Wihara Avalokitesvara yang Dibangun Sunan Gunung Jati, Bukti Toleransi Beragama di Banten

Wihara Avalokitesvara yang Dibangun Sunan Gunung Jati, Bukti Toleransi Beragama di Banten
info gambar utama

Wihara Avalokitesvara, merupakan salah satu wihara tertua di Banten, persisnya terletak di Jalan Tubagus Raya Banten atau Kawasan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Banyak versi yang menceritakan perihal berdirinya bangunan yang menjadi tempat ibadah para penganut Buddha yang ada di Banten ini.

Kehadiran wihara ini ternyata memiliki sejarah panjang. Dimulai saat kesultanan Banten mengalami kemajuan yang sangat pesat dan menjadi pusat perdagangan melalui Pelabuhan Karangantunya. Banyak saudagar luar negeri yang sengaja mendatangi Banten termasuk saudagar dari China, Arab, dan Eropa.

Pada era keemasan Banten itulah, ada seorang puteri asal China yang berniat melakukan perjalanan ke Surabaya untuk berdagang. Namun, sengaja berhenti di Banten yang saat itu ramai dengan aktivitas perdagangannya hanya untuk sekadar beristirahat dan mengisi perbekalan.

"Putri Ong Tin Nio bersama para anak buah kapal waktu itu memutuskan untuk bermalam di Pamarican. Karena saat itu daerah Banten, khususnya wilayah kasemen banyak sekali merica," kata Humas wihara Avalokitesvara, Asaji Manggala Putra, dalam Republika.

Napak Tilas Sunan Gunung Jati Keraton Kasepuhan Cirebon, Menyisakan Wasiat yang Sarat Arti

Alasan Putri Ing Tin Nio bermalam di Pamarican karena persediaan perbekalan di kapal yang semakin menipis. Dan guna melanjutkan perjalanan dari Negeri China menuju Surabaya yang menjadi tujuan awal sang putri.

Setelah menginap beberapa hari, ternyata sang putri merasa betah untuk tinggal di Banten. Namun, kedatangannya membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah.

"Karena dianggap ancaman merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat," terang Asaji.

Akibatnya, hal ini membuat pergesekan semakin memanas. Ditambah dibangunnya wihara yang pada awalnya berada di bekas kantor bea (douane) yang digunakan untuk sembahyang warga Tionghoa Kehadiran wihara ini kian membuat masyarakat di Banten gerah dan ingin mengusir warga Tionghoa karena dinilai bisa merusak keimanan masyarakat Islam waktu itu.

"Dari situlah figur Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mengambil perannya dengan melakukan mediasi antara warga dengan sang putri," jelas Asaji.

Sunan Gunung Jati menegur keras masyarakat Banten, karena tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Khususnya memaksa warga pendatang harus memeluk Islam. Hingga pada akhirnya, Sunan Gunung Jati hanya sebatas menawarkan kepada Putri Ong Tin Nio dan rombongannya untuk memeluk Islam tanpa ada paksaan.

Hingga pada suatu hari, Putri Ong dan rombongan pun menyatakan diri memeluk agama Islam yang disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati. Guna menyimbolkan persatuan antara dua agama dan dua kebudayaan yang berbeda, maka Sunan Gunung Jati membuat Masjid Agung Banten Lama dan wihara yang bernama Avalokitesvara.

"Posisinya yang dekat (wihara dan Masjid) menandakan hubungan harmonis antara etnis Tionghoa dan penduduk setempat yang memeluk Islam," tegasnya.

Mukjizat wihara

Dinukil dari Indonesia Kaya, Sunan Gunung Jati membangun wihara ini pada tahun 1542 di wilayah Banten, tepatnya di Desa Dermayon dekat dengan Masjid Agung Banten. Namun pada tahun 1774, wihara dipindahkan ke kawasan Pamarican hingga sekarang.

Versi lain menyebutkan, wihara ini dibangun pada tahun 1652. Yaitu pada masa emas kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Wihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektare dengan altar Dewi Kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan wihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga.

Patung Dewi Kwan Im menjadi patung yang selamat dari kebakaran pada tahun 2009 dan saat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Vihara ini juga menjadi tempat berlindung saat terjadinya bencana tersebut.

Pada abad ke-17, Banten pernah mengalami pandemi seperti pandemi Corona yang terjadi sekarang yang menyebabkan banyak orang meninggal. Patung Dewi Kwan Im, oleh Kanjeng Sultan kemudian diminta untuk dibawa upacara keliling kampung sebagai ritual tolak bala.

Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda

“Betapa bergembiranya Sultan, melihat rakyatnya dapat terhindar dari pandemi, Sultan pun menghibahkan sebidang tanah di depan cukuwek, lalu pada tahun 1774, di pindahkanlah wihara dari desa Dermayon ke Kampung Pamarican," jelas Asaji.

Kejadian luar biasa lagi adalah saat letusan Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883 silam. Saat itu kota Banten selain terkena hujan abu, juga ikut tersapu lahar gunung Krakatau. Tak terkecuali kampung yang disekitar Vihara Avalokitesvara.

Namun anehnya, meskipun semua bangunan yang berada disamping wihara hancur tersapu lahar, bangunan wihara malah tidak terkena lahar sedikitpun. Lahar dan air laut cuma menerjang tempat pemukiman penduduk. Entah karena apa, lahar itu tidak dapat masuk, bahkan tidak sampai merusakkan bangunan wihara.

Kisah lain yang menandakan betapa kramatnya Wihara Avalokitesvara tersebut, juga saat terjadi tsunami 4 hari 4 malam karena letusan Gunung Krakatau. Bagai sebuah mukjizat, orang yang masuk ke dalam wihara selamat, karena air akibat tsunami tersebut tidak masuk ke dalam wihara, sementara di luar wihara air mencapai hingga setinggi pohon kelapa.

“Sungguh menakjubkan saat bencana itu. Bayangkan, lahar dan serbuan air laut yang meluber hanya merusakkan semua bangunan warga. Tapi bangunan wihara, sama sekali tidak tersentuh oleh lahar dan air laut itu. wihara itu masih berdiri kokoh hingga sekarang. Makanya banyak warga percaya kalau wihara itu selalu dilindungi oleh Dewi Kwan Im,” ceritanya.

Bukti nyata toleransi

Tempat ini juga memiliki sebutan Klenteng Tri Darma, yang diberikan karena wihara ini melayani tiga kepercayaan umat sekaligus. Yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Walau diperuntukan bagi 3 umat kepercayaan, namun bagi wisatawan yang beragama lain sangat diperbolehkan untuk berkunjung dan melihat bangunan yang saat ini termasuk dalam cagar budaya di Provinsi Banten ini.

Dikabarkan dari CNN Indonesia, salah satu umat dari Cilegon, Doni, mengatakan bahwa wihara ini ramai jika ada perayaan Kwan Im atau pun saat malam Imlek. Dulu ada tiga tempat peribadatan di Pacinan, di antaranya, tempat ibadah untuk agama Islam, untuk agama Budha, dan untuk agama Konghucu, yang disebut klenteng. Dibangun sebelum Kesultanan Banten berdiri.

Bangunan tempat ibadah masyarakat Tionghoa ini letaknya di seberang kanal Benteng Speelwijk. Namun di tahun 1659 masehi, wihara ini menempati Loji Belanda, lalu ditahun 1725 pindah di sebelah selatan menara Masjid Pecinan Tinggi. Baru ditahun 1774 hingga kini berlokasi di kampung Pamarican.

"Namun sekitar tahun 1700-an itu dipindah. Untuk orang muslim dipindah ke Masjid Agung Banten, kelenteng tempat ibadah orang Tionghoa dipindah disamping benteng Speelwijk, dan agama Konghucu di Speelwijk," kata Peneliti budaya dari Bantenologi, Yadi Ahyadi, seperti dikabarkan Merdeka.

Nikmati Alam di Wisata Gunung Pinang Banten

Mengenai kedatangan masyarakat Tionghoa ke Banten sendiri terdapat banyak versi, ada yang menyebutkan bahwa masyarakat China datang ke Kesultanan Banten sekitar abad 17 masehi. Di mana, pada masa itu banyak ditemukan perahu China yang berlabuh di Banten dengan tujuan berdagang dan barter dengan lada.

Berdasarkan catatan sejarah dari J. P. Coen, banyak perahu China yang membawa dagangan senilai 300 ribu real. Di mana dalam kelanjutannya, masyarakat China tak hanya berdagang, tapi bermukim di Banten dengan lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK).

Saat itu Banten adalah kota pelabuhan besar dengan Pelabuhan Karangantu. Para saudagar dari beragam asal usul itu memilih untuk menetap di Banten. Kegiatan perniagaan pun menggeliat di Banten. Dari perdagangan niaga, dinamika sosial berkembang. Sebagian pendatang ingin menetap di Banten, salah satunya para saudagar dari China.

Soal orang Tionghoa ingin bermukim, mereka menghadap Sultan untuk minta izin. Atas kebaikan dan keadaan Sultan Banten yang saat itu di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Hasanudin--putra dari Sunan Gunung Jati, banyak warga Tionghoa yang akhirnya memeluk Islam.

Mereka mendirikan Masjid Pecinan Tinggi dan bermukim di dekat masjid tersebut. Kawasan Pecinan sekitar 500 meter dari Keraton Surosowan.

"Banyak orang China waktu itu masuk Islam. Tapi ada juga yang tidak masuk Islam, mereka beribadahnya di wihara," kata Abbas Wasse, Ketua Pemangku Adat Kesultanan Banten, menukil Liputan6.

Kelenteng yang pernah terbakar pada tahun 2009 ini juga memiliki ukiran yang menceritakan bagaimana kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Walaupun pernah mengalami musibah, bentuk dan isi yang ada di dalam vihara masih dijaga keasliannya oleh pihak pengelola.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini