Tumbang Namun Menumbuhkan, Medan Prijaji jadi Pelopor Jurnalisme Advokasi Indonesia

Tumbang Namun Menumbuhkan, Medan Prijaji jadi Pelopor Jurnalisme Advokasi Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Sejarah dan pergerakan pers di Indonesia telah berjalan sejak ratusan tahun lalu. Meskipun demikian, tidak seluruhnya menempatkan penduduk asli Indonesia sebagai pemeran utama.

Pertama kalinya, surat kabar muncul untuk keperluan iklan dan inventarisasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Koran ini diberi nama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen (Berita dan Penalaran Politik Batavia).

Dilansir dari Remotivi, seluruh surat kabar di Indonesia masih dikendalikan oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1744 hingga 1825. Penerbitan surat kabar ini membawa misi jurnalistik etis pihak kolonial, antara lain untuk memenuhi kebutuhan informasi politik dan ekonomi bagi kelas pedagang dan memberitahukan pengumuman resmi dari pemerintah Belanda.

Inilah 10 Bank Terbesar di Asia Tenggara, 3 dari Indonesia

Medan Prijaji surat kabar bahasa Melayu pertama di Indonesia

Tirto Adhi Soerjo, Pendiri Medan Prijaji | Foto: Pramoedya Ananta Toer
info gambar

Kemerdekaan pers pertama hadir bersama dicetaknya Medan Prijaji di Bandung pada Januari 1907. Koran yang beredar hingga Januari 1912 ini kemudian menjadi tonggak jurnalisme yang berani, untuk menuliskan gagasan-gagasan rakyat untuk melawan kesewenangan penguasa.

Didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo, surat kabar nasional pertama ini bukan hanya istimewa karena penggunaan bahasa Melayu (Indonesia) dalam tulisan-tulisannya. Namun, juga akibat peran seluruh pekerja dan wartawannya yang merupakan pribumi asli Indonesia.

Medan Prijaji kemudian menjadi jurnalisme advokasi pertama Indonesia yang memuat berita mengenai kasus perampasan tanah yang dilakukan oleh kolonial. Berbagai berita serupa juga dimuat untuk menunjukkan bagaimana ketidakadilan diderita oleh pribumi, dan pemerintah kolonial bertanggung jawab oleh penderitaan tersebut.

Tak cukup dengan memberitakan peristiwa atau kebijakan yang merugikan rakyat, Medan Prijaji juga ikut terjun dalam menangani kasus-kasus tersebut dengan menyewa ahli hukum untuk membantu menyelesaikan kasus yang menjerat rakyat kecil. Hal inilah yang menjadikannya sebagai pelopor dari genre jurnalisme yang kini dikenal sebagai jurnalisme advokasi.

Sebagai surat kabar pertama yang sepenuhnya dikelola pribumi dengan uang, saham, dan perusahaannya sendiri, Medan Prijaji menjadi media independen panutan yang mengedepankan transparansi dan keadilan. Untuk bisa berlangganan Medan Prijaji, pelanggan perlu membayar uang muka terlebih dulu selama satu kuartal, setengah, atau satu tahun.

Bentuk fisik Medan Prijaji berbeda dengan surat kabar yang beredar jaman sekarang. Surat kabar ini berbentuk seperti buku berukuran 12,5 x 19,5 sentimeter yang terbit satu minggu sekali di hari Jumat. Surat kabar ini memiliki beberapa rubrik tetap seperti mutasi pegawai, salinan lembaran negara dan pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat.

Booming Startup Indonesia: Prestasi dan Potensi di 2021

Medan Prijaji jadi pelopor jurnalisme advokasi di Indonesia

Sebagai koran pertama yang menampung suara dan aspirasi pribumi, Medan Prijaji menjadi media dalam menuliskan kritik beserta kecaman bagi pemerintah kolonial dan pengaduan akhir kasus rakyat Indonesia yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh penguasa.

Keberanian ini tentunya membuat geram para pemangku kekuasaan. Mengantarkan penutupan Medan Prijaji setelah lima tahun keberadaannya, tepatnya pada 23 Agustus 1912.

Dua bulan setelah Medan Prijaji tumbang, Tirto Adhi ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bacan, Maluku Utara. Penangkapan ini dilakukan berdasarkan tuduhan bersalah karena penghinaan terhadap Bupati Rembang.

Tak hanya itu, berbagai sumber juga menyatakan bahwa tuduhan penipuan juga dilayangkan ke Tirto Adhi. Ia dianggap menipu sejumlah orang yang berhimpun di Vereeniging van Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur (Perhimpunan Amtenar Pangreh Praja).

Penutupan Medan Prijaji dan penangkapan Tirto Adhi tidak membuat masyarakat menjadi gentar dan memilih untuk diam. Justru, kejadian ini menjadi benih tumbuhnya berbagai surat kabar dan pergerakan lain.

Indonesia Akan Punya 6 Bandara Pada 2022

Nasionalisme dan pergerakan pers Indonesia

Surat kabar menjadi wadah utama bagi berbagai tokoh pergerakan nasional untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, dan semangat untuk merdeka. Antara lain ialah Mohammad Hatta yang banyak mengirimkan tulisan ke Daulat Ra’jat, dan Soekarno yang rajin terlibat dalam penerbitan Fikiran Ra’jat.

Tidak diragukan lagi, pers nasional memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. Perjalanan yang diawali oleh Medan Prijaji, kini diteruskan oleh beraneka ragam media dan surat kabar yang tiada henti menjadi perantara rakyat agar suara dan aspirasinya didengar oleh khalayak luas, khususnya penguasa.*

Referensi: Remotivi | Historia | Liputan 6

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini