sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" dan "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia" yang bersifat egaliter.

"Ini sesuai konsep sila ke-2. Kita tidak menyembah orang lain meski juga tetap menghormati orang lain," ujarnya.

Selanjutnya, Hariyono melihat gejala feodalisme muncul lagi. Sapaan 'bung' perlu dipopulerkan lagi supaya feodalisme tidak semakin subur.

"Mental feodal atau neofeodalisme di pemerintahan harus dihilangkan. Lihatlah, elite politik, ekonomi, sosial, bahkan agama tidak melayani rakyat maupun umat. Ini menurut saya, orang yang punya kedudukan memang harus kita hormati, tapi tidak harus dikultuskan, kemudian rakyat cuma menjadi objek belaka," kata Hariyono.

Panggilan kesetaraan

Menurut Parakitri T. Simbolon dalam Menjadi Indonesia, Soekarno memperkenalkan sapaan “bung” sejak terbentuknya Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 17-18 Desember 1927. Sapaan itu belum terlalu populer pada masa 1920-an, meski dalam banyak kesempatan dirinya kerap menggunakan sapaan bung kepada kawan seperjuangan dan rakyat kala berpidato.

"Dipanggil ‘Bung’ (panggilan akrab kepada saudara) sesuai anjurannya, Soekarno berhasil menjadikan semboyan seluruh cita-cita pergerakan, dan kebetulan juga ideologi PNI, yakni ‘merdeka’. Semboyan ini sangat gampang diteriakkan oleh, dan sangat kuat pesonanya pada, massa,” tulis Parakitri, seperti dilansir Historia.

Sejarawan George McTurnan Kahin dalam bukunya Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (2013), menyebut bahwa sapaan bung merupakan salah satu simbol revolusi yang diciptakan Soekarno. Sapaan tersebut mengandung makna kesetaraan dan persaudaraan, yang dapat diterjemahkan sebagai 'saudara'.

“Secara kasar dapat disejajarkan dengan kata ‘warganegara’ dalam Revolusi Prancis atau ‘kamerad’ dalam Revolusi Rusia,” tulis Kahin.

Kahin menerangkan, lema bung diambil dari varian bahasa Betawi, yakni “abang” yang berarti kakak laki-laki. Meski begitu, tulis Kahin, makna kakak bukan menjadi bagian penting dari kata bung.

“Gagasan yang mungkin dikandung dari kata ‘bung’ adalah sebuah sintesis dari istilah saudara serevolusi, saudara nasionalis Indonesia, dan saudara serepublik,” tambahnya.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

“Tua-muda, kaya-miskin, presiden ataupun petani, boleh saja saling memanggil dengan menggunakan kata ‘bung’.”

Diceritakan oleh Seno Joko Suyono dan Andi Dewanto dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Pipa Cangklong, Rubiyem, dan Kolonel Sanders (2007), sapaan bung ikut andil dalam mengobarkan samangat rakyat Indonesia berjuang guna mempertahankan kemerdekaan.

Alkisah, Bung Karno pada tahun 1945 meminta pelukis Affandi membesut suatu poster perjuangan. Bung Karno menegaskan pesanannya harus memuat gambar orang yang dirantai dan rantai yang telah putus. Kebetulan yang menjadi model pada saat itu pelukis Dullah.

Setelah selesai menggambar, Affandi nampaknya butuh sebuah kata-kata yang bernas, yang sekiranya mampu membangkitkan gelora semangat perjuangan. Beruntung, penyair kesohor Chairil Anwar melintas, saat itu pelukis Soedjojono bertanya kata-kata apa yang cocok untuk lukisan Affandi.

"Dengan enteng, Chairil menjawab, 'Bung, Ayo Bung!'”

Efeknya, sungguh dahsyat. Seketika, irama “Bung, Ayo Bung” menggelegar sebagai ungkapan heroik yang seolah-oleh mampu membangkitkan narasi melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari para penjajah.

“Konon, kalimat itu didengar oleh Chairil dari rayuan para pelacur di Jakarta,” tulis Hasan Aspahani dalam buku Chairil (2017).

Panggilan yang menghilang

Setelah revolusi selesai, sapaan bung perlahan memudar. Budayawan Ajip Rosidi dalam Badak Sunda dan Harimau Sunda: Kegagalan Pelajaran Bahasa (2011) menulis, sapaan bung mulai berkurang penggunaannya setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada akhir 1949. Diganti dengan sapaan “bapak” atau “saudara”.

Secara tak langsung, Soekarno yang memopulerkan ikut pula menyingkirkan kata bung. Ajip menulis, Presiden Soekarno minta disebut “Yang Mulia” atau “Paduka”.

“Para pejabat menganggap dirinya atau dianggap oleh orang lain sebagai bapak yang kedudukannya dapat dibandingkan dengan ayah dalam keluarga, punya wibawa yang segala perkataannya harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat.”

Dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977, Mochtar Lubis--pendiri koran Indonesia Raya--menyatakan keprihatinannya.

“..'Saudara’ atau ‘bung’, kata-kata menyapa yang begitu populer dan penuh kebanggaan dalam perjuangan kebangsaan hingga revolusi kemerdekaan, dianggap tak cukup hormat lagi untuk menyapa penguasa-penguasa kita sejak belasan tahun terakhir ini.”

Pramuka Indonesia, Berawal dari Kepanduan Belanda hingga Dipersatukan Soekarno

“Menegur atasan dengan ‘bung’ tiba-tiba kini kurang sopan. Harus memakai bapak, meskipun sang atasan baru berumur dua puluhan tahun, dan bawahan sudah berumur 60 tahun. [Sehingga] atasan bersikap ideological, patronizing, dan authoritarian ke bawah,” kata Lubis.

Ajip menilai perubahan itu merupakan akibat terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, yang pada masa perjuangan membentuk bangsa dan kemerdekaan merasa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, tetapi kemudian seakan-akan hendak kembali ke tatanan masyarakat feodal.

“Setelah kita hidup sebagai bangsa yang berpemerintahan, maka semangat feodalisme kita tumbuh lagi, sehingga muncul penggunaan ‘bapak’ dan ‘ibu’, bahkan ‘paduka’ dan ‘yang mulia’,” tulis Ajip dalam buku Ibu Haji Belum ke Mekah: Bahasa dan Perilaku Bangsa (2012).

Meski begitu, istilah bung tetap masih sering digunakan hingga tahun 1970-an. Bedanya, panggilan tersebut sudah dikhususkan antara sesama mereka yang sepantaran. Sebagai contoh, panggilan bung digunakan sebagai penyambung keakraban, dapat dilihat pada film layar lebar rekaan Syamsul Fuad berjudul Benyamin Jatuh Cinta (1976).

Seiring waktu, di masa Orde Baru, kata bung kian menghilang dari belantika kosakata penggilan para elite nasional. “Soeharto, kemudian Habibie, lebih akrab dipanggil ‘pak’,” tulis Achmad San. Akan tetapi, tak ada informasi apakah Orde Baru sengaja menyingkirkan kata bung dalam kamus mereka.

Saat ini muncul sapaan-sapaan untuk menciptakan jarak yang ideal antara tokoh dan konstituen, tergambar dalam atribut kekerabatan, seperti “gus”, “cak”, “bang”, “mas”, “pakde”, dan “kang”.

"Mereka menggali-gali sebutan yang cocok untuk dirinya. Bisa untuk melahirkan nilai jual, bisa pula supaya lebih gampang diingat pengikutnya,” tulis Achmad San dalam buku Dikuasai Kata-Kata: Kumpulan Esai Bahasa (2021).

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini