Ketika Mitos Berpengaruh pada Pelestarian Satwa dan Lingkungan

Ketika Mitos Berpengaruh pada Pelestarian Satwa dan Lingkungan
info gambar utama

Mengupayakan kelestarian satwa dan lingkungan sekarang ini memang menjadi hal yang memiliki kesulitan tersendiri. Walau cukup banyak sebagian besar orang yang memiliki kesadaran tinggi akan hal tersebut, namun tak sedikit pula yang masih memiliki sifat kebalikannya.

Tak perlu dipertanyakan lagi, ragam upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran akan menjaga kelestarian satwa dan lingkungan, sejatinya sudah dilakukan dengan berbagai macam cara.

Adapun cara yang dimaksud dan kerap dijadikan andalan dalam menggaungkan gerakan peduli satwa dan lingkungan di antaranya kampanye atau imbauan dalam bentuk film, video pendek, dan konten publikasi dengan target tertentu lainnya.

Tapi, efektifkah cara tersebut? Faktanya, ada satu hal yang bagi sebagian besar orang terutama masyarakat Indonesia, lebih dipercaya dapat memberikan dampak nyata terhadap aksi pelestarian satwa dan lingkungan secara efektif, yaitu mitos.

Menyingkap Mitos Udumbara, Parasit Paling Harum Pembawa Kabar Baik dari Surga

Cerita mitos, cara ampuh wujudkan pelestarian satwa dan lingkungan

Binturong, salah satu hewan yang ada dalam mitos masyarakat Bangka
info gambar

Tak dimungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara dengan keberadaan nilai-nilai budaya dan leluhur yang masih sangat kental, bahkan hingga saat ini. Nilai budaya dan leluhur itu kerap kali tertuang dalam bentuk mitos yang menjadi kepercayaan serta beredar di tengah masyarakat, dan mencakup segala hal dalam kehidupan, termasuk keberlangsungan satwa dan lingkungan.

Sebagaimana hal yang selalu memiliki dua sisi, dewasa ini nyatanya keberadaan mitos tak jarang dipandang sebagai hal berbau negatif, karena biasanya terdiri dari berbagai keyakinan yang dianggap bersifat takhayul.

Sebagai contoh, larangan untuk melakukan penebangan atau memangkas pohon di suatu wilayah tertentu karena diyakini menjadi tempat tinggal dari makhluk halus, dan akan mendatangkan bencana atau kutukan jika melakukan perusakan.

Terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut, tapi setidaknya dari sisi lain ada dampak positif yang diberikan terhadap lingkungan, yaitu upaya dari mereka yang memercayai mitos tersebut untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar pohon yang ada.

Hal itulah yang hingga saat ini diyakini lebih efektif, sebagai upaya untuk menjaga kelestarian satwa dan lingkungan di kalangan masyarakat, terutama yang masih memiliki kepercayaan besar akan mitos dan nilai-nilai leluhur.

Mitos Suara Burung Penanda Bencana dan Kematian

Bangka, warganya menyebar mitos untuk melindungi satwa endemik

Kukang, satwa yang ada dalam mitos masyarakat Bangka
info gambar

Sebagai bentuk bukti nyata, ada salah satu wilayah di Indonesia yang sampai saat ini masih mengandalkan mitos sebagai cara dalam melakukan pelestarian satwa dan lingkungan, yaitu masyarakat Pulau Bangka. Melansir Mongabay Indonesia, ada beberapa cerita yang diyakini merupakan warisan oleh para leluhur dan terbukti berperan besar dalam menjaga pelestarian satwa dan lingkungan, hingga saat ini.

Salah satunya, kalangan orang tua di Pulau Bangka kerap kali menyampaikan cerita mengenai barang siapa yang berani memelihara, menangkap, bahkan membunuh satwa berjenis kukang, maka akan mengalami sial seumur hidup.

Karena mitos tersebut, terbukti hingga saat ini jarang ada warga yang berani menangkap atau memelihara kukang.

Bukan hanya itu, nyatanya masih banyak berbagai mitos yang beredar di kalangan masyarakat Bangka hingga saat ini. Salah satunya mitos yang ada di Desa Dusun Tuing, mulai dari larangan untuk membunuh trenggiling sampai larangan membunuh satwa yang sedang hamil.

Walau tidak diceritakan secara pasti apa penyebab dari larangan tersebut, namun sejumlah masyarakat masih meyakini mitos larangan tersebut. Hal tersebut nyatanya bisa tetap berjalan, karena masyarakat sekitar masih memegang teguh prinsip dan ajaran hidup yang ada.

“Kami diajarkan untuk memandang manusia dan alam sama, termasuk terhadap satwa liar. Semua makhluk berhak hidup. Memang, boleh kami manfaatkan, tetapi jangan serakah,” ungkap Sukardi, tokoh adat di Dusun Tuing.

Mentilin, Primata Imut Bermata Bulat Maskot Bangka Belitung

Dampak negatif mitos dan upaya lanjutan lainnya dalam pelestarian satwa dan lingkungan

Trenggiling, satwa dilindungi yang terpaksa harus dibakar setelah diamankan dari para pemburu dalam kondisi sudah mati
info gambar

Walau terbukti dapat memberikan pengaruh nyata dalam pelestarian satwa dan lingkungan, tapi di sisi lain mitos juga berpotensi menimbulkan dampak negatif yang serupa, atau bahkan perilaku melenceng yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan.

Salah satu satwa yang sebelumnya kerap disebut dalam mitos yaitu kukang, nyatanya berpotensi tetap diburu oleh pihak tertentu untuk digunakan dalam melakukan kegiatan atau ritual berbau mistis, yang tidak diajarkan oleh nilai-nilai leluhur.

Atau lain halnya dengan wilayah Bangka, bagi masyarakat pedalaman Kalimantan Selatan, banyak yang percaya bahwa keberadaan trenggiling di suatu desa adalah pertanda kurang baik dan diyakini sebagai jelmaan makhluk halus.

Kepercayaan tersebut menyebabkan binatang ini sangat dihindari keberadaannya, namun apabila sudah ada trenggiling yang masuk ke pemukiman, akan ditangkap untuk dimusnahkan dengan cara dibakar, bermodalkan keyakinan agar roh jahat yang ada di dalam tubuh satwa tersebut ikut musnah terbakar dan tidak mengganggu manusia.

Berangkat dari hal tersebut, nyatanya tetap diperlukan sosialisasi lebih lanjut bahwa pandangan mengenai satwa yang ada tidaklah seperti demikian.

Adapun mengenai upaya lanjutan yang harus dilakukan sebagai upaya dari pelestarian satwa dan lingkungan, adalah dengan tetap melakukan sosialisasi dan meningkatkan fasilitas berupa pusat penyelamatan satwa (PPS) yang ada, terlepas dari keberhasilan lewat kepercayaan mitos yang tersebar di masyarakat.

Di Indonesia, saat ini baru ada lima PPS yang tersebar di Sulawesi, Sukabumi, Bali, Tegal Alur, dan Bangka Belitung. Keberadaan PPS di setiap provinsi di Indonesia menjadi sangat penting, salah satunya berperan sebagai penampung sementara satwa sitaan dan temuan, sebelum kembali dilepasliarkan ke alam bebas.

“Hadirnya PPS harus diiringi upaya perbaikan habitat satwa di alam. Keterlibatan semua stakeholder guna mendukung pelestarian satwa liar, tentunya dalam upaya konservasi, menjadi sangat penting,” jelas Langka Sani, Ketua PPS Alobi Bangka Belitung.

Mitos Pulau Komodo, Pulau Eksotis Nan Memikat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini