Kisah Mulyono, Pemberantas Buta Huruf bagi Masyarakat Badui

Kisah Mulyono, Pemberantas Buta Huruf bagi Masyarakat Badui
info gambar utama

Warga Badui memang tidak bersekolah formal, tapi sebagian kecil anak-anak Badui kini bisa membaca. Hal ini ternyata berkat pembelajaran yang dilakukan oleh Mulyono, warga Badui asli yang selama belasan tahun terakhir aktif mengajar baca tulis bagi masyarakatnya.

Mulyono, pemuda asal Badui Luar menjadi satu di antara segelintir urang Kanekes yang berhasil mendobrak budaya lama. Warga Kampung Cicampaka, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini mampu mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Suku Badui yang tinggal di Cibeo dan berada di tengah hutan ini misalnya, seluruh warganya sangat patuh menjaga adat yang telah berlaku selama beratus-ratus tahun. Orang di kampung ini dilarang bersekolah secara formal.

Warga Badui juga tak memakai listrik, tak memakai pakaian berwarna selain putih dan hitam. Mereka bepergian juga tak memakai alat transportasi dan dengan kaki telanjang. Setiap harinya mereka mandi dan keramas tidak memakai sabun.

Namun beberapa warga Badui dalam secara berkala ada yang pergi ke luar daerah untuk menonton televisi atau menelpon teman atau kenalan yang ada di Jakarta dan kota lain. warga inilah yang kerap disebut sebagai Badui Luar.

Bisa dihitung jari warga Badui yang pernah mengenyam pendidikan, hingga jenjang kuliah. Sebelum Mul--sapaan akrabnya, ada bapaknya, Sarpin, yang juga pernah kuliah. Tapi yang masih aktif kuliah, sekarang hanya dia satu-satunya.

Kehidupan Suku Baduy Masa Kini yang Tak Lekang Waktu

Dilansir dari Kompas, bapaknya yang berprofesi sebagai pemandu wisata kala itu, kerap membawa tamu dari Jakarta. Tamu yang membuat dia terkesan adalah rombongan dosen dan mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), hingga dia berambisi untuk kuliah ke sana.

"Saat itu usia saya 13 tahun, keinginan kuat untuk kuliah di UI muncul, ingin merasakan kuliah, dari sana saya cari tahu, bagaimana caranya supaya bisa kuliah di UI, oh ternyata harus sekolah," kenang Mul.

Pada waktu itu pula dirinya mulai sedikit demi sedikit tertarik dengan ilmu pendidikan dan mulai mengambil paket A di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang berada di Ciboleger.

"Dulu niatan saya bercita-cita ingin kuliah dan saya sempat berkeinginan untuk masuk UI pada waktu itu. Akhirnya saya mengejar paket A. Saya waktu itu saya hanya ingin merasakan bagaimana kuliah itu," terangnya.

Hingga akhirnya harapan untuk masuk UI pun gagal lantaran terkendala umur. Kendati begitu, dirinya tidak putus arah untuk menggapai cita-citanya tersebut.

Mendirikan komunitas membaca

Mulyono ternyata sangat peduli dengan pendidikan anak-anak di badui. Rumahnya di Kampung Cicampaka, terbuka 24 jam untuk didatangi anak-anak yang ingin belajar membaca, atau setidaknya melihat-lihat buku bergambar.

Di rumah panggung berdinding anyaman bambu itu, ratusan buku tersusun rapi di rak sederhana. Buku-buku itu didapatnya dari kota, atau sumbangan dari teman-temannya saat berkunjung ke Badui.

Perjalanan panjang Mul untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat belajar dan kuliah, bukan tanpa hambatan. Dia mengaku sampai ke titik ini awal mulanya karena sang bapak, Sarpin.

"Bapak dulu bentuk komunitas membaca di Badui tahun 2000 di Kampung Balimbing, saya melanjutkan apa yang sudah dilakukan bapak dulu," ungkapnya.

Berawal dengan metode pembelajaran yang sederhana dengan mencoret-coret buku dengan alat pensil yang terbatas. Hingga jam waktu pembelajaran yang menyesuaikan dengan waktu belajar berladang, dirinya tetap mempunyai keyakinan tersendiri untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anak Badui.

Konsisten Pakai Baju Adat saat HUT RI, Jokowi Diharapkan Bisa Selamatkan Lingkungan Masyarakat Adat

Hingga akhirnya, tekad itu pun terbayar dengan sebagian anak-anak di Badui telah bisa membaca dan menulis dengan bantuan dirinya sejak belasan tahun. Walau menurutnya, warga Badui sendiri dilarang untuk sekolah formal, akan tetapi untuk belajar membaca dan menulis hal tersebut tidak dilarang.

"Ada kekhawatiran adat, takut jika anak-anaknya punya ijazah, nanti mereka keluar Badui, pergi merantau ke kota, atau tinggal di luar wilayah," jelasnya.

Untuk belajar baca tulis saja, kadang masih dicurigai oleh para kolot (orang tua) di Badui, mereka curiga, Mul mendirikan sekolah formal. Dirinya menegaskan hanya memberikan hak kepada orang-orang Badui, hak untuk bisa baca tulis, tanpa ada paksaan.

Bahkan ia pernah dua kali dipanggil secara khusus oleh “puun” (kepala suku) Badui Dalam agar menghentikan aktivitasnya. Namun ia menolak. Dan kemudian aktivitas belajar mengajar informal itu kadang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Ia pun menerangkan, untuk komunitas membaca dan menulis sendiri dilakukan secara pribadi dan tidak menerima bantuan dari luar ataupun pemerintahan. Tawaran bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat pernah datang, namun Mul menolak dengan pertimbangan keberlangsungan komunitasnya.

"Kalau terima bantuan dari pemerintah saya khawatir nanti harus ada struktur organisasi, ada kunjungan resmi, dampaknya malah membahayakan komunitas saya," kata Mul.

Kembali lanjutkan mimpi

Walau gagal masuk ke UI, Mulyono tetap melanjutkan mimpinya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Saat ini dirinya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta. Dia memilih kuliah online lantaran bisa dilakukan sambil beraktivitas sehari-hari di Badui, seperti mengajar anak-anak belajar, bekerja hingga menjadi kepala keluarga bagi istri dan dua anaknya.

Mulyono sendiri saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya dengan metode daring atau online. Hal tersebut dapat membantu dirinya untuk tetap memberikan pendidikan yang gratis dan ilmiah kepada anak-anak disana.

"Pendidikan di daerah, sangat penting apalagi Badui yang menjadi sorotan, dengan kehidupan masyarakatnya yang masih tradisional, dan yang paling penting mereka anak-anak Badui harus bisa, memilah hal-hal negatif di jaman modern seperti sekarang," katanya.

Kasus Covid-19 di Kampung Adat Baduy Masih Nol, Apa Rahasianya?

Selain itu dirinya juga berjualan online kerajinan dan oleh-oleh dari Badui melalui media sosial Instagram @mulyono_nasinah. Namun usahanya tersebut terhenti sejak pandemi.

"Sangat terdampak, tidak ada wisatawan datang, usaha online juga sempat dibekukan," kata Mul.

Karena pariwisata terhenti, Mul akhirnya kembali ke kebun sama seperti warga Badui kebanyakan. Kata dia, saat ini apapun kerjaan di kebun dikerjakan yang penting dapur tetap ngebul.

Usaha online Mul akhirnya kembali menggeliat sejak beberapa hari lalu, setelah baju Adat Badui dipakai oleh Presiden Joko Widodo. Sejak tanggal 17 sudah ada empat potong baju yang dipesan.

"Bukan hanya baju, bahkan ada pembeli yang tanya sandal yang dipakai Pak Jokowi jual juga enggak?" tandasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini