Kiprah Atlet Indonesia Sepanjang Ajang Paralimpiade

Kiprah Atlet Indonesia Sepanjang Ajang Paralimpiade
info gambar utama

Gelaran acara olahraga Tokyo 2020 Paralympic Games atau Paralimpiade Tokyo 2020 tengah berlangsung di Jepang sejak Selasa (24/8/2021) kemarin sampai 5 September 2021 mendatang di bawah naungan Komite Paralimpiade Internasional atau International Paralympic Committee (IPC).

Paralimpiade adalah ajang olahraga multicabang terbesar di dunia yang diikuti oleh atlet difabel. Paralimpiade edisi ke-16 ini mempertandingkan 22 cabang olahraga (cabor) yang diikuti 163 National Paralympic Committee (NPC) yang mewakili tiap negara.

Olahraga untuk atlet difabel sudah ada selama lebih dari 100 tahun. Bahkan, klub olahraga pertama untuk tuna rungu sudah ada pada 1888 di Berlin.

Paralimpiade diperkenalkan secara luas tidak sampai setelah Perang Dunia II untuk membantu sejumlah besar veteran perang dan warga sipil yang terluka selama masa perang.

Indonesia di Paralimpiade Tokyo 2020: Atlet, Harapan, dan Jadwal Pertandingan

Sejarah Paralimpiade

Ludwig Guttmann, seorang dokter ahli saraf terkemuka, membuka pusat cedera tulang belakang di Rumah Sakit Stoke Mandeville di Inggris Raya atas permintaan pemerintah Inggris pada 1944. Mengutip dari Kompas.com, Guttmann memilih olahraga sebagai bagian dari metode terapi yang ia lakukan untuk memulihkan kondisi psikologis para tentara. Seiring waktu, olahraga rehabilitasi berkembang menjadi olahraga rekreasi dan kemudian menjadi olahraga kompetitif.

Pada 29 Juli 1948, Guttmann menyelenggarakan kompetisi pertama untuk atlet kursi roda yang diberi nama Stoke Mandeville Games. Kompetisi ini menjadi tonggak sejarah Paralimpiade.

Lalu, dilaksanakan kompetisi lanjutan pada 1952 dengan mantan prajurit dari Belanda bergabung menjadi pesaing Inggris. Tak hanya itu, di tahun yang sama, International Stoke Mandeville Games resmi didirikan

International Stoke Mandeville Games kemudian menjadi Paralympic Games. Ajak ini diadakan pertama kali di Roma, Italia pada 1960 dengan menampilkan 400 atlet dari 23 negara. Sejak saat itu, paralimpiade diadakan setiap empat tahun.

Pada 22 September 1989, Komite Paralimpiade Internasional didirikan sebagai organisasi nirlaba internasional di Dusseldorf, Jerman. Komite ini bertindak sebagai badan pengatur global Gerakan Paralimpik.

Adapun kata "Paralimpiade" berasal dari kata depan Yunani "para" (di samping atau di sisi) dan kata "Olimpiade". Artinya adalah Paralimpiade merupakan pertandingan paralel dengan Olimpiade dan menggambarkan bagaimana kedua ajang tersebut diadakan secara berdampingan.

Indonesia dalam Paralimpiade, Medali Emas Pertama dari Pesta Olahraga Sebelum Olimpiade

Indonesia di Paralimpiade

Perolehan medali kontingen Indonesia di ajang Paralimpiade dari tahun ke tahun | Goodstats

Selama berlaga di ajang Paralimpiade, Indonesia telah membawa pulang 18 medali yang terdiri dari empat emas, empat perak, dan 10 perunggu. Namun, jumlah tersebut belum diakumulasi dengan perolehan medali dari Paralimpiade Tokyo 2020 yang sedang berlangsung.

Adapun cabor yang paling banyak menyumbang medali untuk Indonesia adalah lawn bowls dengan total delapan medali. Untuk lebih lengkapnya sebagai berikut.

  • Lawn bowls - 8 medali.
  • Atletik - 7 medali.
  • Angkat Besi - 1 medali.
  • Powerlifting - 1 medali.
  • Tenis Meja - 1 medali.

Paralimpiade Toronto, Kanada 1976

Indonesia debut di Paralimpiade saat Toronto, Kanada menjadi tuan rumah pada 1976. Saat itu, Indonesia mengirimkan wakil 12 atlet. Di laga pertama keikutsertaan, Indonesia berhasil meraih dua medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu.

Emas pertama disumbangkan Itria Dini dari nomor lempar lembing putra kategori F dan Syarifuddin dari nomor lawn bowls putra kategori E. Itria Dini juga turut menyumbang perunggu dari nomor tolak peluru kategori F bersama Saneng Hanafi yang merebut dua perunggu dari nomor lempar cakram dan lempar lembing kategori F. Medali perak dibawa Ashari yang turun di cabang atletik nomor 100 meter kategori E.

Paralimpiade Arnhem, Belanda 1980

Kemudian, pada Paralimpiade Arnhem, Belanda di tahun 1980, wakil yang dikirimkan bertambah tiga, menjadi 15 atlet. Sama seperti sebelumnya, Indonesia berhasil meraih dua medali emas. Selain itu, Indonesia juga mengantongi empat medali perunggu.

Di tahun ini, emas dibawa oleh Yan Soebiyanto lewat nomor lawn bowls putra kategori E dan R.S. Arlen lewat nomor angkat besi putra -57kg. Perunggu disumbang Sigit Soepadi dari cabor lawn bowls putra kategori E, Soekarno dari lawn bowls putra kategori E, Moenali dan Yamin Ismail dari cabor lawn bowls ganda putra kategori C, serta RS Arlen dan Safri Tanjung dari cabor lawn bowls ganda putra kategori D.

Paralimpiade New York, Amerika Serikat 1984

Empat tahun kemudian, saat Paralimpiade New York 1984, Indonesia mengirimkan delapan atlet dan membawa pulang dua medali, satu medali perak dan satu medali perunggu.

Perak dibawa oleh Ninik Umardiyani nomor lawn bowls putri A2/4. Medali perunggu dibawa oleh pasangan Kurnianto dan Memed Lesmana dari nomor lawn bowls ganda putra A6/8.

Paralimpiade Seoul, Korea Selatan 1988

Selanjutnya, di Paralimpiade Seoul 1988, Indonesia mengutus wakil terbanyak sebelum tahun ini yaitu dengan 19 atlet dan berhasil meraih dua medali perunggu.

Dua medali tersebut dibawa dari cabor atletik oleh Hadi Abdulaziz dan Soeparni dalam kategori lompat tinggi putra B1 dan menembak putra A4/A9.

Paralimpiade Atlanta, Amerika Serikat 1996; Sydney, Australia 2000; Athena, Yunani 2004; Beijing, China 2008

Indonesia sempat absen dalam Paralimpiade Barcelona dan Madrid 1992. Kontingen Merah Putih kembali bertanding dengan satu atlet di Paralimpiade Athena 1996.

Kemudian, di Paralimpiade Sydney 2000, Indonesia mengirimkan empat wakil. Pada Paralimpiade Athena 2004 dan Beijing 2008, Indonesia mengutus tiga atlet.

Sejak 1996, capaian Indonesia menurun seiring makin banyaknya negara peserta. Indonesia tidak pernah lagi membawa pulang medali.

Paralimpiade London, Inggris 2012

Pada Paralimpiade London 2012, Indonesia kembali meraih medali perunggu melalui David Jacobs lewat nomor tunggal putra tenis meja kelas 10. Di tahun itu, Indonesia mengirim empat atlet.

Paralimpiade Rio de Janeiro, Brasil 2016

Selanjutnya, Indonesia mengirimkan sembilan atlet dalam Paralimpiade Rio 2016. Melalui Ni Nengah Widiasih yang bertanding di powerlifting kelas 41 kg, Indonesia berhasil membawa medali perunggu.

Paralimpiade Tokyo, Jepang 2020

Pada tahun ini, Tim Merah Putih mengirimkan 23 atlet dari tujuh cabang olahraga, yaitu atletik, badminton, tenis meja, renang, balap sepeda, powerlifting, dan menembak. Jumlah ini merupakan jumlah terbanyak sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia dalam acara Paralimpiade ini.

Per Minggu (29/8/2021), Indonesia telah membawa pulang tiga medali, yaitu satu perak dan dua perunggu. Medali perak dibawa oleh Ni Nengah Widiasih dari powerlifting kelas 41 kg. Lalu, medali perunggu dibawa oleh Sapto Yoga Purnomo dari cabor atletik kategori lari 100 meter T37 dan David Jacobs dari cabor tenis meja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Lydia Fransisca lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Lydia Fransisca.

LF
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini