Ancaman Sampah Plastik di Hutan Mangrove Pesisir dan Upaya Mengatasinya

Ancaman Sampah Plastik di Hutan Mangrove Pesisir dan Upaya Mengatasinya
info gambar utama

Hutan mangrove di kawasan Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali, dilaporkan penuh dengan sampah. Keberadaan sampah di hutan mangrove tak jauh dari lapangan Lagoon yang didominasi sampah plastik.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kabupaten Badung pun mengaku terkejut dengan keberadaan sampah tersebut. Sebab, baru mengetahui, Minggu pagi (21/3/2021). Dinas LHK berjanji bakal mengusut oknum yang bertanggungjawab atas keberadaan sampah tersebut.

Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Berbahaya dan Racun, Dinas LHK Badung AA Gede Agung Dalem, menegaskan telah melakukan pengecekan ke lokasi. Dia memperkirakan hutan mangrove tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah secara ilegal oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Abdul Mughni, Pahlawan Lingkungan Mangrove dari Gresik

“Awalnya kami menerima laporan dari warga. Tadi (kemarin) tim kami sudah turun ke lapangan. Tim sudah mencari data untuk mengungkap oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegas Gung Dalem.

Gung Dalem mengatakan, sampah yang bertebaran di hutan mangrove merupakan sampah rumah tangga. Birokrat asal Klungkung itu memperkirakan tumpukan sampah mencapai 10 truk.

Sampah plastik memang mengancam keberadaan hutan mangrove atau hutan bakau di Indonesia. Hal tersebut terungkap berdasarkan studi lapangan yang dilakukan oleh peneliti NIOZ Celine van Bijsterveldt.

Seperti dikutip dari Phys, Senin (14/12/2020), van Bijsterveldt telah memantau akumulasi sampah plastik di hutan bakau Indonesia selama bertahun-tahun.

“Jumlah plastik ini betul-betul gila. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja,” kata Celine, kandidat doktor di Universitas Utrecht dan Institut Penelitian Laut Kerajaan Belanda NIOZ, dan penulis utama makalah yang dimuat di Science of The Total Environment edisi Februari 2021.

Sebagian besar sampah plastik tersebut, termasuk dari sampah rumah tangga, terbawa dari pedalaman ke pesisir oleh aliran sungai-sungai setempat. Akhirnya, sampah plastik itu terjebak di kawasan terakhir antara darat dan laut. Menumpuk di muara-muara perbatasan sungai dan laut, termasuk kerusakan area hutan mangrove.

"Mangrove membentuk perangkap plastik yang sempurna," kata Van Bijsterveldt, menukil Science Daily.

Menurut penelitian dari Divers Clean Action, disebutkan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya diperkirakan mencapai 93,2 juta batang. Menurut mereka, sedotan plastik selalu masuk dalam 10 besar sampah yang mencemari lautan.

Sedangkan untuk botol minum, melalui publikasi yang diungkap Greeneration, Indonesia merupakan negara kedua penyumbang sampah plastik di lautan setelah China. Dari sampah-sampah tersebut, terdapat beberapa jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan, yaitu berupa botol plastik sebanyak 1.578.834 buah (450 tahun, berubah bentuk menjadi pecahan kecil/mikroplastik) dan tutup botol sebanyak 822.227 buah (450 tahun, berubah bentuk menjadi pecahan kecil/ mikroplastik).

Dampak sampah untuk mangrove

Bagi pohon-pohon mangrove, jebakan sampah ini bisa menjadi sangat mematikan. Jenis pohon mangrove yang paling umum di pantai Jawa, mangrove abu-abu, memiliki akar yang tumbuh ke atas untuk mengalirkan oksigen saat air pasang.

Di beberapa lokasi, plastik menutupi separuh lantai hutan. Masalahnya bukan hanya plastik di permukaan. Tim peneliti juga menemukan plastik-plastik yang terkubur sedalam 35 sentimeter di dalam sedimen. Plastik yang tersangkut di lapisan atas ini semakin mengurangi akses pohon ke oksigen. Meski begitu, Van Bijsterveldt terkesan dengan ketahanan pepohonan di hutan mangrove pesisir Jawa itu.

"Akar mengubah arah saat terhalang. Mereka tumbuh di sekitar plastik. Ketika setengah dari lantai hutan tertutup, pohon itu masih mendapat cukup oksigen untuk memelihara daunnya."

Namun, prospek kelangsungan hidup pohon-pohon menjadi lebih suram setelah ambang batas 75 persen tercapai. Dan lalu plastik yang terkubur di sedimen mendorongnya lagi ke arah 100 persen.

Berkeliling Menikmati Ekowisata Mangrove Karangsong Indramayu

"Kami telah melihat akar-akar tersangkut di dalam kantong plastik. Mencoba mencari jalan keluar, mereka hanya tumbuh dalam lingkaran. Akhirnya pohon-pohon yang tidak bisa tumbuh menembus plastik akan mati."

Menurut para ahli, sampah plastik menambah tekanan yang lebih besar dan lebih berat dari yang dihadapi oleh hutan rawa mangrove Indonesia akibat erosi, penurunan tanah, perubahan iklim, budidaya dan pembangunan.

Namun menurut Peter Harris, Direktur Pelaksana GRID-Arendal yang merupakan organisasi nirlaba Norwegia yang bekerja untuk melawan plastik laut, ekosistem mangrove akan berjuang bahkan jauh sebelum pohon mangrove menunjukkan tanda-tanda stres.

“Mangrove dapat dibilang cukup tangguh dibandingkan spesies lain. Jadi mereka akan menjadi yang terakhir yang bertahan,” kata Peter, melansir Mongabay Indonesia.

Meningkatnya sampah plastik di habitat bakau dapat mempengaruhi populasi ikan yang hidup dan berkembang biak pada ekosistem mangrove, karena mereka sulit makan atau terjebak dalam sampah plastik. Meski begitu, katanya, studi itu menyimpulkan bahwa kerusakan hutan mangrove akibat tumpukan sampah plastik mungkin tidak separah dampak kerusakan pesisir secara keseluruhan.

Peneliti ekologi spasial laut di Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia, Novi Susetyo Adi, berpendapat bahwa karena hutan mangrove terletak di zona pasang surut yang cepat berubah, keberadaan plastik bergeser seiring dengan pasang surut, arus dan musim.

Rencana restorasi Mangrove

Di dalam penelitiannya pada 2021, Peter Harris menemukan fakta bahwa lebih dari setengah hutan mangrove di planet ini berada dalam jarak 20 kilometer (12 mil) dari muara sungai yang melepaskan lebih dari 1 ton plastik setiap tahun.

“Mereka cukup terpapar oleh masalah polusi ini,” katanya.

Tapi yang paling ekstrem yaitu di Indonesia. Mengingat pegunungannya yang tinggi, hujan lebat, daerah tangkapan air yang pendek, serta gelombang rendah dan energi pasang surut, sejumlah besar plastik mengalir ke pantai dan berkumpul di hutan mangrove.

“Proses alami ini sepertinya sedang bergerak melawan pemerintah Indonesia,” kata Peter.

Karena itu, bekerja sama dengan sejumlah LSM dan komunitas lokal, Van Bijsterveldt mengerjakan proyek restorasi mangrove di pesisir Jawa untuk mencegah erosi lebih lanjut.

Selama bertahun-tahun, banyak hutan mangrove di sana dialihfungsikan menjadi sawah dan kolam budidaya. Model bisnis yang menghasilkan keuntungan cepat tetapi kurang dalam keberlanjutan karena mempercepat erosi.

BASF dan Aliansi Global untuk Kurangi Sampah Plastik

Upaya pemulihan kawasan mangrove ini akan membawa lebih banyak manfaat. Mangrove yang sehat berarti populasi ikan yang sehat dan ekonomi perikanan yang berkelanjutan. Industri pariwisata juga bisa menjadi hutan mangrove sebagai daya tarik yang berkembang yang meningkatkan ekonomi lokal.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berinvestasi dalam restorasi mangrove dalam upaya menciptakan kembali jalur hijau di sepanjang pantai. Namun, upaya restorasi itu berjalan lambat dan hutan mangrove yang ada terus mengalami tekanan.

Van Bijsterveldt melihat upaya penanaman mangrove baru di kawasan pesisir Jawa ini gagal.

"Ada begitu banyak fokus pada peningkatan jumlah awal bibit mangrove, sehingga tantangan yang ditimbulkan oleh sampah plastik terhadap kelangsungan hidup pohon muda terabaikan."

Memang, deforestasi telah merenggut 75 persen hutan mangrove bersejarah di Jawa. Tetapi berkat pemahaman yang lebih baik tentang manfaat ekologis hutan mangrove, proyek penanaman kembali dan rehabilitasi yang efektif kini mulai mengakar di Indonesia.

Walau begitu, Novi menyebut inisiasi ini mengabaikan tantangan sebenarnya yang berasal dari sampah plastik. Menurutnya, menyelesaikan masalah tidak hanya bergantung pada peningkatan pengelolaan lokal dan nasional, tetapi juga berarti menangani pemanfaatan plastik dari hulu.

Empat dari perlima sampah negara dikarenakan salah penanganan, katanya. Penduduk desa yang saat ini membuang sampah melalui pembakaran atau pembuangan saluran air, membutuhkan pendidikan dan infrastruktur yang lebih baik untuk pengelolaan sampah.

Pemerintah harus menyediakan program pengumpulan, pengolahan dan daur ulang sampah pedesaan dan kota.

“Akan sangat membantu jika mereka, anak-anak yang baru mulai bersekolah dapat diajarkan bahwa bahan nonbiodegradable semakin mencemari lingkungan dari waktu ke waktu.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini