Gutta Percha, Komoditas Andalan Sukabumi yang Diburu Berbagai Negara Sejak Perang Dunia II

Gutta Percha, Komoditas Andalan Sukabumi yang Diburu Berbagai Negara Sejak Perang Dunia II
info gambar utama

Pernah mendengar istilah Gutta Percha? Mungkin terdengar agak asing, karena di Indonesia sendiri lebih banyak dikenal dengan sebutan Getah Perca.

Gutta Percha yang memiliki nama ilmiah Palaquium Gutta, adalah sejenis tanaman tropika penghasil getah lateks yang tumbuh di kawasan Asia Tenggara hingga Australia Utara, dapat ditemui juga di wilayah Taiwan Utara hingga Kepulauan Solomon Selatan.

Selain memiliki nama lain Getah Perca, Gutta Percha kerap disebut juga sebagai Getah Merah, Isonandra Gutta, Red Makasar, Gutta Seak, dan Gutta Soh.

Sebenarnya, lateks yang dihasilkan oleh Gutta Percha memiliki kandungan yang sama dengan tanaman karet pada umumnya. Karena itu, pada saat Perang Dunia II terjadi, Gutta Percha pernah dipakai ketika stok suplai lateks dari tanaman karet sedang kosong.

Saat ini, keberadaan tanaman Gutta Percha dapat dikatakan tergolong langka, disebutkan bahwa populasi tanaman ini sekarang hanya mencapai 60-70 persen yang mayoritas hanya dibudidayakan di Indonesia, tepatnya wilayah Sukabumi.

Apa manfaat sebenarnya dari Gutta Percha?

Peremajaan Pohon Karet, Cara untuk Sejahterakan Petani Karet

Karakteritsik tanaman dan cara pemanfaatan

Hutan Gutta Percha Cipetir
info gambar

Tanaman Gutta Percha memiliki ketinggian sekitar 5–30 meter dengan diameter bisa lebih dari 1 meter. Pohon ini berdaun rimbun dengan warna hijau kekuningan. Memiliki bunga berwarna putih berukuran kecil dalam satu kuntum, dan memiliki buah berukuran tiga hingga tujuh sentimeter yang berisi satu hingga empat biji.

Gutta Percha dimanfaatkan bagian getahnya yang diperoleh dengan cara ekstraksi daun atau penyadapan pohon.

Getah yang dihasilkan memiliki sifat dan kegunaan yang cocok sebagai bahan instalasi kabel dasar laut, pelapis bola golf, dan campuran gips untuk pembalut tulang, perawatan gigi dan pembuatan gigi palsu, serta dipakai juga sebagai bahan pembuatan furnitur.

Karena itu, tak heran jika keberadaannya pada zaman dulu--tepatnya saat Perang Dunia II--Gutta Percha banyak dicari oleh berbagai negara, sebagai komoditas yang diandalkan untuk pengobatan para tentara yang ikut berperang.

Mengenai budidayanya sendiri, teknik pemanfaatan Gutta Percha awalnya dipanen setelah tanaman berusia 15 tahun, yaitu dengan cara menebang pohon dan diambil getahnya yang berisi sekitar 1,5 kg getah.

Namun, cara tersebut dipandang tidak efektif sehingga saat ini teknik yang digunakan adalah dengan cara memangkas daunnya, karena kandungan getah ternyata lebih banyak banyak terdapat pada bagian daun. Satu ton daun basah diperkirakan dapat menghasilkan getah Gutta sebanyak 12-13 kilogram.

Sambiloto, Tanaman Pahit yang Dipercaya Bisa Cegah Covid-19

Sejarah Gutta Percha di Indonesia

Balok Gutta Percha Tjipetir
info gambar

Melansir laman Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Gutta Percha sebenarnya pertama kali diperkenalkan di Eropa pada tahun 1843 oleh William Montgomery. Kemudian, tanaman ini baru memasuki pasaran dunia sekitar tahun 1856 setelah diketahui memiliki sifat-sifat yang cocok sebagai bahan insulasi kabel dasar laut.

Mengenai bentuk fisiknya, pada suhu biasa Gutta Percha merupakan benda dengan wujud keras nan padat yang sulit merentang. Namun, apabila dipanaskan pada suhu 650 celsius, material tersebut menjadi lunak dan dapat dikepal-kepal oleh tangan untuk membentuk apapun.

Pada tahun 1856 hingga 1896, Gutta Percha sudah banyak digunakan untuk insulasi kabel dasar laut hingga mencapai 16 ribu ton, yang direntangkan sepanjang 184 ribu mil laut di sekitar pantai benua Amerika, Eropa, Asia, Australia, pantai timur dan barat Afrika.

Masuknya Gutta Percha ke Indonesia dimulai pada kisaran tahun 1885. Saat itu, Pemerintah Kolonial Belanda melakukan penelitian di kawasan Tjipetir—saat ini Cipetir, tepatnya wilayah Perkebunan Sukamaju dengan menanam beberapa varietas pohon Gutta Percha yang kemudian diseleksi.

Sampai di tahun 1901, karena kebutuhan akan Gutta Percha terus meningkat, dan penanaman percobaan yang dilakukan di kawasan Tjipetir dinilai sudah cukup memuaskan, akhirnya dibangunlah Perkebunan Negara Gutta Percha Tjipetir dengan menanam tanaman produksi Gutta Percha.

Tahun 1901 hingga tahun 1906, wilayah penanaman Gutta Percha sebagai kawasan percobaan memiliki luas lahan sekira 1.000 hektare. Kemudian pada tahun 1919 diperluas lagi sebanyak 322 hektare. Sehingga, total area Gutta Percha di Perkebunan Tjipetir saat itu menjadi sekitar 1.322 hektare.

Tahun 1914, pemerintah Belanda sempat membangun pabrik Gutta Percha atas prakarsa Tromp de Haas. Namun selama tujuh tahun, pembangunan pabrik tersebut sempat terbengkalai. Baru di tahun tahun 1921, pabrik Gutta Percha diselesaikan oleh H. Van Lennep, yang saat itu menjabat sebagai Administratur Perkebunan Tjipetir.

Menilik keberadaannya saat ini, Gutta Percha termasuk jenis komoditas yang diduga hanya bisa ditemui di Indonesia, tepatnya di kebun Sukamaju, Sukabumi, yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero). Klaim tersebut diperkuat dengan keberadaan perkebunan Gutta Percha di Brazil yang nyatanya sudah dikonversi untuk perkebunan tanaman jenis lain.

Selain itu, larangan dari pemerintah Belanda agar tidak menanam Gutta Percha selain di Kebun Sukamaju pada tahun 1880-an, menjadi penyebab tanaman ini tidak tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.

Perkebunan Sukamaju berada di Kabupaten Sukabumi yang dikelola oleh PTPN VIII dengan areal konsesi seluas 7.379,63 hektare, dan terbagi atas enam wilayah, yang meliputi Cibadak, Cikidang, Bojong Genteng, Parungkuda, dan Kalapanunggal.

Perkebunan Sukamaju saat ini mengelola dua tanaman yang dibudidayakan, yaitu Gutta Percha dan Kelapa Sawit. Luas areal penanaman Gutta Percha di perkebunan tersebut mencapai 333 hektare, yang saat ini berlokasi di Desa Cipetir, Kecamatan Kadudampit.

5 Tanaman Hias Termahal di Dunia, Harganya Ada yang Setara 22 Unit Tesla Model X

Perjalanan Gutta Percha Tjipetir, spekulasi Titanic yang karam dan terdampar di Eropa

Balok Gutta Percha Tjipetir yang terdampar di Eropa
info gambar

Pada tahun 2012 silam, masyarakat Eropa dihebohkan dengan penemuan balok karet berbentuk persegi dengan tulisan kata “Tjipetir” di sejumlah pesisir pantai.

Menukil Tirto, penemuan pertama dialami oleh wanita asal Cornwall, Inggris, bernama Tracey Williams yang menemukan benda persegi bertekstur kenyal tersebut terdampar di pantai dekat rumahnya, penemuan kembali dialami pada beberapa minggu setelahnya.

Williams kemudian mengunggah penemuan tersebut ke laman media sosial dan mendapat respons penemuan serupa dari berbagai wilayah negara Eropa lain, seperti Spanyol, Prancis, Belanda, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Denmark.

Mengundang banyak perhatian, sebuah media pemberitaan di Prancis menyebutkan bahwa benda tersebut merupakan bentuk lama dari Gutta Percha yang masuk ke dalam kargo kapal Titanic yang karam di tahun 1912, kisaran tahun yang sama saat tanaman tersebut sudah mulai dibudidayakan di daerah Tjipetir.

Mengenal Tjipetir, ‘’Talenan’’ Indonesia yang Bikin Geger Eropa

Keberadaan Gutta Percha saat ini

Bentuk lempeng Gutta Percha saat ini
info gambar

Pangsa pasar Gutta Percha sejak dulu lebih banyak ditujukan untuk pasar ekspor, disebutkan bahwa permintaan kerap datang dari berbagai negara seperti Belanda, Inggris, Jerman, Amerika, Kanada, Hongkong, Australia, Italia, Perancis, dan Irlandia.

Didasari keberadaannya yang langka, harga dari Gutta Percha diketahui kian meroket dari tahun ke tahun. Saat masa panennya masih membutuhkan waktu 15 tahun, harga jual Gutta Percha di tahun 2006 ada di angka Rp475 ribu per kilogram.

Kemudian karena tingginya permintaan, pada awal tahun 2008, harga Gutta Percha mencapai Rp1,5 juta per kilogram. Harga tersebut kian meningkat karena permintaan yang semakin meningkat sedangkan ketersediaan barang dan penawarannya kian menurun.

Bukan tanpa alasan, berdasarkan update terbaru yang disampaikan oleh Asisten Kepala Wakil Manajer PTPN VIII Unit Sukamaju, Dadan Ramdan kepada IDX Channel, saat ini dibutuhkan waktu mencapai 30 tahun lamanya untuk menunggu tanaman Gutta Percha tumbuh dan bisa dimanfaatkan daunnya.

Bahkan ada catatan lain, bahwa harga terakhir yang dibanderol untuk satu kilogram Gutta Percha saat ini mencapai Rp4 juta.

Mengenai kondisi dan kegunaannya saat ini, dijelaskan bahwa 1 pohon Gutta Percha dapat menghasilkan 20-30 kilogram getah sekali pengolahan. Getahnya pun saat ini juga banyak dipakai untuk melapisi badan pesawat karena teksturnya yang keras tapi juga lentur di saat yang bersamaan.

Dadan mengungkap, bahwa saat ini ekspor terbanyak dilakukan ke Jerman, Jepang, dan Korea Selatan dengan permintaan yang cukup tinggi.

"Serapan pasarnya cukup lumayan, kami saja sekarang agak kerepotan untuk memenuhi permintaan…” ungkap Dadan.

Indonesia Ternyata Jadi Salah Satu Negara Penghasil Karet Terbesar Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini