Pusat-Pusat Manufaktur Paling Menarik di Dunia. Di Mana Posisi Indonesia?

Pusat-Pusat Manufaktur Paling Menarik di Dunia. Di Mana Posisi Indonesia?
info gambar utama

Pada pertengahan Agustus 2021, Cushman & Wakefield, sebuah firma konsultan properti ternama yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat, menerbitkan laporan 2021 Global Manufacturing Risk Index, yang me-ranking lokasi-lokasi paling menguntungkan untuk manufaktur global di antara 47 negara di Eropa, Amerika, dan Asia-Pasifik (APAC).

Secara mengejutkan, India telah melewati Amerika Serikat (AS) sebagai tujuan manufaktur kedua yang paling menarik di dunia, dan menurut laporan tersebut terutama didorong oleh daya saing biaya yang lebih rendah. Tahun ini, AS berada di posisi ketiga, diikuti oleh Kanada, Republik Ceko, Indonesia, Lithuania, Thailand, Malaysia, dan Polandia.

Dalam laporan tahun lalu, AS berada di posisi kedua sedangkan India di peringkat ketiga.

Pemeringkatan dalam laporan Cushman & Wakefield tersebut ditentukan berdasarkan empat parameter utama, termasuk di dalamnya adalah kemampuan negara untuk memulai kembali manufaktur, lingkungan bisnis (ketersediaan bakat/tenaga kerja, akses ke pasar), biaya operasi, dan risiko (politik, ekonomi, dan lingkungan).

Peringkat dasar untuk tujuan manufaktur paling atraktif ditentukan berdasarkan kondisi operasi dan efektivitas biaya suatu negara.

Tahun ini, India dan AS bertukar tempat (kedua dan ketiga) membawa India satu peringkat di atas dari peringkat yang dirilis tahun lalu. Perubahan peringkat ini dikaitkan dengan relokasi pabrik dari China ke bagian lain Asia karena basis yang sudah mapan di sektor farmasi, kimia, dan teknik, yang terus menjadi pusat ketegangan perdagangan AS-China.

Skenario baseline sama pentingnya dengan kondisi operasi dan daya saing biaya suatu negara.

Sementara itu, China mempertahankan posisi teratasnya dan terus mendiversifikasi basis manufakturnya. Laporan tersebut menyatakan bahwa bahkan dengan kekhawatiran pemerintahan Biden tentang perdagangan, China terus mendiversifikasi basis-basis manufakturnya untuk meningkatkan rantai nilai (value-chain) untuk fokus pada telekomunikasi, teknologi tinggi, dan komputer.

Wilayah Guangdong dan Jiangsu menjadi ujung tombak komponen elektronik dan manufaktur otomotifnya, sementara Zhejiang dan Liaoning berfokus pada bahan kimia dan sumber daya alam.

AS memang masih menjadi hub yang atraktif karena menawarkan pasar konsumen yang besar serta insentif di tingkat negara bagian dan federal. Adopsi teknologi dan kebijakannya yang cepat dapat menjadikannya pesaing yang tangguh bagi China di masa depan.

Dr. Dominic Brown, Head of Insight & Analysis, Asia Pasifik dari Cushman & Wakefield, mengatakan, “Seiring virus Covid-19 yang mulai dapat dikendalikan, pusat-pusat manufaktur telah melonjak. China telah mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pabrikan AS dan Eropa, yang menjalani isolaso mereka sendiri, untuk menangkap pangsa ekspor global yang lebih besar, dari sekitar 13 persen pada 2019 menjadi 15 persen pada 2020. Selanjutnya, ekspor dari China pada Q1 2021 sekitar 27 persen lebih tinggi dari Q2 2019, atau setara dengan 150 miliar dolar AS.”

“Pasar lain juga memanfaatkan permintaan yang meningkat untuk produk-produk utama seperti mikroprosesor, chip komputer, dan obat-obatan. Korea Selatan telah diuntungkan dari melonjaknya nilai semikonduktor, yang berasal dari permintaan yang kuat dan kekurangan produk secara global dengan manufaktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) naik 16,8% dari tahun ke tahun pada Januari 2021,'' beber Brown.

''...namun, produsen pakaian jadi di seluruh dunia terus berjuang dengan rendahnya tingkat permintaan yang berdampak pada pasar seperti India dan Indonesia, yang hingga kini masih berjuang melawan gelombang virus kedua dan ketiga.”

Di China, dua tren yang jelas telah berlangsung:

  1. Produsen bergerak ke atas rantai nilai mengikuti investasi skala besar ke dalam robotika, kecerdasan buatan dan blockchain; dan
  2. Pembuatan barang pesanan rendah yang bergerak ke luar negeri, terutama ke Asia Tenggara. Ada peningkatan 5 persen dalam stok industri Jakarta pada tahun lalu saja.

Ada juga minat yang meningkat di India, terutama mengingat keberhasilan negara yang terbukti dalam memenuhi persyaratan outsourcing.

Selain itu, Vietnam makin naik daun bagi produsen dari seluruh dunia karena sentralitas regionalnya, integrasi pasar yang bagus, dan biaya produksi yang menguntungkan, di mana Samsung, Apple, Nintendo, LG, Panasonic, dan Intel semuanya berlokasi di negara tersebut.

Vietnam juga meningkatkan rantai nilai, memosisikan dirinya sebagai destinasi sangat menarik bagi teknologi menengah dengan sektor elektroniknya.

Pada peringkat dasar tahun ini, Thailand memberi peringkat yang baik pada daya saing biaya. Profil biaya negara meningkat, memindahkan Thailand ke tempat ke-5 dari ke-8 dan di depan Malaysia, yang telah melihat kenaikan upah yang berkelanjutan, laporan tersebut mencatat.

Global Manufacturing Risk Index (MRI) tahunan yang dirilis oleh Cushman & Wakefield menilai setiap negara terhadap 20 variabel yang membentuk tiga peringkat tertimbang akhir yang mencakup kondisi, biaya, dan risiko.

Data yang mendukung MRI berasal dari berbagai sumber terpercaya, di antaranya Bank Dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Economic Forum, dan Moody's Analytics.

Berdasarkan analisis, China menempati posisi wahid di keempat peringkat tersebut, dan memperkuat posisi terdepannya sebagai pusat manufaktur paling menarik secara global.

Peringkat Bounce Back

China dan Singapura masing-masing menempati peringkat pertama dan keenam pada peringkat ini, yang mengukur kemampuan suatu negara untuk memulai kembali sektor manufakturnya. Karena kondisi bisnis terus membaik dan dengan vaksinasi yang sedang berlangsung, perkiraan pertumbuhan ekonomi umumnya direvisi ke atas.

Skenario Dasar

China mempertahankan posisi teratas pada peringkat skenario dasar karena terus mendiversifikasi basis manufakturnya, meningkatkan rantai nilai untuk fokus pada telekomunikasi, teknologi tinggi (40 persen robot yang diproduksi secara global dibuat di China), dan komputer.

Wilayah manufaktur utama di China termasuk Guangdong dan Jiangsu, yang fokus pada komponen elektronik dan otomotif, sementara Zhejiang dan Liaoning fokus pada bahan kimia dan sumber daya alam.

Skenario Biaya

Sementara China juga mempertahankan posisi terdepan dalam skenario ini, posisi Vietnam dan India diambil alih oleh Indonesia yang naik ke urutan kedua dari tempat kelima, paling tidak sebagiannya karena penurunan sewa Jakarta yang terlihat selama setahun terakhir.

India juga bertukar tempat dengan Vietnam untuk menempati peringkat ketiga dan keempat masing-masing. Sementara biaya upah di Vietnam tetap lebih murah daripada China, Vietnam menghadapi persaingan yang meningkat dari lokasi berbiaya lebih rendah dan perlu menunjukkan kekuatannya di bidang lain dari proses manufaktur, seperti konektivitas geografisnya.

Seperti Indonesia, profil biaya Thailand meningkat tahun ini, membantunya naik ke peringkat kelima dan mengungguli Malaysia, yang terus mengalami kenaikan upah.

Skenario Risiko

Lockdown yang dini dan efektif untuk mengendalikan gelombang pertama pandemi membantu sektor manufaktur China rebound setelah kuartal I (Q1) 2020. Kinerja yang kuat dari sektor manufakturnya selama sisa tahun 2020 berkontribusi pada peringkat tempat pertama yang lebih baik dari perkiraan di skenario risiko.

AS dan Kanada didorong kembali ke tempat kedua dan ketiga masing-masing sementara China melonjak dari tempat kelima tahun lalu.

“Pandemi saat ini telah mempercepat pertumbuhan e-commerce, di sisi lain juga mengekspos kerentanan dalam rantai pasokan global. Sangat penting bagi perusahaan manufaktur untuk menilai kembali strategi dan infrastruktur rantai pasokan saat ini untuk meningkatkan ketahanan mereka dan tetap kompetitif,” kata Tim Foster, Kepala Penasihat Rantai Pasokan & Logistik, APAC, Cushman & Wakefield.

“Masa depan pasca-Covid-19 kemungkinan akan melihat ketergantungan yang lebih besar pada teknologi yang memfasilitasi Industri 4.0, karena perusahaan berusaha untuk tetap kuat, memastikan diversifikasi yang lebih luas dengan pabrik manufaktur yang lebih kecil dan terdistribusi secara geografis yang lebih tahan terhadap berbagai disrupsi,” tambah Dennis Yeo, Kepala Layanan Investor, APAC, Cushman & Wakefield.

Referensi:

“India Emerges as Second Most ATTRACTIVE Manufacturing Hub GLOBALLY, Says Report.” The Economic Times, economictimes.indiatimes.com/news/economy/indicators/india-emerges-as-second-most-attractive-manufacturing-hub-globally-says-report/articleshow/85557426.cms.

“India Overtakes Us to Become Second-Most SOUGHT-AFTER Manufacturing Destination.” Business Today, www.businesstoday.in/latest/economy/story/india-overtakes-us-to-become-second-most-sought-after-manufacturing-destination-305048-2021-08-24.

Limited, Bangkok Post Public Company. “Surge in Asia Pacific's Largest Manufacturing Centres Driven by Global Demand.” Https://Www.bangkokpost.com, www.bangkokpost.com/thailand/pr/2167299/surge-in-asia-pacifics-largest-manufacturing-centres-driven-by-global-demand.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini