Kendaraan Listrik Sebagai Transportasi Ramah Lingkungan di Masa Depan

Kendaraan Listrik Sebagai Transportasi Ramah Lingkungan di Masa Depan
info gambar utama

Kendaraan listrik masih menjadi hal yang menarik dan akan selalu ramai diperbincangkan, terutama jika menilik mengenai potensi dalam menggantikan kendaraan konvensional sepenuhnya, yang diprediksi akan terjadi secara masif dalam beberapa tahun mendatang.

Hadirnya kendaraan listrik sejatinya memang telah menjadi harapan baru akan keberlangsungan alat transportasi ramah lingkungan, yang diyakini dapat membawa perubahan positif baik dari segi sumber daya alam yang digunakan, ataupun berupa pengurangan emisi karbon dari sektor transportasi.

Faktanya, Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup aktif dan gencar, dalam berupaya melakukan eksplorasi pada kendaraan listrik, baik dari segi sumber daya maupun infrastruktur pendukung.

Meski nyatanya, berbagai negara lain dapat dikatakan beberapa langkah lebih maju dalam melakukan transformasi kendaraan konvensional ke listrik, namun bukan berarti Indonesia tertinggal sangat jauh dan tidak memiliki kesempatan melakukan hal serupa.

Publik pun pasti sudah sering mendengar, berbagai upaya yang telah dilakukan untuk membawa Indonesia berpartisipasi dalam industri kendaraan listrik dunia, salah satunya keberadaan pabrik baterai mobil listrik pertama dan terbesar di kawasan Asia, yang pembangunannya di tanah air sendiri saat ini sudah mulai berjalan.

Bersamaan dengan hal tersebut, sosialisasi dan edukasi mengenai potensi besar yang dapat diberikan oleh keberadaan kendaraan listrik juga tak henti dilakukan oleh berbagai pihak.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut sejatinya dilakukan untuk memberikan pemahaman sederhana akan pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat, sebesar apa pentingnya kehadiran kendaraan listrik dalam menggantikan kendaraan konvensional, khususnya di Indonesia?

Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali

Efisiensi dan kehadiran transportasi ramah lingkungan bukan lagi angan-angan

Ilustrasi polusi dari emisi karbon kendaraan
info gambar

Kepastian mengenai efisiensi dan penghematan sumber daya berkat kehadiran kendaraan listrik, secara jelas dipaparkan oleh Darmawan Prasodjo, selaku Wakil Direktur Utama PLN Persero, yang selama ini memang bertanggung jawab dalam menangani persoalan kelistrikan di Indonesia, dalam sebuah diskusi webinar bertajuk Makin Asyik Pakai Kendaraan Listrik, Rabu (1/9/2021) kemarin.

Tidak hanya dari sisi pemerintah, hadir pula pihak yang secara nyata sudah menjajal langsung, bagaimana performa dan keberlangsungan mobil listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yaitu Fitra Eri, pegiat otomotif yang dalam kesempatan sama memberikan pandangan mengenai potensi kendaraan listrik di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Sebagai pembuka, Darmawan memberikan penjelasan dasar mengapa kendaraan listrik diyakini sebagai solusi tepat, dalam mewujudkan keberadaan sektor transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Seperti yang diketahui, kendaraan konvensional yang sampai saat ini banyak digunakan sejatinya masih bergantung pada bahan bakar fosil yang semakin lama kian terbatas keberadaannya.

Secara teoritis, perbedaan mendasar antara mobil konvensional dan mobil listrik terdapat pada asal energi yang diubah untuk menghasilkan energi kinetik (gerak). Mesin pembakaran pada mobil konvensional hanya mampu menghasilkan energi gerak di kisaran belasan persen, dan sisanya menjadi panas hasil pembakaran yang dilepas dalam bentuk karbon ke udara.

Lain halnya dengan energi kinetik yang berasal dari energi listrik, di mana dapat menghasilkan efisiensi mencapai 70 hingga 80 persen.

Darmawan juga menjelaskan mengenai perbandingan emisi karbon yang dihasilkan, dari masing-masing kendaraan listrik dan konvensional.

Secara singkat, pada kendaraan konvensional yang menempuh jarak 10 kilometer dengan perhitungan satu liter bensin, dihasilkan potensi emisi karbon yang dilepas ke udara sebanyak 2,4 kilogram.

Sedangkan dengan perbandingan jarak tempuh dan energi listrik yang sama, kendaraan listrik hanya berpotensi menghasilkan sebanyak 850 gram emisi karbon, yang dilepas pada saat pengolahan di pembangkit tenaga listrik.

Kabar baik lainnya, Darmawan mengonfirmasi bahwa di waktu yang akan datang, PLN akan memesiunkan semua pembangkit listrik berbasis batu bara, yang akan diganti dengan energi bersih berbasis pada energi terbarukan.

“…kami akan pensiunkan semua ekosistem PLTU berbasis batu bara kami, ilang semua dari ekosistem kami dan sudah mulai digantikan dengan sistem energi baru terbarukan,” tegas Darmawan.

Sekilas informasi, energi terbarukan merupakan sumber energi yang berasal dari sumber daya alam dan tidak akan habis karena terbentuk dari proses alam yang berkelanjutan. Contoh dari energi terbarukan adalah sinar matahari, ombak, angin, dan air.

Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

Percepatan infrastruktur kendaraan listrik lewat pembangunan fasilitas SPKLU

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)
info gambar

Samal halnya dengan SPBU yang menjadi tonggak penting dalam keberadaan kendaraan konvensional selama ini, hal serupa tentunya juga berlaku bagi kendaraan listrik yang membutuhkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) secara merata, sebelum keberadannya berlangsung secara masif di Indonesia.

Saat ini diketahui sudah ada sebanyak 166 unit SPKLU yang tersebar di 135 lokasi meliputi wilayah Sumatra, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah-DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.

Adapun untuk pembangunan berkelanjutan, ditargetkan pada akhir tahun 2021 akan dibangun sebanyak 572 SPKLU dan diharapkan sampai dengan tahun 2030 akan terbangun 31.859 SPKLU.

Darmawan juga mengungkap, mengenai pembangunan SPKLU melalui skema franchising dengan pihak swasta.

“Siapapun yang punya lahan yang memenuhi syarat, silakan dibuat SPKLU, kami jual murah, yang penting adalah kemudahan untuk masyarakat yang nantinya memiliki kendaraan listrik, nanti kami cantumkan dengan jelas infonya di website kami mengenai bagaimana tata cara yang harus dilalui dalam membangun SPKLU” bebernya.

Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Proyeksi masa depan kendaraan listrik di Indonesia

Otomotif reviewer Fitra Eri dan fasilitas kendaraan listrik di Indonesia
info gambar

Adapun dari sisi pegiat dan pihak yang sudah menggunakan kendaraan listrik selama lebih dari satu tahun ke belakang, Fitra Eri dalam kesempatan yang sama menyampaikan pandangannya mengenai keberlangsungan kendaraan listrik di Indonesia, terlebih setelah melihat kemudahan fasilitas dan infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah.

Menurut Fitra Eri, sejak pertama kali kehadiran mobil listrik di Indonesia sebagai kendaraan contoh dan belum dikomersialisasi, dirinya sudah melihat bahwa kendaraan listrik sebagai suatu alat transportasi yang penuh keistimewaan, terlepas dari keunggulan ramah lingkungan yang dimiliki.

“…gak ada suara, gak ada getaran, gak ada perpindahan gigi yang menganggu sebagaimana umumnya ditemui di kendaraan konvensional, di kendaraan listrik semua kekurangan yang ada dari kendaraan konvensional sudah hilang,” terangnya.

Fitra Eri mengungkap, bahwa keputusannya untuk memiliki kendaraan listrik di dasari dengan kaingintahuan untuk mencoba, tanpa mengetahui akan seperti apa keberlangsungan dan kemudahan infrastuktur yang akan dihadirkan oleh pemerintah di waktu yang akan datang.

Mengenai keberadaan kendaraan dalam hal ini mobil listrik, Fitra Eri tidak menampik bahwa saat untuk saat ini mobil listrik memang baru hanya bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke atas, dan masih jauh untuk kalangan menengah ke bawah.

Namun, kondisi tersebut menurut Fitra Eri sama halnya seperti fenomena pertama kali kemunculan handphone di Indonesia.

“..di tahun 1990-an, handphone yang punya itu cuma orang-orang kaya, provider sangat sedikit, infrastruktur juga sangat terbatas, tapi kan lama-lama dengan perkembangan teknologi keberadaannya semakin meluas. Kenyataannya, sekarang hampir semua orang dari berbagai kalangan hampir punya handphone. Dan saya rasa, untuk mobil listrik juga akan terjadi fenomena seperti itu” paparnya.

Lebih jelas, Fitra Eri meyakini bahwa di masa depan keberadaan mobil listrik yang menggeser mobil konvensional, akan tersedia dengan berbagai jenis dan kapasitas yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing orang.

Belum cukup, dirinya juga memberi pemahaman dan pandangannya mengenai kekhawatiran, atau pandangan skeptis masyarakat mengenai ketahanan mobil listrik dalam hal permasalahan kelistrikan yang selama ini kerap dijumpai. Di antaranya permasalahan pada saat dibawa berkendara ke area banjir, permasalahan baterai yang menggelembung, dan lain-lain.

“Hal-hal itu kan sebenarnya pertanyaan dasar berdasarkan kekhawatiran, yang sebenarnya sudah dapat ditemui jawabannya langsung dari para produsen mobil listrik, mobil listrik itu tidak lebih rentan terhadap air dibanding mobil konvensional.”

Adapun mengenai ketahanan baterai, menurutnya kemajuan teknologi yang akan terus terjadi di waktu yang akan datang akan mampu menghadapi permasalahan yang selama ini banyak dikhawatirkan oleh masyarakat mengenai kelangsungan kendaraan listrik.

“…10 atau 15 tahun lagi, saya yakin teknologi baterai sudah sangat berkembang, dan baterai yang kita gunakan sekarang harganya sudah sangat jauh lebih murah, belum lagi pabrikan mobil-mobil Eropa nyatanya sudah mengurangi bahkan nyaris menghentikan riset pada kendaraan berbahan bakar dalam seperti bensin atau diesel, mereka lebih fokus pada riset untuk kendaraan listrik.”

Selain itu, sosok yang juga mantan pebalap ini juga berpendapat bahwa mobil listrik adalah wujud nyata dari kendaraan masa depan di dunia.

“…saya yakin bahwa memang mobil listrik adalah wujud kendaraan di masa depan, mungkin lebih unggul di luar negeri dulu, tapi di Indonesia pun tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya setiap keluarga yang mempunyai kendaraan pribadi pasti berupa mobil listrik,” demikian pungkasnya.

Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini