Legenda Rumah Belanda, Hunian Ideal yang Kerap Dianggap Angker

Legenda Rumah Belanda, Hunian Ideal yang Kerap Dianggap Angker
info gambar utama

Bangunan tua itu bernama Villa Yuliana, warga setempat lebih mengenalnya dengan nama Mess Tinggi. Bangunan yang didominasi warna putih dan hijau itu terletak di tengah ibu kota Watansoppeng, tepatnya di Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Dulunya, bangunan ini dibangun oleh Gubernur Hindia Belanda, C.A. Kroesen, pada tahun 1905. Pada saat itu, bertepatan dengan kelahiran Putri Yuliana, anak yang ditunggu-tunggu dari Ratu Wilhelmina.

Ternyata dibandingkan sejarahnya, rumahnya ini lebih terkenal dengan cerita mistisnya. Mulai dari pintu ruangan yang kadang terkunci tiba-tiba hingga penampakan fisik maupun suara dari bangunan tua itu.

Andi Amir Aco, salah seorang warga Soppeng mengaku pernah melihat sendiri kejadian menyeramkan itu. Kala itu ia sedang menunggu temannya di depan Villa Yuliana dan mendengar suara derap langkah bak serdadu.

“Kejadiannya sudah agak lama, saya lupa kapan persisnya. Yang jelas kala itu saya dengar suara langkah kaki mirip orang baris-berbaris, saya membayangkan kalau itu adalah tentara Belanda,” kata Amir Aco, menukil Liputan6.

Melihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda yang Tak Lekang oleh Zaman

Kisah rumah Belanda yang angker juga terdapat di Gunung Raung di Jawa Timur. Pesanggrahan Sumberwringin begitu namanya disebut merupakan rumah yang jadi base camp pendakian.

'Aroma' bangunan Belanda masih tercium kuat, dan konon, rumah ini ada 'penunggu'nya. Rumah ini dibangun 1930-an, dan dulu digunakan oleh Belanda.

"Kalau malam di tengah suka ada suara pesta lho," kata Willem Sigar Tasiam, atlet maraton gunung solo, dalam Kompas.com (5/5/2016).

Salah satu yang fenomenal tentunya, rumah yang digunakan untuk pengambilan adegan film Pengabdi Setan di Kawasan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebelum terkenal dalam film garapan Joko Anwar, rumah ini memang sudah terkenal angker oleh warga sekitar.

Rumah tua ini dibuat pada masa Belanda sekitar tahun 1900-an, dan merupakan rumah dinas pimpinan perkebunan teh yang saat ini menjadi PTPN VIII.

Salah satu ceritanya adalah misteri sosok wanita yang diberi julukan Si Merah. Julukan ini berkembang di masyarakat Pangalengan Kabupaten Bandung, terkhusus mereka yang tinggal di tengah-tengah perkebunan teh dan tidak jauh dari rumah tersebut.

"Kira-kira tahun 1920-an, dia (hantu Si Merah) orang pribumi dulunya dia disiksa oleh orang Belanda. Dia bekerja sebagai pemetik teh," kata Rizky Fauzi, pengelola rumah tersebut pada Detikcom.

"Merah itu bukan berarti merah sosoknya tapi kebetulan dia bekerja memakai baju merah. Waktu hujan juga pakai payung merah," tuturnya.

Dicap angker walau indah

Memang rumah hunian peninggalan Belanda di Indonesia lebih sering dianggap sebagai bangunan kuno yang berhantu dan angker. Padahal, rumah Belanda memiliki banyak sisi indah nan artistik yang mengagumkan.

Banyak rumah Belanda di Indonesia yang dibangun dengan arsitektur bergaya Art Deco yang digabungkan dengan gaya tropikal. Arsitektur khas Eropa yang populer sekitar tahun 1900-an dipadukan dengan gaya rumah tropikal sehingga "para meneer" bisa tetap merasa adem saat berada di dalamnya.

Rumah-rumah Belanda banyak dibangun di penjuru Indonesia, mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang dan masih banyak lagi. Di mana terdapat rumah Belanda, di situ berarti pemukiman para pejabat VOC beserta kantor-kantor pentingnya.

Dilansir dari CNN Indonesia, rumah-rumah Belanda banyak ditemukan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa ada yang dialihfungsikan menjadi restoran sampai kafe, seperti restoran Gandy Steak, Plataran, Kaum, dan Starbucks.

Banyak juga rumah pejabat dan kantor pemerintahan di sekitar Menteng yang berupa rumah peninggalan Belanda, salah satunya rumah dinas Gubernur DKI Jakarta di seberang Taman Suropati yang kini ditempati oleh Anies Baswedan.

Rumah Adat Kalimantan Timur, Gambaran Khas Budaya Suku Dayak

Mengutip Arsitektur Indonesia, banyak rumah Belanda yang masih di rawat utuh dan ada juga yang di tinggali. Rumah belanda memiliki karakteristik yang kuat dan nilai historis yang mendalam. Desain karakteristik ini mampu memberikan kesan hubungan dengan masa lampau. Jadi tak ada salahnya banyak orang yang beranggapan rumah peninggalan Belanda identik dengan kesan yang angker.

Saat masuk ke rumah Belanda yang eksterior dan interiornya masih terjaga, kita pasti langsung merasakan aliran udara yang baik. Fasad rumah Belanda biasanya berupa segi empat, segi lima, atau segi enam. Pintu masuk bisa di bangun pada bagian tengah fasad, bisa juga berada di tepi kanan.

Ciri lain dari desain rumah Belanda ini adalah biasanya mempunyai dinding yang cukup tebal. Selain langit-langit yang tinggi, rancangan ini juga secara tak langsung memberikan kesan dingin ketika masuk di dalamnya, meskipun kondisi cuaca di luar panas terik.

Denah ruangan rumah Belanda tak jauh bedanya dengan denah ruangan rumah biasa, di mana terdapat area makan, area keluarga, kamar tidur, dan kamar tamu. Lantai atas lazim digunakan untuk kamar anak, meski secara umum tak seluas lantai bawah.

Di tengah lantai bawah terdapat area sentral tempat berkumpul, mulai dari ruang makan, ruang tamu dan teras. Penghuni rumah Belanda juga tak lupa memajang karya seni berupa lukisan pemandangan dengan media cat minyak di sudut ruangan huniannya.

Rumah Belanda juga memiliki taman rumput yang lumayan luas dan teduh, sehingga ideal untuk ditinggali pasangan baru bersama anaknya yang masih kecil.

Menjadi objek wisata

Sayangnya, saat ini semakin sedikit rumah Belanda yang bertahan dari modernisasi akibat kurang tegasnya pemerintah. Banyak rumah tua ini yang rusak hingga diruntuhkan untuk dibangun bangunan baru, dan melupakan arsitektur bersejarahnya.

Pada 2014 lalu, Pemda DKI Jakarta mengungkapkan total jumlah rumah dan bangunan peninggalan pemerintahan Belanda di seluruh wilayah Jakarta ada sebanyak 1.281 unit. Namun dari total jumlah tersebut, sebanyak 44 persen atau 564 rumah dan bangunan belum terdaftar atau tidak diketahui kepemilikannya.

Padahal, seperti yang dikatakan salah satu pemandu wisata dari Jakarta Good Guide, Candha. Rumah Belanda bisa dilestarikan karena berpotensi besar menjadi objek wisata sejarah.

Salah satunya yang dilakukan di Rumah Yuliana yang berubah fungsi menjadi Museum Latemmamala Kabupaten Soppeng. Di sana berbagai koleksi prasejarah juga bisa ditemukan, seperti fosil gading gajah yang ditemukan di Kecamatan Lilirilau pada tahun 1993.

Selain fosil dan artefak, di dalam Villa Yuliana terdapat banyak foto yang dipajang pada dinding, seperti foto Jembatan Gantung Macanre, foto Kepala Daerah Amin Dg Situru yang disimpan oleh pemerintahan Hindia Belanda (1933-1935), Serta foto Dongiri Temmatipa salah satu falsafah hidup orang Soppeng.

Di Rumah Inilah Bung Karno dilahirkan

Hal ini juga direncanakan oleh Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur yang secara bertahap menjadikan kawasan Jalan Ijen sebagai daerah tujuan wisata sejarah. Pasalnya di sepanjang jalan itu banyak bangunan kuno khususnya rumah-rumah warisan zaman kolonial Belanda yang bisa dinikmati wisatawan sekaligus untuk berfantasi ke masa lalu.

"Saya akan merenovasi dan mempercantik sepanjang Jalan Ijen, termasuk trotoar bagi pejalan kaki. Saya ingin memanjakan para pejalan kaki di sepanjang jalan itu bisa menikmati bangunan-bangunan kuno dengan santai dan bebas," kata mantan Wali Kota Malang Moch Anton (23/2/2015), pada Tribunews.

Candha memang menyayangkan kalau hingga saat ini banyak rumah Belanda yang ditelantarkan, bahkan dianggap masyarakat sebagai rumah berhantu. Padahal jika dilestarikan, bukan tidak mungkin arsitekturnya bakal menginspirasi lebih pembangunan hunian ideal di negara tropis ini.

"Rumah Belanda juga berpotensi menjadi objek wisata. Kalau pun masih ada penghuninya, wisatawan tak perlu masuk, hanya ditujukan saja 'ini lho pemukiman Belanda zaman dulu, ada rumah, dekat dengan sekolah' dan lain sebagainya," pungkas Anton, dalam CNN Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini