Ancaman Sampah di Taman Nasional Lorentz Hingga Puncak Carstensz

Ancaman Sampah di Taman Nasional Lorentz Hingga Puncak Carstensz
info gambar utama

Anjuran “buanglah sampah pada tempatnya” mungkin sudah bosan didengar. Dari masa ke masa, slogan tersebut selalu digaungkan di mana-mana. Dari lingkungan rumah, sekolah, tempat ibadah, jalanan perkotaan, ruang publik, hingga ke objek wisata.

Tampak sepele, tapi nampaknya sulit dijadikan kebiasaan. Sebab, nyatanya sampah masih jadi masalah di Indonesia. Bukan hanya terjadi di perkotaan, sampah juga menjadi ancaman di wilayah hutan dan pegunungan. Salah satu penyebabnya ialah wisatawan yang masih saja buang sampah sembarangan.

Menurut penjelasan Saenger et al. (1983) dalam sebuah penelitian terkait hutan bakau, terdapat tiga sumber penyebab kerusakan hutan. Di antaranya adalah pencemaran, penebangan berlebihan, dan konversi hutan menjadi bentuk lain yang tak sesuai fungsi.

Dalam hal pencemaran, salah satunya disebabkan oleh sampah di kawasan hutan. Sampah anorganik disebut mendominasi kebanyakan sampah yang ada di hutan, mulai dari botol minum plastik, tisu, hingga puntung rokok banyak ditemukan di hutan.

Keberadaan sampah-sampah hutan, terutama anorganik, tentunya membawa ancaman buruk bagi ekosistem hutan. Sampah anorganik yang menumpuk cenderung sulit terurai dan pada akhirnya menyebabkan lapisan tanah tak dapat ditembus oleh akar tanaman.

Lebih dari itu, sampah-sampah yang bertebaran di hutan pun dapat menyebabkan air sulit menembus tanah. Dampaknya, proses penyerapan mineral yang harusnya menyuburkan tanah jadi terhambat. Bila terjadi jangka panjang, kondisi ini akan membuat berkurangnya jumlah mikroorganisme yang berperan dalam penyuburan tanah.

Gunung Carstensz | @Arfani Mujib Shutterstock
info gambar
Sampah, Salah Satu Penyebab Peristiwa Karhutla di Kalimantan dan Upaya Mengatasinya

Sampah di Gunung Carstensz

Siapa yang tak tahu Gunung Carstensz? Gunung yang terletak di Papua ini memiliki ketinggian hingga 4.884 mdpl. Berada dalam kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz (TN Lorentz), gunung tersebut punya pesona luar biasa karena diselimuti salju abadi. Puncaknya yaitu Piramida Cartenz atau Puncak Jaya menjadi dataran tertinggi di Indonesia.

Tak hanya bagi masyarakat Indonesia, nama Puncak Carstensz pun sudah dikenal di kalangan pendaki profesional kelas dunia. Karena keunikannya, kawasan ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Word Nature Heritage Site pada tahun 1997.

Sebagai destinasi wisata pendakian kelas dunia, Puncak Carstensz pun tak luput dari permasalahan sampah. Dalam kegiatan survey Prakondisi Role Model, tim Balai TN Lorentz mengamati permasalahan penting untuk bahan evaluasi dan mencari upaya penyelesaiannya, yaitu sampah pengunjung.

Tim Balai TN Lorentz melihat adanya sampah berserakan di beberapa titik pendakian, terutama pada titik-titik strategis lokasi basecamp pendaki. Permasalahan ini dipicu adanya kegiatan pendaki ilegal ditambah dengan rendahnya kesadaran serta kepedulian para pendaki.

Menurut informasi yang didapatkan tim, sampah-sampah yang berserakan tersebut kadang-kadang terpaksa diangkut oleh helikopter milik PT Freeport Indonesia ketika melakukan pendaratan darurat dalam pemantauan lingkungan atau evakuasi tim pendaki.

Untuk mengatasi persoalan sampah ini, Balai TN Lorentz mengimbau bagi para pendaki untuk tidak masuk ke kawasan konservasi TN Lorentz dan mendaki gunung secara ilegal. Lakukan pendakian dengan bijaksana, aman, dan kurangi barang bawaan yang akan berpotensi jadi sampah.

Selain itu, jangan tinggalkan barang bawaan sebagai sampah di gunung. Sebab seharusnya pendaki gunung merupakan pencinta dan pelestari alam. Sehingga rasanya tidak pantas jika seorang pendaki gunung, apalagi sudah profesional, tetapi ikut menyumbang sampah di gunung.

Pejuang Waktu, Tanamkan Kesadaran Peduli Sampah dari Diri Sendiri

Upaya menjaga Taman Nasional Lorentz

Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Acha A. Sokoy mengatakan bahwa hutan harus bermanfaat bagi masyarakat dan memberikan kesehatan bagi lingkungan. Sebab, masyarakat tak bisa dipisahkan dari alam, hutan, dan ladang.

Sebagai upaya menjaga kelestarian biodiversitas di TN Lorentz, masyarakat Wamena mendirikan Yayasan Taman Nasional Lorentz pada September 2020. Yayasan ini bertujuan untuk menjaga kawasan TN Lorentz dari pencemaran lingkungan, termasuk ancaman sampah plastik.

Visi dan misi dari Yayasan Taman Lorenzt ini ialah menjaga ekosistem di wilayah taman nasional sebagai wilayah konservasi dan mengajak masyarakat adat untuk mengelola wilayahnya agar bisa maju dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem sebagai warisan adat.

Niko Meaga selaku Ketua Yayasan TN Lorentz mengatakan bahwa taman nasional akan dijaga dan dikelola oleh anak-anak asli Papua. Ia pun meminta kepada generasi muda dan orang tua yang berada di sekitaran taman nasional agar tidak menjual tanah dan hasil hutan yang ada di dalam TN Lorentz sembarangan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini