Melihat 5 Periode Perkembangan Teater di Indonesia

Melihat 5 Periode Perkembangan Teater di Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung Telegram Kawan GNFI untuk dapat informasi seputar program dan tulisan terbaru Good News From Indonesia.

Sebagai salah satu seni pertunjukan tertua di dunia, teater telah ada di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan. Melalui adanya akulturasi dari berbagai budaya, agama, hingga negara, teater Indonesia terus berkembang hingga kini menjadi teater kontemporer yang sering Kawan jumpai.

Teater berasal dari kata “theatre” dalam bahasa Inggris yang area luar ruangan di mana drama dan pertunjukan dramatis lainnya diberikan, atau sebuah kegiatan dalam memproduksi, mengarahkan, atau menulis drama. Sedangkan dalam bahasa Yunani, kata ini diambil dari “theatron” yang memiliki makna sebagai tempat untuk menonton.

Di Indonesia, teater awalnya memiliki fungsi sebagai pertunjukan pemujaan sebelum kini menjadi salah satu seni yang banyak ditampilkan di tiap daerah seluruh negeri.

Eksistensi Grup Teater Masa Kolonial

Dari teater tradisional hingga teater modern

Teater Tradisonal | pojokseni.com
info gambar

Dilansir dari Kumparan, awal mula sejarah teater di Indonesia dimulai pada Zaman Hindu. Hal ini ditandai oleh adanya unsur-unsur teater pada pelaksanaan upacara adat agama Hindu. Selanjutnya, masyarakat ikut mengembangkan teater pada masa itu menjadi pertunjukan spontanitas yang ditampilkan di luar upacara adat.

Dalam perjalanannya, teater Indonesia memiliki kisah masing-masing yang beragam. Ini karena bangsa ini terdiri atas berbagai suku dan budaya yang melahirkan ciri khas dan tata cara yang berbeda dalam berteater.

Beberapa teater tradisional Indonesia adalah drama gong, lenong, beragam jenis wayang, ludruk, ketoprak, ubrug, dan banyak lagi. Kini, seni pertunjukan tersebut kebanyakan hanya digelar pada acara-acara penting tertentu.

Selepas masa teater tradisional, dunia teater di Indonesia menginjak masa teater modern yang juga disebut sebagai teater transisi. Adanya pengaruh budaya dari negara lain memberikan sentuhan warna yang berbeda pada teater ini. Memiliki unsur teknik teater barat yang dibawa oleh orang Belanda pada tahun 1805, teater transisi membuka cakrawala baru bagi seni pertunjukan di Indonesia.

Longser Seni Teater Tradisional Penuh Banyolan dari Jawa Barat

Maraknya pertunjukan teater transisi pada masa kolonial Belanda menjadi salah satu alasan berdirinya gedung Schouwburg atau Gedung Kesenian Jakarta di tahun 1821. Hanya pada tahun 1891,teater ini mulai dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, bertepatan dengan berdirinya Komedie Stamboel di Surabaya.

Teater transisi terus mengalami perkembangan hingga berdirinya Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan oleh Willy Klimanoff di tahun 1926. Pada masa penjajahan Jepang, teater transisi juga terus berkembang memunculkan berbagai seni pertunjukan lain, seperti Sandiwara Orion dan Komidi Bangsawan.

Lima periode teater modern di Indonesia

Ludruk | Foto: Berdikari
info gambar

Berawal dari seni pertunjukan adat dalam ritual keagamaan yang dianggap sebagai sesuatu yang khidmat dan serius, teater bertumbuh seiring berjalannya waktu dan bergeser menjadi seni hiburan.

Dalam buku karya Riantiarno, Jakob Sumardjo membagi teater modern Indonesia menjadi lima periode, yaitu masa perintisan, masa kebangkitan, masa perkembangan, masa mutakhir, dan masa kontemporer.

Masa Perintisan (1885—1925)

Berawal dari hadirnya teater pada kalangan bangsawan, saat itu masyarakat kalangan bawah ikut menggemari tontonan panggung tiruan opera dengan cerita berpusat pada kehidupan raja-raja dengan pakaian gemerlap dan dialog yang dinyanyikan seperti opera pada umumnya.

Selanjutnya, Teater Stamboel di Surabaya berdiri untuk membawakan cerita yang bertema timur tengah. Didirikan pada tahun 1891, teater ini dipimpin oleh seorang Indo bernama August Mahie.

Masa Kebangkitan (1924—1941)

Masa ini berawal dari hadirnya perkumpulan Dardanella yang didirikan oleh A. Pierdro yang menghadirkan pertunjukan berbahasa Melayu Rendah. Kemudian, grup teater Miss Riboet Orion ikut hadir dan sukses pada zaman kolonial di Indonesia. Pada tahun 1926 menjadi awal teater modern Indonesia, dengan ditulisnya naskah teater Bebasari berbahasa Indonesia oleh Rustam Effendi.

Berjaya di Festival Film Internasional, Film Anak Bangsa Raih Golden Leopard Award

Masa Perkembangan (19421970)

Pada masa ini, penjajah Jepang datang dan memberlakukan sensor terhadap karya-karya naskah lakon Indonesia. Saat inilah lahir berbagai seniman penulis naskah seperti Usmar Ismail, Abu Hanifah, dan lainnya. Teater ini kemudian berkembang di masa penjajahan Jepang sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintahan totaliter Jepang.

Masa singkat tersebut dilanjutkan dengan pasca kemerdekaan Indonesia dengan didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATMI) oleh Usmar Ismail, D. Djajakusuma, dan Asrul Sani. ATMI berperan dalam mendorong keaktifan grup-grup teater di Indonesia sekaligus mendidik calon-calon seniman teater bangsa.

Periode ini juga disemarakkan oleh beragam pengarang produktif nan berkualitas, seperti Achdiat Karta Miharja, Aoh K Hadimaja, dan Sitor Situmorang. Perkembangan teater di awal kemerdekaan ini umumnya terdiri atas kisah-kisah perenungan atas jasa, pengorbanan, dan keberanian para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan. Beberapa karya teater Indonesia periode 1950-an adalah Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1953), dan Hanya Satu Kali (1956).

Masa Teater Mutakhir (19701980)

D. Djajakusuma, Salah Satu Seniman Teater Indonesia | Indonesian Film Center
info gambar

Pada masa ini, lahir teater-teater perintis ATNI, seperti Teater Populer yang dipimpin oleh Teguh Karya dan Teater Lembaga yang dipimpin oleh D. Djajakusuma.

Masa Kontemporer (1980sekarang)

Pada periode ini, para pengarang dan seniman teater telah tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Bersama dengan itu, hadir pula dewan kesenian, lembaga kesenian, dan studi kebudayaan yang berperan dalam mendukung lahirnya tokoh-tokoh teater Indonesia.

Adanya Taman Ismail Marzuki juga ikut serta memberikan warna dan corak teater Indonesia. Selain itu, adanya sayembara-sayembara oleh Dewan Kesenian Jakarta juga mencetak generasi-generasi baru teater Indonesia yang tidak diragukan kualitasnya.

Perkembangan teater Indonesia melewati sejarah dan perkembangan yang cukup panjang. Aneka corak dan warna teater tiap daerah juga menjadikannya sebagai keragaman yang berharga bagi kekayaan kita sebagai suatu bangsa.*

Referensi: Kumparan | Tambah Pinter

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini