Tingkat Literasi Meningkat, Ini 10 Provinsi dengan Angka Melek Huruf Tertinggi 2020

Tingkat Literasi Meningkat, Ini 10 Provinsi dengan Angka Melek Huruf Tertinggi 2020
info gambar utama

Literasi merupakan istilah yang kini kian digalakkan terutama di dalam dunia pendidikan. Pada umumnya, literasi merupakan kata yang mewakili kemampuan dan keterampilan tiap individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada bidang tertentu yang ditemui di kehidupan sehari-hari. Definisi literasi tersebut dikutip dari "Kupas Tuntas Jenis dan Pengertian Literasi"

Namun, seringkali ditemukan atau bahkan umumnya, konsep literasi hanya difokuskan pada kemampuan membaca sehingga upaya peningkatan literasi hanya berfokus pada peningkatan minat baca individu atau kelompok. Salah satu contohnya adalah GLS atau Gerakan Literasi Sekolah banyak diterapkan di sekolah dasar hingga sekolah menengah.

GLS tersebut diterapkan dengan cara membiasakan budaya membaca buku tertentu atau pilihan selama beberapa waktu sebelum kelas di mulai. GLS merupakan cabang dari GLN atau Gerakan Literasi Nasional yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berasama Gerakan Literasi Keluarga (GLK) dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM).

Dikarenakan literasi di Indonesia sebagian besar berfokus pada budaya membaca, oleh sebab itu kemampuan melek huruf individu memiliki peran penting dalam peningkatan literasi di Indonesia. Kemampuan melek huruf adalah kemampuan membaca setidaknya salah satu aksara Alfabet yang digunakan atau berlaku di suatu wilayah.

Bersama Literasi Anak Banua, Pemuda Asal Kalsel Tingkatkan Literasi Daerah 3T Indonesia

10 Provinsi dengan Angka Melek Huruf Tertinggi di Indonesia per 2020

Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pun turut andil dalam memantau kondisi tingkat melek huruf yang menjadi dasar literasi di Indonesia. Publikasi terakhir dari BPS mengenai tingkat melek huruf dirils pada tahun 2020 dengan fokus survey pada penduduk usia di atas 15 tahun.

Berdasarkan publikasi tersebut, terlihat kenaikan persentase angka melek huruf di Indonesia sejak tahun 2014 (95,12 persen) hingga tahun 2020 (96.00 persen). Sementara itu, persentase angka melek huruf di Indonesia juga menigkat di beberapa provinsi, seperti daftar di bawah ini yang merupakan sederet provinsi dengan persentase angka melek huruf tertinggi pada tahun 2020.

Provinsi dengan tingkat melek huruf tertinggi | GoodStats
info gambar

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa sembilan dari sepuluh provinsi dengan persentase angka melek huruf tertinggi di Indonesia merupakan provinsi yang berada di luar Pulau Jawa. Dalam konteks ini terlihat bahwa istilah Jawa Centris agaknya tidak berlaku dan kemampuan membaca di beberapa daerah dapat dikatakan merata dengan tingkat kemampuan berada di atas persentase rata-rata nasional.

Provinsi Sulawesi Utara selalu menjadi provinsi dengan persentase angka melek huruf tertinggi di Indonesia sejak publikasi BPS di tahun 2013 hingga tahun 2020. Konsistensi Sulawesi Utara dalam upaya mengentaskan angka buta huruf pun diapresiasi dalam program Pengentasan Buta Aksara pada tahun 2013. Sulawesi Utara meraih peringkat pertama dalam program yang dilaksanakan secara nasional.

Capaian Sulawesi Utara pada program tersebut yakni persentase angka melek huruf sebesar 99,63 persen dan sisanya sebesar 0,37 persen angka buta huruf. Angka tersebut berarti kurang dari sembilan ribu orang buta huruf dari total jumlah penduduk Sulawesi Utara yang pada saat itu lebih dari 2.270.000 jiwa. Capaian ini jauh melampaui persentase rata-rata nasional yang masih menyisakan jumlah buta huruf sebesar 4,43 persen (Data BPS RI 2011).

Sementara itu, provinsi DKI Jakarta yang merupakan Ibu kota Indonesia ini menempati peringkat ke dua sebagai provinsi dengan persentase angka melek huruf tertinggi. Sebagai apresiasi pencapaian tersebut, pemerintah DKI Jakarta yang diwakili langsung oleh Gubernur Anies Baswedan mengikutsertakan DKI Jakarta dalam pencalonan World Book City UNESCO dengan mengusung tagline "Eja.kar.ta, Everybody’s Reading".

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan, memaparkan bahwa beberapa tahun belakangan ini Jakarta mengalami kenaikan literasi warga karena adanya dukungan dari program utama Pemprov DKI Jakarta. Hingga 2020, tercatat 19% penerbit di Indonesia berada di Jakarta dan telah mendaftarkan 14.906 ISBN.

Pembuktian Jakarta sebagai kota yang mendukung kegiatan yang meningkatkan minat baca ini tak hanya dilakukan dengan mengikuti pencalonan sebagai Kota Buku Dunia UNESCO, tetapi juga mengikuti pencalonan untuk menjadi City of Literature 2021, di mana proposal paling lambat harus diterima UNESCO pada Juli 2021.

Pelestarian Budaya lewat Literasi Nusantara

Tantangan dan upaya pemerintah dalam meningkatkan literasi

Anak-anak sekolah dasar | Foto : Shutterstock/Masmikha
info gambar

Meskipun persentase rata-rata nasional mengenai angka melek huruf di Indonesia terus mengalami kenaikan, hal tersebut tidak menutup celah masih adanya beberapa wilayah yang memiliki angka melek huruf rendah. Dalam hal ini, ada dua provinsi yang memiliki persentase angka melek huruf di bawah 90 persen di tahun 2020.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan provinsi Papua menjadi dua provinsi dengan persentase angka melek huruf di bawah 90 persen pada tahun 2020, yakni 87,60 persen untuk Nusa Tenggara Barat dan 77,90 persen untuk Papua.

Kenyataan itu diafirmasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam halaman resminya. Artikel yang berjudul Budaya Literasi Warga Papua Masih Menjadi Tantangan, cukup memberi gambaran bahwa masih adanya kesenjangan tingkat literasi, salah satunya angka melek huruf yang terjadi di Papua.

Tantangan yang harus dilewati guna memperbaiki tingkat literasi di Papua antara lain letak geografis beberapa wilayah yang sukar dijangkau sehingga memerlukan tenaga lebih untuk bisa mengakses wilayah tersebut, tenaga pendidik yang tidak sebanding dengan jumlah peserta didik (siswa maupun masyarakat luas yang masih buta huruf) hingga fasilitas pendidikan yang kurang memadai.

Sederet tantangan yang sudah menghadang di depan pun akhirnya mampu menggerakkan berbagai macam upaya peningkatan literasi yang di dalamnya termasuk upaya meningkatakan angka melek huruf. Upaya-upaya tersebut antara lain dilakukan oleh organisasi nirlaba atau biasa disebut dengan Non-Goverment Organization (NGO) dengan aktivitas volunteering selama beberapa waktu seperti Gerakan Papua Mengajar (GPM).

Selain itu, hadir juga program kerja sama pemerintah dengan yayasan relawan seperti Indonesia Mengajar dengan Pengajar Muda sebagai bentuk sapaan untuk para relawan yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Serta tentunya harus hadir peran pemerintah secara utuh untuk memberikan solusi baik teknis maupun non teknis dalam upaya peningkatan literasi di berabagai daerah seperti Papua dan Nusa Tenggaara Barat.

Kembali pada definisi literasi di awal, konsep literasi tidak hanya membaca. Oleh sebab itu, komponen lain dalam ekosistem literasi individu, keluarga dan masyarakat perlu juga ditingkatkan. Menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki juga perlu diasah sebagai bentuk proses berpikir kritis sehingga tidak mudah terjerumus disinformasi.

Selain itu, budaya membaca dalam upaya meningkatkan literasi juga tidak terpaku pada buku paket ataupun buku cetak dari penerbit mayor. Membaca segala teks yang berhadapan dengan mata pun dapat menjadi proses masuknya informasi yang nantinya akan dipilih mana yang layak untuk diingat dan dipahami serta informasi mana yang perlu diabaikan, termasuk dalam konteks informasi digital saat ini.

Kisah Iin Herlina dalam Upaya Meningkatkan Literasi di Wilayah Pelosok Flores

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini