Soe Hok Gie, Tumbuhkan Patriotisme dengan Mencintai Alam dan Gunung

Soe Hok Gie, Tumbuhkan Patriotisme dengan Mencintai Alam dan Gunung
info gambar utama

Sosok Soe Hok Gie, aktivis sekaligus penulis tak pernah lepas dari gunung. Pria yang akrab disapa Hok Gie ini merupakan salah satu pendiri organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (MAPALA UI).

Bagi Hok Gie, mendaki gunung bukan sekedar ikut tren atau ingin menjadi keren. Dalam buku Seri Buku Tempo: Gie dan Surat Surat yang Tersembunyi, Hok Gie diceritakan oleh sahabatnya, Herman Onesimus Lantang, memilih naik gunung karena muak dengan iklim politik kampus.

Pernah pada suatu ketika, selembar 'surat kaleng' sampai di rumah Soe Hok Gie senja itu. Isinya: permintaan agar aktivis mahasiswa UI tersebut berhenti melakukan kritik kepada pemerintah. Jika tak menuruti perintah tersebut, sang pengirim surat menjamin Hok Gie akan mati sia-sia. Mungkin itu akan terjadi di jalanan atau saat dirinya sedang lengah, ancamnya.

“China yang tak tahu diri, lebih baik kau pulang saja ke negerimu saja!” demikian sebaris bunyi ancaman surat kaleng tersebut.

Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah

Kepada Soe Hok Djin--sang kaka--alias Arief Budiman, Hok Gie menyatakan tak takut sedikit pun terhadap ancaman itu. Yang menjadi masalah justru dia tak jarang mengalami kebuntuan.

Kendati hampir tiap waktu dia melancarkan kritik keras kepada pemerintah Orde Baru atau menelanjangi kecurangan-kecurangan yang ada di lingkungannya (UI), namun semua yang dilakukannya itu tak pernah digubris secara serius.

“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya melakukan kritik kepada banyak orang yang menurut saya tidak benar. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik saya tak pernah mengubah keadaan. Apakah ini bukan sejenis onani yang konyol? Kadang-kadang saya sungguh merasa kesepian,” curhat Hok Gie, seperti ditulis Arief Budiman dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran.

Karena itulah bila kepenatan sudah menumpuk pada kepalanya, Gie memilih 'minggat' ke gunung. Menurut sahabatnya Rudy Badil, wilayah terdekat yang kerap didatanginya adalah Mandalawangi, suatu lembah yang terletak antara Gunung Pangrango dengan Gunung Gede. Di sana pemandangannya memang sangat indah.

Soe Hok Gie dan gunung memang sulit dipisahkan. Sejak mendirikan MAPALA bersama kawan-kawannya di Fakultas Sastra UI pada 12 Desember 1964, Hok Gie terbilang sering mengorganisir kegiatan pendakian ke berbagai gunung tinggi di Pulau Jawa.

Selain Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak, Hok Gie pun tercatat pernah singgah di puncak Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Slamet, dan Gunung Semeru. Puncak Gunung Semeru malah menjadi tempat terakhir Hok Gie menhembuskan nafasnya.

"Tujuan Mapala ini adalah mencoba membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat, dan almamaternya," tulis Hok Gie di Majalah Bara Eka Nomor 13 tahun iii, Maret 1966 yang dikutip dari Kompas.

Gunung sebagai perjalanan ideologis

Lewat tulisan Hok Gie yang berjudul Menaklukan Gunung Slamet di buku Soe Hok Gie Zaman Peralihan, ia menuliskan betapa penting para pemuda untuk naik gunung. Diceritakannya, setiap meminta sumbangan kepada para donatur pendakian tersebut, mereka selalu menjelaskan apa yang menjadi tujuan sebenarnya dari kegiatan mereka mendaki gunung.

“Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Karena itulah kami naik gunung.”

Bagi seorang Hok Gie, gunung menjadi tempat mencari kebahagiaan sambil menjadikannya tempat berefleksi dan belajar. Tentunya saja bisa menjadi tempat menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang.

"Di tempat yang jauh dari semua fasilitas dan penuh kesulitan orang yang mengalami ujian, apakah dia selfish (yang hanya pikirkan dirinya sendiri) atau orang yang mau memikirkan orang lain," tulis Stanley dalam penutup buku kumpulan tulisan Soe Hok Gie, Zaman Peralihan.

Mahakarya di Atap Pulau Jawa

Hok Gie dan kawan-kawannya menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang pemuda desa di kaki Gunung Slamet. Dalam obrolan akrab mereka, sang pemuda menanyakan tentang Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan situasi politik di Jakarta. Maka terjadilah diskusi yang menarik di antara anak-anak muda itu.

Hok Gie memberikan penjelasan apa adanya. Dia menyatakan tanpa ragu bahwa Soekarno telah banyak menyengsarakan rakyat. Tetapi kata Hok Gie, itu tidak berarti bahwa para penentang Soekarno seperti sebagian aktivis KAMI, secara otomatis adalah pahlawan pembela rakyat.

“Banyak di antara mereka juga adalah bajingan-bajingan dan oportunis,” ujar Soe Hok Gie.

Saat mencapai puncak Gunung Slamet, Hok Gie dan kawan-kawan menemukan pemandangan yang sangat memukau, seperti kawah yang mengepulkan asap belerang kuning kehijau-hijauan dan pasir-pasir vulkanik yang menghampar. Di pasir itu pula mereka menemukan batu-batu yang berjajar rapi dan membentuk nama-nama organisasi serta pribadi yang pernah mencapai tempat tersebut.

Mereka pun melihat di antara tulisan-tulisan itu ada suatu deretan batu yang membentuk kalimat “Aku Pendukung Soekarno”. Merasa geram, beberapa kawan Hok Gie bermaksud untuk menghapusnya. Namun upaya itu dicegah oleh Hok Gie.

“Saya katakan bahwa kita harus menghormati the right of dissent. Dan setiap orang berhak untuk setuju ataupun tidak setuju dengan Soekarno,” ujar Hok Gie.

Keindahan dan kekaguman Hok Gie soal gunung tergambarkan lewat puisinya melalui kalimat, "Aku cinta padamu, Pangrango."

"Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi. Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada. Hutanmu adalah misteri segala. Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta," tulisnya dalam puisi bertajuk Mandalawangi-Pangrango, yang ditulis tahun 1966.

Berpulang di Semeru

Hari-hari terakhir menjelang kematiannya di atas Puncak Semeru, Hok Gie pun terbilang sangat aktif membicarakan sejarah kaum tertindas kepada kawan-kawannya.

Rudy Badil masih ingat bagaimana pada suatu malam secara tiba-tiba, Hok Gie melengkingkan suara fales-nya saat mereka duduk berkerumun di depan api ungun. Dia melantunkan lagu We Shall Not Be Moved-nya The Seekers.

Memang selepas lulus dari Jurusan Sejarah FSUI, rutinitas mengajar dan rapat antar dosen adalah kesehariannya dan itu membuatnya merasa 'seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang'.

“Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras. Diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil,” katanya dalam satu catatan hariannya yang dinukil oleh Luki Bekti dalam buku Soe Hok Gie, Sekali Lagi.

Hok Gie akhirnya berangkat menuju Gunung Semeru pada 12 Desember 1969. Bersama temannya, Aristides, Herman Onesimus Lantang, Abdurrachman, Anton Wijana, Rudy Badil, dan dua anak didiknya--Herman Idhan Dhanvantari Lubis serta Freddy Lodewijk Lasut.

Kisah Dibalik Legenda Gunung Semeru, Gunung Tertinggi Pulau Jawa

Hok Gie berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07.00 ke Stasiun Gubeng Surabaya. Pendakian kali ini istimewa bagi Hok Gie, lantaran pada 17 Desember ia akan merayakan ulang tahun ke-27.

Namun di Puncak Semeru, setelah dia memungut sehelai daun cemara kering untuk dibawanya pulang ke Jakarta, maut pun mengajaknya pergi. Seolah menggenapi kata-katanya dalam suatu surat panjang kepada seorang sahabatnya.

“Orang-orang seperti kita ini, tidak pantas mati di tempat tidur.”

Jasad Hok Gie dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Setelahnya dipindahkan ke TPU Tanah Abang karena ibunya kerap dipalaki preman.

Pada 1975, sebagian lahan makam itu dibangun kantor Wali Kota Jakarta Pusat sehingga keluarga memutuskan mengkremasi jasad Gie. Abunya disebar di tempat favoritnya, lembah Mandalawangi Gunung Pangrango, Jawa Barat. Nisan Gie ditanam di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.

"Saya selalu melihat kehidupan sebagai sesuatu hal yang amat menarik. Walaupun sangat melelahkan dan kadang-kadang mengerikan. Tetapi di samping itu amat banyak hal-hal unik. Dia menjadi tantangan. Kalau saya melihat gunung yang tinggi dan indah, saya selalu merasa bahwa Sang Gunung berkata: Datanglah. Dan saya ingin mendakinya," demikian surat Gie kepada Nurmala Kartini Panjaitan, 25 Juli 1968, seperti dikutip dari Majalah Tempo (2016).

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini