Sosok Tien Soeharto, Ibu Negara Penopang Kepemimpinan Soeharto

Sosok Tien Soeharto, Ibu Negara Penopang Kepemimpinan Soeharto
info gambar utama

Siti Hartinah Soeharto atau lebih familiar disapa Tien Soeharto, adalah seorang ibu Negara yang mendampingi Presiden Soeharto selama 32 tahun menduduki Pemerintahan Orde Baru. Memiliki nama lengkap Raden Ayu Siti Hartinah, ia Lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923.

Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil "Ibu Tien" merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan keturunan Mangkunagara III dari garis ibu.

Rudolf Obsger-Roeder, orang Jerman yang menulis salah satu biografi Soeharto berjudul Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto, menyebut Tien sebagai seorang 'gadis remaja yang patriotik'.

Masa kecil Ibu Tien dihabiskan berpindah-pindah tempat, mengikuti gerak bapaknya yang seorang pamong praja dengan tempat dinas berpindah-pindah. Setidaknya sampai umur 7 tahun, gadis kecil gemuk dengan lesung di kedua pipinya itu berpindah-pindah sampai empat kali, dari Jaten ke Jumapolo, lalu ke Matesih, Solo, dan Kerjo.

Walau berasal dari keturunan ningrat, kehidupan awal Tien tidaklah semegah yang dibayangkan. Kehidupan masa kecilnya mencerminkan kondisi Indonesia pra-kemerdekaan yang masih serba terbatas.

Tien bahkan pernah diangkat menjadi anak orang lain, yakni oleh Abdul Rachman, sahabat orang tuanya yang merupakan seorang polisi dari kota Solo. Selain itu, menjadi perempuan dengan kondisi bangsa yang tengah berada di bawah penjajahan tak memberikan Tien kecil banyak kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto

“Saya hanya bersekolah Ongko Loro. Karena orang tua saya kurang mampu, saya harus memberi kesempatan bersekolah kepada adik saya laki-laki,” kata Tien suatu masa.

Sekolah Ongko Loro tersebut dari namanya saja jelas berarti Sekolah Dasar dua tahun, sekolah lokal untuk pribumi Indonesia. Walau begitu, Tien pernah dua kali bersekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah untuk bangsawan pada masa itu.

Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan memaksa perempuan kecil itu untuk terus berkarya di usia belia. Selain di sekolah dasar Ongko Loro dan HIS, ia juga menempa diri dengan belajar membatik dan les mengetik.

Saat tentara Jepang datang, ia ikut serta dalam Barisan Pemuda Putri di bawah Fujinkai. Setelah kemerdekaan, Barisan Pemuda Putri ini menjadi Laskar Putri Indonesia (LPI) di mana ia menjadi salah satu pelopornya.

Tien, bersama puluhan putri Solo lainnya, ikut berjuang di masa-masa genting perjuangan revolusi mempertahankan kemerdekaan. Ia bersama ratusan perempuan muda lain bergerak di dapur umum dan palang merah untuk menyokong aksi pasukan yang bergerilya melawan tentara sekutu.

Sepak terjang Tien di Laskar Putri Indonesia baru berhenti akhir tahun 1946, ketika pemerintah Indonesia mengambil kebijaksanaan Rasionalisasi Kelaskaran Bersenjata, yang berkonsekuensi pada bubarnya LPI. Meski sebentar, aksi Tien remaja pada masa-masa itu membuatnya menerima gelar pahlawan pada tahun 1996, beberapa saat setelah dia meninggal.

Pernikahan lintas sosial

Dilansir dari DetikX, pertemuannya dengan Soeharto terjadi di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, saat usia mereka masih remaja. Tien dan keluarganya saat itu memang menetap di sana mengikuti lokasi dinas KPH Soemoharjomo, yang ditugaskan sebagai pejabat daerah di Wonogiri.

Kebetulan Soeharto pindah dari Desa Kemusuk, Yogyakarta, ke Wuryantoro untuk bersekolah. Di Wonogiri, Soeharto tinggal di rumah pamannya, Prawirowihardjo.

Saat di sekolah itu, Soeharto melihat Tien, yang juga adik kelasnya. Tien membuat Soeharto jatuh hati. Menurut cerita adik tiri Soeharto, Probosutedjo, seperti dicatat Alberthiene Endah dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto, perasaan itu hanya dipendam karena persoalan status sosial yang berbeda. Soeharto tak percaya diri mendekati remaja putri dari kalangan ningrat Mangkunegaran itu.

"Apa orang tuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya wedana, pegawai Mangkunegaran,” tanya Soeharto muda kala itu.

Dan, ketakutan Soeharto memang terjustifikasi. Saat itu, meski sudah berpangkat Letnan Kolonel, Soeharto hanyalah keturunan petani biasa asal Bantul, Yogyakarta. Sementara orang Jawa selalu memandang kedekatan dengan keraton sebagai sesuatu yang luar biasa.

Ibu Prawiro yang merupakan bibi sekaligus ibu angkat Soeharto pun berjanji mengurus semuanya. Hal ini dengan jaminan kedekatannya dengan keluarga Kandjeng Pangeran Harjo (KPH) Soemoharjomo, ayah dari Tien.

Tanpa disangka, keluarga KPH Soemarjomo mau menerima tawaran Ibu Prawiro. Akhirnya, kedua keluarga itu sepakat untuk menggelar upacara 'nontoni', yaitu mempertemukan antara calon pengantin pria dengan calon pengantin wanita.

Sejarah Hari Ini (21 Oktober 1994) - Suharto Kalahkan Rambo di Lapangan Golf

"Agak kikuk juga, sebab sudah lama saya tidak melihat Hartinah dan keragu-raguan masih ada pada saya, apakah dia akan benar-benar suka kepada saya," tutur Presiden ke-2 RI itu dalam otobigrafi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, halaman 43-45, seperti dikutip dari Merdeka.

Ternyata selama ini, Tien juga telah menunggu waktu datangnya lamaran dari pria idamannya itu. Bahkan sebelumnya, ia telah menolak banyak pinangan, demi melihat prajurit muda itu yang “cakep dan ganteng”.

“Pada suatu malam saya bermimpi bertemu dengan seorang tentara, seorang prajurit memakai mantel atau semacam jaket. Saya dirangkul dan kemudian mengenakan jaketnya kepada saya,” ucap Bu Tien ihwal mengapa ia menolak banyak pinangan sebelum Pak Harto.

Soeharto dan Tien kemudian menikah di Solo, Jawa Tengah, pada 26 Desember 1947. Pernikahan keduanya hanya digelar sederhana karena adanya perang yang sedang berkecamuk pada masa itu.

Bahkan, penerangan di malam hari terpaksa harus dibuat redup untuk menghindari kemungkinan adanya serangan dari Belanda. Tiga hari usai pernikahan, Soeharto langsung memboyong Tien ke kota tempatnya bertugas, Yogyakarta.

Sejak saat itulah, Tien selalu setia mendampingi Soeharto hingga menjadi Presiden RI selama tiga dekade. Hampir sebagian besar hidup Soeharto diisi oleh sosok Tien.

Penopang Soeharto

Bukan rahasia lagi bahwa sosok Tien sangat penting dalam kehidupan dan karier Soeharto. Sedari awal, ia terus mendorong Soeharto mewujudkan ambisi-ambisi mereka.

Alkisah pada tahun 1950, Soeharto hendak berhenti dari kesatuannya. Ia mengaku tak tahan atas fitnah-fitnah yang datang menerpa dirinya, walau tak jelas apa masalahnya. Dan itu cukup serius sampai-sampai membuat Soeharto ingin berhenti dari ketentaraan dan memilih untuk menjadi petani atau sopir taksi.

Dengan nada tegas Tien berkata kepada Soeharto, “Saya diambil istri bukan oleh supir taksi, saya menikah dengan seorang tentara. Seharusnya kamu menghadapi masalah itu dengan kepala dingin walaupun hatimu panas."

Setelah Soeharto menjadi presiden, mau tidak mau Tien juga jadi penting pula untuk Indonesia. Terlebih, Soeharto sangat mengandalkan keyakinan diri sendiri dan teramat memercayai keluarganya.

Ketika Soeharto memimpin, Tien cukup berpengaruh terhadap lahirnya beberapa kebijakan maupun proyek pemerintah di masa Orde Baru. Salah satunya adalah kebijakan antipoligami yang ditujukan untuk pegawai negeri sipil (PNS).

Publik tahu betul bagaimana Tien begitu keras menentang poligami. Dirinya paham betul bahwa praktik poligami kerap menyakiti para istri. Ia sendiri tak rela dimadu oleh sang suami.

Sejarah Hari Ini (29 September 1983) - Digagas Tien Suharto, Museum Prangko Indonesia Diresmikan di TMII

Memang, dengan "Kerajaan’ Orde Baru yang dibangun dari mitos dan legenda yang diisi kejayaan, keseraman, dan keesaan kuasa Presiden Soeharto. Namun, hampir semua orang Indonesia tahu bahwa penguasa nomor satu di Indonesia selama 32 tahun tersebut hanya bertekuk lutut pada satu perempuan.

“Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto,” aku Soeharto.

Peran Tien di samping Soeharto memang begitu penting, hingga setiap kebijakan, terutama yang menyangkut perempuan dan anak, tak jarang melibatkan tangan dan gagasan sang istri sebagai motor bagi pengambilan kebijakan Soeharto.

Karena perannya yang cukup besar, Tien pernah mendapat julukan “Mrs Ten Percent” dari para pengkritiknya. Julukan itu bermula dari tuduhan bahwa Tien selalu mendapat komisi sepuluh persen dari setiap proyek pemerintah.

Apalagi Soeharto juga menjadi pembela utama istrinya kala dikritik soal proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 1972. Saat itu TMII tetap dibangun dengan dukungan pemerintah dan akhirnya diresmikan pada 20 April 1975, walau banyak agenda lain yang mendesak.

Memang, peran Tien tidak hanya sebagai penyokong, tapi juga kerap menjadi sumber “wahyu” Soeharto. Termasuk ketika dia mendesak agar Soeharto tak usah lagi maju sebagai presiden pada tahun 1990-an.

Dalam Pak Harto: the Untold Stories, Ajudan Presiden Laksamana TNI (Purn.) Sumardjono, menuturkan bahwa dalam beberapa kesempatan pada 1995, Soeharto telah menyatakan agar dirinya tidak dipilih lagi menjadi presiden. Hal ini memang berdasarkan permintaan dari Tien untuk mengerem ambisi berkuasa Soeharto.

"Tolong katakan kepada... (Ibu Tien menyebut salah seorang petinggi Golkar), agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Sudah cukup, sudah cukup, beliau sudah tua."

Meninggalkan Soeharto di ujung kekuasaan

Diduga karena kecapaian berkebun di Mekarsari, pukul 04.00 pagi pada tanggal 28 April 1996, Bu Tien mengalami kesulitan dalam bernapas. Ia langsung dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto. Ia dirawat langsung oleh dokter kepresidenan, Hari Sabardi.

Meski ditangani tenaga medis terbaik Indonesia, nasib berkata lain. Tien Soeharto, sekitar pukul 05.10, dinyatakan meninggal dunia.

Piye to, kok ora bisa ditulung?” tanya Pak Harto.

Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Pelan-pelan, Soeharto sadar ia telah kehilangan teman, pelindung, pendorong, sekaligus sumber kasekten alias kesaktiannya. Tien wafat, meninggalkan Soeharto berjalan sendiri menjalani akhir kekuasaannya.

Tien pun tidak sempat melihat permintaannya dikabulkan oleh sang suami. Sejarah mencatat, pada Sidang Umum MPR 1998 Soeharto terpilih lagi sebagai presiden, dan beberapa bulan kemudian kekuasaannya runtuh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini