Kalahkan Toxic Positivity, Pikiran Positif yang Justru Memperburuk Kesehatan Mental

Kalahkan Toxic Positivity, Pikiran Positif yang Justru Memperburuk Kesehatan Mental
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Kawan pastinya sudah tak asing lagi dengan istilah toxic people atau toxic relationship, namun bagaimana dengan istilah toxic positivity? Apakah Kawan pernah mendengar istilah tersebut?

Toxic positivity ini merujuk ke kalimat positif, dimana seseorang sedang merasa atau tertekan. Pada awalnya, kalimat positif ini bertujuan untuk memberi semangat, namun justru malah dapat merugikan seseorang.

Bagi sebagian orang ujaran “jangan menyerah”, “pikirin yang bagus-bagus aja ya”, “masih mending cuma segitu, ada yang lebih parah lagi” mungkin cukup ampuh dalam menghilangkan perasaan buruk mereka. Namun, bagi sebagian orang lainnya, justru membuat mereka semakin kecil dan dapat memicu gangguan psikis.

Mengenal toxic positivity

Ilustrasi toxic positivity | Foto: hellosehat
info gambar

Dilansir dari laman Medical News Today, mendefinisikan toxic positivity sebagai tindakan memaksakan diri untuk terus menerus berpikiran positif sebagai solusi dari masalah dan menghindarkan untuk mengekspresikan emosi negatif.

Secara sederhana, toxic positivity adalah keyakinan yang menuntut Kawan untuk harus berpikir positif dalam keadaan apapun.

Dilansir dari laman Kompas, Alfath Hanifah seorang psikolog klinis dewasa mengungkapkan bahwa toxic positivity dapat dilakukan oleh orang lain kepada diri Kawan atau diri sendiri. Toxic positivity terjadi, ketika tidak mau mengakui perasaan tidak nyaman dan lebih memilih untuk membungkam perasaan tersebut.

Pada kenyataannya, mengekspresikan emosi negatif sangatlah wajar dilakukan Kawan sebagai manusia. Tak hanya membungkam emosi negatif, toxic positivity juga kerap menyepelekan kesedihan mereka dan menekan perasaan negatif mereka.

Dengan begitu, tak ada ruang dalam diri untuk merasakan lemah atau gagal. Hanya muncul perasaan untuk selalu benar. Akhirnya, kondisi ini akan meledak dan muncul perasaan tidak terkendali atau yang dikenal dengan istilah ‘bom waktu’.

Artikel yang dimuat dalam Psychology Today menjelaskan bahwa ketika Kawan menghindari perasaan negatif, secara tidak sadar pikiran dan otak kita akan merespon setiap masalah dengan positif dan menganggap baik-baik saja. Hal ini dapat menghilangkan respon kewaspadaan Kawan terhadap keadaan yang buruk.

Sebagai manusia, faktanya kita tidak dapat memprogram diri Kawan sendiri untuk bahagia dan berpikir positif secara terus-menerus.

Berpikir positif sebenarnya hal yang bagus untuk kesehatan mental ya Kawan. Banyak hasil riset dan buku mengenai manfaat untuk berpikir positif. Medical News Today mengungkapkan salah satunya studi di tahun 2018 dilakukan terhadap mahasiswa, menunjukkan bahwa dengan berpikir positif mengurangi risiko untuk melakukan bunuh diri.

Namun demikian, berpikir positif terus menerus bukan sebuah tindakan untuk menyelesaikan semua tantangan dalam hidup ya Kawan. Kalau hanya memaksakan berpikiran positif terus-menerus, nanti menjadi berlebihan atau toxic positivity.

Memangnya, toxic positivity bisa menimbulkan dampak seburuk apa sih?

Dampak buruk toxic positivity

Ilustrasi toxic positivity | Foto:hellosehat
info gambar

1. Kebingungan dengan emosi sendiri

Seseorang yang berfokus pada toxic positivity akan mengalami kebingungan dan tidak berpikir secara realistis pada keadaan. Jika terus dibiarkan, akan sulit mencari solusi dari masalah tersebut dan tentunya menimbulkan stres berkepanjangan.

2. Menutup diri

Dengan Kawan bersikap menolak perasaan negatif, secara tidak sadar Kawan akan kehilangan koneksi dan kontrol akan diri sendiri. Kawan menjadi tidak mengenali diri sendiri.

Penolakan perasaan tersebut, menjadikan Kawan tidak nyaman untuk mengekspresikan diri. Hingga akhirnya kawan memilih untuk mengisolasi, menutup diri dan menyembunyikan perasaan Kawan.

Padahal, Kawan dapat meminta bantuan kepada teman atau kerabat ketika Kawan sedang mengalami suatu hal yang buruk. Tak hanya itu, Kawan sebenarnya boleh mengekspresikan, menerima dan bercerita mengenai emosi negatif Kawan kepada orang lain.

3. Menambah emosi negatif

Menyembunyikan perasaan negatif akan menambah emosi negatif, seperti stres, bingung hingga dapat menimbulkan hubungan negatif dengan orang lain. Padahal dengan Kawan mengontrol respon stres dengan mengekspresikan emosi tersebut, Kawan akan mampu mengoptimalkan sistem pengelolaan stres di tubuh Kawan.

Alternatif tindakan

Ilustrasi toxic positivity | Foto:IDN Times
info gambar

Setelah Kawan pahan mengenai toxic positivity, lalu gimana ya cara agar Kawan dapat memberi semangat atau ujaran positif yang lebih baik dan tidak menjadikan racun kepada orang lain?

Akan lebih baik, jika Kawan menerima respon negatif atau apapun yang Kawan rasakan. Begitu pun, ketika Kawan sedang memberi semangat kepada orang lain tak lupa tanyakan apa yang bisa kita bantu atau dengarkan.

Daripada Kawan mengucapkan

“ jangan berpikir seperti itu, ayo berpikir positif aja”

“Positif aja”

“ Kegagalan bukan pilihan”

Alangkah lebih baik Kawan ucapkan seperti ini,

“Pasti berat ya, aku ada disini buat nemenin kok”

“Ada yang bisa aku bantu? supaya kamu merasa lebih baik?”

“kegagalan adalah bagian dari berkembang dan sukses, aku ada disini buat nemenin kamu kok”

Gimana Kawan lebih baik, bukan?Cobalah untuk mulai mengakui dan menerima setiap perasaan Kawan, ya. Hidup dengan bersikap positif 24 jam adalah bukan sesuatu yang baik ya Kawan.*

Referensi: Medical News Today | Kompas | Psychology Today | klikdokter

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini