Wdihan dan Ken sebagai Refleksi Status Sosial Bangsawan Jawa pada Masanya

Wdihan dan Ken sebagai Refleksi Status Sosial Bangsawan Jawa pada Masanya
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Sejak dulu, manusia telah menggunakan berbagai macam benda dan perabotan untuk menunjukkan status sosial dan ekonomi mereka. Misalnya hiasan kepala bagi pemimpin Suku Inka dan piramida di Mesir, yang dipersembahkan bagi tempat peristirahatan para raja.

Tak terkecuali dengan Suku Jawa kuno. Kain yang memiliki fungsi utama sebagai penutup dan pelindung tubuh, juga memiliki fungsi lain untuk menunjukkan status sosial dan ekonomi pemakainya.

Dilansir dari Merah Putih, terdapat seni ukir berupa guratan fungsi kain di masa Jawa kuno pada relief Karmawibhangga di dinding candi Borobudur. Itulah wdihan dan ken, pakaian yang disebut-sebut merefleksikan status sosial para bangsawan.

Seperti apakah tampilan wdihan dan ken? Bagaimana kain tersebut dapat menunjukkan status sosial pemakainya?

Bersama Literasi Anak Banua, Pemuda Asal Kalsel Tingkatkan Literasi Daerah 3T Indonesia

Kain dan status sosial manusia Jawa kuno

Pada zaman dahulu, kain di Jawa berfungsi untuk menutupi tubuh, menjaga kesopanan, dan menyembunyikan kekurangan. Hal ini berlaku bagi masyarakat secara umum.

Inda Citranida dalam bukunya yang berjudul “Busana Jawa Kuna” menuliskan bahwa bagi kaum bangsawan atau priyayi, kain dapat berfungsi sebagai perhiasan tubuh dan simbol status tinggi atau kebesaran.

Tidak heran jika para bangsawan sering kali memakai pakaian indah dengan kain yang dijahit dengan benang bahkan tulisan emas. Bagi mereka, kain bukan sekadar sebagai penutup tubuh, tetapi juga pertunjukan status sosial.

Wdihan dan ken pakaian Bangsawan Jawa

Ilustrasi | Foto: Leiden University Library
info gambar

Wdihan dan ken kerap kali disebutkan bersamaan. Hal ini dikarenakan keduanya merupakan kain indah bagi para bangsawan Jawa. Bedanya, dalam beberapa sumber prasasti pada abad ke-19, wdihan disebutkan sebagai pakaian bagi kaum pria. Sedangkan ken (kain) merujuk pada pakaian yang dikenakan oleh wanita.

Kain tersebut dinilai sangat berharga dan sering kali diberikan sebagai hadiah jika suatu tanah ditetapkan statusnya menjadi tanah perdikan dalam wilayah kerajaan tertentu.

Sosok Tien Soeharto, Ibu Negara Penopan Kepemimpinan Soeharto

Membuat wdihan dan ken tidak bisa menggunakan sembarang kain. Pada umumnya, kain yang digunakan untuk menciptakan pakaian bangsawan ini terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas dengan beraneka corak dan warna. Salah satunya ialah menggunakan kain katun maupun sutera.

Dengan sentuhan beragam warna mencolok, wdihan dan ken menjadi pakaian cantik yang biasa dimanfaatkan sebagai hadiah. Beberapa sumber prasasti pada abad ke-9 dan ke-10 menunjukkan bahwa wdihan biasanya diberikan kepada kaum laki-laki.

Wdihan diberikansebagai hadiah ketika mengadakan upacara penetapan, sebuah wilayah menjadi sima atau tanah perdikan (sebagai pasek). Berbeda dengan wdihan, ken sendiri akan diberikan kepada kaum perempuan untuk mempercantik penampilan sekaligus menunjukkan status sosial.

Wdihan dan ken sebagai refleksi kejayaan bangsawan

Dalam buku Busana Jawa Kuna, Inda Citraninda juga menuliskan bahwa pada status sosial rendah, kain dipakai hanya sebatas untuk menutupi tubuh. Kemudian, bagi seseorang dengan status sosial tinggi, kain berfungsi untuk menghias tubuh dan sebagai ciri kebesaran.

Prada, istilah bagi tulisan emas dalam batik tradisional, merupakan salah satu bagian penghias pada wdihan dan ken. Kain-kain ini akan dihias secara khusus dengan sulaman benang emas dan tulisan dari bubuk emas. Kemewahan ini menjadi penanda bagi strata bangsawan pada masanya.

Peduli Sesama untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Dalam artikel berjudul “Kain dalam Masyarakat Jawa Kuna”, Edhie Wurjantoro dan Tawalinudin Haris mengungkapkan fungsi sosial dari wdihan (kain) lebih menonjol dari fungsi ekonominya.

Bahkan, beberapa wdihan hanya boleh dipakai secara terbatas oleh kalangan bangsawan, sehingga dengan mengamati jenisnya, kita sudah dapat mengidentifikasi kelas dan status sosial si pemakai.*

Referensi: Merah Putih | Historia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini