Penuh Kisah Menarik, Inilah Sejarah dan Perjalanan Kalender Jawa

Penuh Kisah Menarik, Inilah Sejarah dan Perjalanan Kalender Jawa
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Terdapat berbagai kalender kebudayaan yang dikenal oleh dunia. Beberapa di antaranya telah banyak kita gunakan, seperti Kalender Masehi, Kalender Hijriyah bagi umat muslim, hingga Kalender Jawa yang tetap lestari hingga saat ini.

Tidak banyak suku di dunia yang memiliki sistem kalender sendiri, khususnya sistem yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sepatutnya berbangga karena turut menjaga kalender ini hingga tetap eksis hingga kini.

Meskipun tidak digunakan secara umum seperti halnya Kalender Masehi, Kalender Jawa masih menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Tak jarang, perhitungan hari baik dan pengambilan keputusan masih didasarkan pertimbanga kalender ini.

Kalender Jawa sistem penanggalan warisan Kesultanan Mataram

Kalender Jawa mulai digunakan pada 1633 Masehi setelah pertama kali dicetuskan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sistem penanggalan ini kemudian dimanfaatkan di Kesultanan Mataram dan kerajaan pecahan lain yang mendapatkan pengaruhnya.

Lahir pada tahun 911 Sebelum Masehi, Kalender Jawa diciptakan oleh seseorang bernama Mpu Hubayun. Selanjutnya, terjadi beberapa perubahan terhadap huruf atau aksara dan sastra Jawa oleh Prabu Sri Mahapunggung I, tepatnya pada sekitar 50 Sebelum Masehi.

Dilansir dari Info Budaya, kalender Jawa diciptakan berdasarkan asal usul atau isi semesta, atau disebut sebagai Sangkan Paraning Bawana. Peran Kesultanan Mataram dalam menyebarkan kalender ini membuatnya terus diwariskan secara turun-temurun.

Maka dari itu, hingga saat ini masih berlaku hampir di seluruh Pulau Jawa. Pada sistem ini, terdapat dua siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad hingga Sabtu), dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran.

Selat Solo Kuliner Hasil Akulturasi Eropa dan Jawa

Memadukan tiga sistem penanggalan dari budaya berbeda

Ilustrasi | umbelen.com
info gambar

Salah satu keunikan kalender Jawa terletak pada macam-macam sistem penanggalan yang menginspirasinya. Ialah sistem penanggalan hijriyah (islam), sistem penanggalan hindu, dan sistem penanggalan masehi (julian) dari budaya barat.

Tiga sistem tersebut mulanya beredar dan digunakan di masyarakat secara terpisah. Namun, Sultan Agung mengusulkan penyatuan kalender guna memperkuat persatuan di wilayah Mataram untuk melawan bangsa asing.

Dimulai pada 21 Juni 78 M

Meskipun telah eksis bertahun-tahun sebelumnya, kalender Jawa baru dimulai pada tanggal 1 Badrawana tahun Sri Harsa Windu Kuntara (tanggal 1, bulan 1, tahun 1, dan windu 1). Bertepatan dengan hari Radite Kasih (Minggu Kliwon), atau dalam 21 Juni 78 M pada kalender juvian.

Misteri Bunga Widjojo Koesoemo Tanaman Penobatan Para Raja Jawa

Kalender Jawa dan Siklus Kurup

Pada dasarnya, sistem penanggalan kalender Jawa mengikuti sistem Kalender Hijriyah. Meskipun begitu, tetap terdapat beberapa perbedaan yang memisahkan keduanya. Kalender Jawa memiliki tiga tahun kabisat di tiap windunya (delapan tahun), sedangkan kalender Islam memiliki sebelas tahun kabisat setiap tiga puluh tahunnya.

Perbedaan ini tentunya memiliki dampak tertentu bagi penanggalan kalender Jawa, yaitu peristiwa 120 tahun sekali di mana terdapat satu hari yang harus dibuang agar perhitungan Kalender Jawa dan Kalender Hijriyah tetap sama. Siklus ini dinamakan Siklus Kurup.

Perbedaan Kalender Jawa Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta

Dilansir dari beberapa sumber, terdapat perbedaan dalam Siklus Kurup antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Salah satunya terjadi pada tahun 1748 Masehi. Ketika itu, Keraton Surakarta telah membuang satu hari pada tahun 1675 Jawa. Walaupun menurut perhitungan, saat itu baru berjalan 74 tahun.

Sebagai seseorang yang memutuskan hal tersebut, Pakubuwana V beralasan bahwa penanggalan Jawa sebenarnya sudah tertinggal 1 hari dari Kalender Hijriyah. Sistem ini baru diikuti Keraton Yogyakarta atas perintah Sultan Hamengkubuwana VI pada tahun 1749 Jawa atau 1866 Masehi.

Inilah 6 Negara yang Menggunakan Bahasa Jawa Sebagai Bahasa Sehari-hari

Penamaan Kalender Jawa dan perjalanannya hingga kini

Penamaan nama bulan pada Kalender Jawa sebagian menyesuaikan nama pada Kalender Hijriyah. Namun, terdapat pula nama bulan yang diambil dari Bahasa Sansekerta.

Penamaan tujuh hari pada Kalender Jawa adalah Radite (Minggu), Soma (Senin), Hanggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jum’at), dan Tumpak (Sabtu). Sedangkan peka pasar yang terdiri dari lima hari ialah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Seiring dengan penggunaan Kalender Jawa, lahirlah weton Jawa sebagai salah satu budaya yang tak lekang waktu hingga saat ini. Weton Jawa adalah perhitungan tertentu mengenai Kalender Jawa yang digunakan untuk menentukan tanggal acara-acara saklar, mengetahui ramalan masa depan, hingga mengetahui kepribadian seseorang.

Sebagai salah satu warisan budaya, kita perlu bangga memiliki Kalender Jawa sebagai ciri khas unik yang dimiliki Indonesia. Dengan mempelajarinya, kita dapat meneruskan ilmu ini ke generasi di masa depan, dan memastikan keberadaan sistem penanggalan ini agar tetap lestari.*

Referensi: Merdeka | Kumparan | Info Budaya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini