Logam Tanah Jarang, Harta Karun yang Bisa Wujudkan Indonesia Sebagai Raja Baterai

Logam Tanah Jarang, Harta Karun yang Bisa Wujudkan Indonesia Sebagai Raja Baterai
info gambar utama

Indonesia memiliki "harta karun" terpendam yang super langka, tapi sayang belum dikembangkan sama sekali. Padahal, "harta karun" ini diincar banyak negara karena sangat dibutuhkan untuk bahan baku peralatan berteknologi canggih di era modern saat ini.

Harta karun terpendam super langka ini bernama logam tanah jarang (LTJ), atau rare earth element. Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai. Namun pada kenyataannya, LTJ ini melimpah, melebihi unsur lain dalam kerak bumi.

Penggunaan LTJ sudah ditemukan sejak dua abad lalu, saat penambang asal Swedia pada 1788 menemukan LTJ pertama dan menamakannya dengan kota dimana unsur tersebut ditemukan, yakni yttrium.

Memasuki abad ke-19, pertarungan untuk menemukan elemen baru pada tabel periodik, termasuk di dalamnya LTJ, menjadi kontestasi prestisius di kalangan kimiawan Eropa. Akan tetapi LTJ baru mulai digunakan secara signifikan pada pertengahan abad ke-20.

Sebelum tahun 1960-an permintaan terhadap LTJ bisa dibilang sangat kecil, lonjakan pertama terhadap permintaan logam ini terjadi di pertengahan tahun 1960-an ketika perangkat televisi berwarna mulai diperkenalkan ke pasar. Europium adalah material penting untuk menghasilkan gambar yang berwarna.

Selanjutnya kemelut perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membawa LTJ ke babak baru. Pada masa ini terjadi peningkatan besar-besaran terhadap riset pemerintah, tak terkecuali terkait LTJ.

Mengenal Kepulauan Sangihe, Permata di Ujung Utara Indonesia

Peneliti angkatan udara AS berhasil mengembangkan magnet dari unsur samarium-kobalt yang memiliki sifat magnetisme yang sangat kuat, dan tetap masih kuat meski dalam kondisi panas. Teknologi ini memungkinkan AS menciptakan instrumen radar yang lebih unggul

Soviet tak mau ikut ketinggalan, ahli metalurgi mereka menciptakan aluminium yang lebih kuat dan ringan menggunakan scandium di tahun 80-an mendekati akhir perang dingin. Teknologi ini mampu meningkatkan kemampuan pesawat tempur MiG-29 milik mereka.

Riset laser mereka bermuara pada pengembangan laser pengukur jarak terbaru untuk keperluan militer yang menggunakan yttrium.

Penggunaan LTJ pada perangkat elektronik berkembang selama tahun 90-an dan 2000-an. Pada awal 90-an Bell Labs mengembangkan fiber menggunakan erbium untuk meningkatkan sinyal dalam kabel fiber optik.

Teknologi ini memungkinkan terciptanya jaringan global dan mampu menurunkan biaya panggilan telepon jarak jauh dan sekarang umum digunakan sebagai pembawa data internet.

LTJ memiliki karakteristik seperti sifat magnet yang kuat dan memiliki sifat katalis, saat ini LTJ digunakan secara luas dalam pengembangan energi bersih (yaitu penerangan LED, turbin untuk energi angin, dan panel untuk tenaga surya PV), industri otomotif (yaitu kendaraan hibrida atau listrik), dan pabrik pengolahan (industri penyulingan minyak).

Seiring berjalannya proses transisi menuju bumi yang lebih bersih, permintaan terhadap logam tanah jarang akan membesar dua kali lipat di tahun 2030. Sehingga semua negara sangat butuh rantai pasokan yang bisa diandalkan, tidak terkecuali Indonesia.

Indonesia kaya kandungan LTJ?

Melimpahnya LTJ membuat cita-cita Indonesia untuk menjadi "Raja Baterai" bukanlah hal mustahil. Komoditas ini memang belum diproduksi di Indonesia. Selain itu memang belum ada data utuh terkait total sumber daya logam tanah jarang ini karena masih minimnya penelitian terkait LTJ di Tanah Air

Dilansir dari CNBC Indonesia, berdasarkan buku "Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia" oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat setidaknya mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik.

Pusat Sumber Daya Geologi-Badan Geologi pada 2014 melakukan kajian untuk mengetahui potensi sumber daya LTJ dalam endapan tailing di wilayah Pulau Bangka dengan menggunakan metoda interpretasi remote sensing.

Hasil kajian menunjukkan tebal endapan tailing 4-6 meter, dengan luas total endapan tailing 500.000 hektare, sehingga diperoleh volume 5.500.000.000 meter kubik (m3). Dengan kadar total LTJ 9,5 gr/m3, maka tonase LTJ mencapai 52.387.500.000 gr atau 52.000 ton.

Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton. Sejumlah mineral yang mengandung LTJ seperti monasit, zirkon, dan xenotim, merupakan mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

Perjuangan Masyarakat Sangihe dan Pihak di Balik Rencana Pertambangan Emas

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan ada sembilan lokasi yang telah terindikasi mengandung mineral logam tanah jarang. Eksplorasi awal telah dilakukan sejak 1991 dan beberapa lokasi telah terindikasi mengandung logam tanah jarang. Teranyar, pada 2018 lalu, lokasi yang terindikasi mengandung logam tanah jarang adalah Sumatra Selatan dan Riau.

Badan Geologi telah menyelidiki 29 lokasi yang berpotensi mengandung logam tanah jarang. Lokasi yang telah diselidiki tersebut berada di wilayah Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Pulau Bintan Riau, Kepulauan Anambas Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.

Dari 29 lokasi tersebut, baru sembilan lokasi yang terungkap memiliki mineralisasi logam tanah jarang. Sembilan lokasi itu berada di Riau (dua titik), Pulau Bangka (dua titik), Belitung, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat.

"Ini baru eksplorasi awal dan belum rinci. Selebihnya 20 lokasi mineralisasi logam tanah jarang baru sebatas data keterdapatan dan indikasi. Jadi, belum optimal eksplorasinya," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar yang dilansir dari Bisnis.

Untuk saat ini,negara yang memiliki cadangan terbesar di dunia berada di China kemudian disusul oleh Amerika Serikat, Australia, dan India. Monopoli China dalam produksi logam tanah jarang tidak hanya memberinya keunggulan strategis atas negara-negara yang sangat bergantung pada komoditas tersebut, seperti AS yang mengimpor 80% logam tanah jarangnya dari China.

Monopoli ini juga menyebabkan rantai pasokan logam tanah jarang global tidak bisa diandalkan, hal ini pernah terjadi di tahun 2010 ketika China menurunkan ekspor kuota sebesar 37% yang menyebabkan harga logam tanah jarang dunia meroket.

Bahkan pada sebuah laporan dari media pemerintah China menyatakan jenis mineral tersebut bisa menjadi 'senjata' dalam perang dagang dengan pihak Washington. Kondisi ini bisa membuat AS tidak akan memiliki pasokan yang cukup karena perlu waktu untuk membangun kapasitas pemrosesan mereka sendiri yang saat ini masih nol.

"Tanah jarang yang erat kaitannya dengan magnet adalah bahan ideal untuk persenjataan dan industrinya sangat sensitif terhadap harga," tutur Managing Director Adamas Intelligence Ryan Castilloux seperti dikutip Reuters, Kamis (6/5/2019).

Kendala hilirisasi logam tanah jarang

Pada bulan Maret lalu, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) melakukan kunjungan ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) untuk meninjau potensi logam tanah jarang (LTH) yang mineralnya melekat dalam bauksit. Lemhannas melihat itu merupakan potensi yang sangat besar untuk masa depan.

"Sangat disayangkan Kalbar banyak ekspor bauksit ke China, anehnya lagi bauksit itu hanya ditumpuk di sana, apakah itu penting bauksit atau sebarannya ada yang mereka cari yang lain kita belum bisa memastikan" ujar Deputi Pengkajian Strategi Lemhannas, Reni Mayerni yang dilansir dari Republika.

Menurut Staff Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Irwandy Arief, pengembangan logam tanah jarang ini bukan tanpa kendala. Irwandy membeberkan sejumlah tantangan.

  1. Dari akurasi tingkat cadangan dan sumber daya yang perlu dipastikan lagi jumlah dan kecukupan nya.
  2. Perlu dilakukan eksplorasi lanjutan yang juga mempertimbangkan aspek bisnis model pengusahanya.
  3. Memastikan teknologi yang pas untuk mengolah konten yang terdapat unsur radio aktif

Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk Alwin Albar, mengakui jika pihaknya masih kesulitan dalam mengembangkan mineral ikutan timah menjadi logam tanah jarang/rare earth (LTJ). Selain kesulitan informasi, teknologi pengolahannya pun dikuasai oleh China.

Tak Hanya di Papua, Wilayah di Indonesia Ini Punya Gunung Emas

“Dalam hal pengumpul sebagai korporasi, PT Timah tetap mempertimbangkan keekonomian dan kami siap membangun hilirisasi jika ada teknologi yang proven kapasitas feed 1000 ton/tahun," ungkapnya.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Irwandy menyebutkan bahwa target pemerintah terhadap investasi sektor tambang mencapai 6 miliar dolar AS di 2021. Sehingga untuk menggenjot investasi ini diperlukan daya tarik yang mampu menarik minat investor diantaranya potensi nikel dan kobalt, komoditas tanah jarang di Bangka Belitung hingga pengembangan investasi sektor mineral kritis.

Sedangkan upaya untuk mengolah mineral ikutan dari kegiatan penambangan timah di Bangka Belitung menjadi LTJ pernah dilakukan oleh PT Timah. Uji coba dengan membangun proyek percontohan pengolahan monasit menjadi rare earth hydroxide (REOH) di Tanjung Ular, Bangka Barat sudah dilakukan sejak 2015.

Proyek percontohan tersebut akan dikembangkan sebagai pendamping rencana komersial dan menjadi acuan untuk pabrik komersial skala industri. Bersama induk usahanya, PT Indonesia Asahan Aluminium atau MIND ID, terus melakukan upaya percepatan pengembangan rare earth ini.

Teknologi yang digunakan dalam pengolahan logam tanah jarang sangat tertutup karena nilainya strategis secara geopolitik. Karena itu, fokus Timah adalah memilih teknologi dan penyediaanya (provider).

Saat ini Indonesia telah memiliki 80 persen mineral yang dibutuhkan untuk memproduksi baterai litium. Perkuatan industri baterai merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang menggunakan kendaraan listrik sebagai salah satu cara untuk menciptakan basis industri masa depan yang dibangun dengan memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah.

Neodimium bertanggung jawab atas sebagian besar permintaan logam tanah jarang, dengan total nilai pasar $ 11,3 miliar pada tahun 2017. Permintaan saat ini melebihi pasokan sekitar 2 hingga 3 ribu ton per tahun, kesenjangan itu diperkirakan akan bertambah lebar karena meningkatnya produksi kendaraan listrik yang menggunakan baterai lithium.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini