Jumlah Desa Wisata Kian Meningkat dan Bentuk Sinergi Banyak Pihak Kelola Potensi Desa

Jumlah Desa Wisata Kian Meningkat dan Bentuk Sinergi Banyak Pihak Kelola Potensi Desa
info gambar utama

Indonesia memiliki lebih dari 80.000 desa yang tersebar dari provinsi Aceh hingga Papua. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat pada tahun 2019 jumlah desa/kelurahan di Indonesia sebanyak 83.820 desa.

BPS juga mencatat ada sekitar 1.302 desa wisata pada 2014, dan angka tersebut melonjak pada menjadi 1.734 desa berpotensi menjadi desa wisata di sepanjang tahun 2018.

Potensi wisata dari sebuah desa nyatanya dapat memiliki efek domino bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat lokal dan sekitarnya. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu upaya pemerintah guna membangiktkan pariwisata Indonesia melalui desa wisata.

Salah satu upaya tersebut dilangsungkan dengan agenda Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang mengangkat tema Indonesia Bangkit. Tema ini diharapkan dapat mendorong semangat pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata untuk kembali bangkit pasca pandemi Covid-19.

Anugerah Desa Wisata Indonesia diharapkan mampu mendorong berkembangnya desa wisata menjadi desa wisata berkelanjutan. Selain itu, juga mampu meningkatkan kualitas desa wisata di Indonesia, serta mewujudkan visi “Indonesia sebagai Negara Tujuan Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing, Berkelanjutan, dan Mampu Mendorong Pembangunan daerah dan Kesejahteraan”.

Berdasarkan hasil agenda yang diumumkan pada 19 Agustus lalu, jumlah desa wisata yang terdaftar dalam sebaran desa wisata Indonesia sebanyak 1.831 desa. Jumlah desa wisata kembali meningkat dari beberapa tahun sebelumnya.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan masih banyak desa wisata lainnya yang belum terdaftar dan desa yang berpotensi menjadi desa wisata yang belum terdaftar secara formal.

Daftar 50 Desa Wisata Terbaik di Indonesia Tahun 2021

Klasifikasi Desa Wisata berdasarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (Kemenparekraf)

Jumlah Desa Wisata yang terdaftar dalam situs Jadesta. | Infografis : GoodStats
info gambar

Terdapat 4 kategori desa wisata dalam daftar desa wisata Indonesia.

Pertama adalah desa wisata rintisan. Indikator desa wisata rintisan menurut Kemenparekraf adalah wisata di suatu desa masih berupa potensi dan belum adanya kunjungan wisatawan, sarana, dan prasarananya masih sangat terbatas, serta tingkat kesadaran masyarakat belum tumbuh.

Jumlah desa yang berada dalam kategori desa wisata rintisan ada 711 desa.

Kategori yang kedua adalah desa wisata berkembang. Indikator bagi suatu desa yang termasuk desa wisata berkembang adalah sektor wisata di suatu desa masih berupa potensi dan hal tersebut sudah mulai dilirik untuk dikembangkan lebih jauh.

Ada 969 desa yang terdaftar dalam kategori desa wisata berkembang.

Kategori yang ketiga adalah desa wisata maju. Desa wisata dapat dikategorikan sebagai desa wisata maju adalah ketika masyarakatnya sudah sadar wisata, dana desa dipakai untuk mengembangkan potensi pariwisata dan wilayahnya juga sudah dikunjungi banyak wisatawan.

Jumlah desa yang terdaftar dan berada dalam ketegori desa wisata maju ada 159 desa.

Dan, kategori yang terakhir adalah desa wisata mandiri. Kategori ini dapat dikatakan sebagai tingkatan tertinggi dari semua kategori desa wisata berdasarkan Kemenparekraf. Indikator yang harus dipenuhi dari kategori ini, adalah memiliki inovasi pariwisata dari masyarakat, destinasi wisata sudah diakui dunia, sarana dan prasarana memiliki standar serta pengelolaannya bersifat kolaboratif pentahelix.

Hanya terdapat 2 desa yang menjadi desa wisata mandiri yakni Desa Wisata Pentingsari Kabupaten Sleman dan Desa Wisata Pujon Kidul Kabupaten Malang.

Lahirnya produk wisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat lokal dan sekitar desa wisata

Selain bertujuan memperkenalkan potensi wisata di berbagai daerah, program desa wisata juga berdampak pada potensi ekonomi khususnya bagi masyarakat lokal dan sekitar. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, yang mengatakan bahwa desa wisata memiliki potensi yang sangat besar untuk membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Hal tersebut dikarenakan selain menarik minat masyarakat, desa wisata juga dapat membuka lapangan pekerjaan dan peluang usaha lebih banyak. Desa wisata juga akhirnya dapat melahirkan berbagai produk wisata yang siap disajikan pada wisatawan lokal maupun mancanegara.

Beberapa contoh, produk wisata yang lahir dari desa wisata yakni produk wisata alam yang menyajikan keindahan alam serta eksplorasi alam secara berkelanjutan. Salah satu produk wisata alam adalah Snorkeling di Pulau Mekko.

Biaya yang diperlukan untuk menikmati produk wisata snorkeling di Pulau Mekko mulai dari Rp50.000. Pantai Meko merupakan hamparan pasir timbul di tengah laut yang berada dekat Dusun Meko, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Potensi ekonomi yang lahir dari snorkeling di Pulau Mekko antara lain penyewaan alat snorkeling, menyajikan makanan khas Flores serta penampilan kesenian dan budaya di mana wisatawan dapat bergabung langsung. Snorkeling di Pulau Mekko hanya satu contoh dari potensi wisata alam yang dikelola menjadi desa wisata. Total jumlah produk wisata alam yang tertera dalam Kemenparekraf ada sebanyak 1.429 unit.

Produk wisata lain yang dapat disajikan kepada wisatawan adalah produk wisata kesenian dan budaya. Banyaknya jumlah seni dan budaya di Indonesia sudah bukan menjadi rahasia lagi mengingat Indonesia adalah negara yang heterogen dalam satu kesatuan.

Banyaknya seni dan budaya yang dimiliki pun akhirnya dapat melahirkan potensi wisata yang berdampak pada pelakunya. Contoh kesenian dan budaya yang diangkat sebagai potensi wisata adalah Kesenian Lengger Selakambang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Kesenian Lengger ini berupa tari kerakyatan yang dimainkan oleh beberapa pemain wanita, yang kemudian diiringi dengan musik Calung yakni seperangkat alat musik gamelan yang terbuat dari bambu. Karakter tari yang sederhana dan menggambarkan kegembiraan, juga didukung dengan iringan musik Calung yang dinamis dan ramai ciri khas gaya masyarakat Banyumas pedesaan.

Bukti produk wisata kesenian dan budaya mampu mengenalkan Indonesia ke ranah yang lebih luas adalah melalui film “Kucumbu Tubuh Indahku” yang mewakili Indonesia dalam nominasi film OSCAR 2020. Film tersebut berkisah mengenai penari Lengger dan bagaimana karakter tersebut berkembang melalui kesenian dan budaya Tari Lengger.

Umumnya, produk wisata kesenian dan budaya bersifat insidentil atau cenderung digelar pada perhelatan tertentu sebagai bentuk perayaan. Jumlah produk wisata kesenian dan budaya yang terdaftar dan dikelola melalui desa wisata ada sebanyak 954 unit.

Produk wisata lainnya adalah produk wisata buatan. Dalam hal ini contoh produk wisata buatan adalah wisata edukasi dan wisata kuliner. Desa wisata yang menyajikan wisata edukasi sebagai potensi wisatanya pada umumnya mengedepankan konsep mengenal dan belajar secara langsung dengan alat peraga.

Dusun Langda, Kabupaten Enrekang misalnya yang mengelola Wisata Edukasi Sapi Perah dalam desa wisatanya. Pengunjung memperoleh pengetahuan dari mana susu berasal dengan melihat langsung cara memerah, bagaimana sapi sebelum diperah, hingga menjadi susu.

Pengunjung dapat praktek secara langsung sesuai dengan teori yang disampaikan oleh para pemandu. Diharapkan nantinya pengunjung akan lebih menghargai makanan dan minuman.

Jumlah produk wisata buatan yang dikelola dalam desa wisata yang terdaftar di Kemenparekraf ada sebanyak 615 unit. Produk wisata buatan tidak terbatas pada bidang edukasi dan kuliner namun juga berbagai bentuk wisata yang sengaja dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang.

Menjelajahi 4 Desa Wisata di Nusa Tenggara Barat

Buku pedoman desa wisata menjadi alat bantu dalam memetakan potensi desa dengan pendekatan desa wisata

Acara peluncuran Buku Pedoman Desa Wisata yang dilakukan secara virtual. | Foto : Kemenko PMK
info gambar

Meningkatnya jumlah desa wisata serta jumlah desa yang berpotensi menjadi desa wisata menjadi salah satu aset Indonesia guna menjadi magnet wisatawan antar daerah maupun wisatawan mancanegara. Oleh sebab itu, peran para pemangku kebijakan sangat diperlukan guna memfasilitasi dan membantu pengembangan desa wisata.

Salah satu langkah yang diambil adalah dengan membuat dan menyebarluaskan Buku Pedoman Desa Wisata 2021 yang merupakan seri lanjutan dari buku Pedoman Desa Wisata Edisi 1 Tahun 2019 yang telah diinisiasi dan disusun oleh Kemenko PMK bersama dengan Kemendagri, Kemendesa PDTT dan Kemenparekraf.

“Pemerintah memiliki 3 kepentingan dalam pengembangan Desa wisata, pertama yaitu untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah dan antar komunitas, kemudian guna menumbuhkembangkan peran serta aktif masyarakat dalam proses pembangunan, dan ketiga yaitu pelibatan seluruh stakeholder terkait untuk menumbuhkan “rasa memiliki” melalui sistem kemitraan”, beber Nelwan, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dalam acara peluncuran buku tersebut pada bulan Juni lalu.

Hal yang penting adalah bukan sekadar sosialisasi melainkan implementasi dari isi Buku Pedoman Desa Wisata tersebut dengan harapan adanya desa wisata mampu mengurangi kesenjangan wilayah, mengembangkan peran serta masyarakat (produktivitas, daya saing, partisipasi aktif), sektor pariwisata sebagai sektor yang paling tinggi korelasinya terhadap sektor lain mampu mengungkit peningkatan ekonomi daerah.

Setiap desa memiliki ciri khas dan karakter yang unik dan memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan. Adanya Buku Pedoman Desa Wisata 2021 diharapkan mampu mengarahkan para penggiat desa wisata di wilayahnya masing-masing serta menjadi pemicu bagi desa lain dalam pengembangan potensi desa melalui pendekatan Desa Wisata.

Setiap desa memiliki anggaran dana desa yang nantinya harus dikelola untuk kesejahteraan masyarakat dan desa. Namun, dana desa bukan sesuatu yang abadi, oleh karenanya baik bagi desa untuk dapat mengoptimalisasi peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak penguatan ekonomi desa dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADesa). Pembangunan Desa Wisata merupakan salah satu pendekatan guna meningkatkan pendapatan asli Desa.

Diperlukan komitmen dari para pemangku kepentingan dalam mewujudkan Desa Wisata yang berkualitas yang mampu menyumbang terhadap keberhasilan pembangunan nasional.

“Pengembangan Desa Wisata harus melibatkan masyarakat lokal sebagai subyek dan mempertimbangkan kearifan lokal serta harus dilaksanakan dengan mengindahkan keberlanjutan lingkungan hidup, ekosistem, perubahan iklim dan ancaman bencana”, ungkap Nelwan sekaligus menutup sambutannya pada acara Peluncuran Buku Pedoman Desa Wisata 2021.

Mengelola potensi desa dengan pendekatan Desa Wisata nyatanya tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi semata. Hal tersebut mampu membawa dampak pada terkikisnya kesenjangan wilayah yang dapat menimbulkan berbagai macam konflik.

Oleh sebab itu, desa wisata bukan hanya program yang diinisiasi oleh Kemenparekraf saja, namun juga didampingi oleh Kementerian Pedesaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dan Kemen Koordinator Pengembangan Manusia dan Kebudayaan.

Program lain yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggapi banyaknya jumlah desa wisata dan desa yang berpotensi menjadi desa wisata adalah dengan pendampingan untuk pengelola desa wisata yang bertujuan pada peningkatan kualitas pengeloaan potensi wisata dari suatu desa.

Peran pemangku kebijakan dalam pengembangan desa wisata tidak hanya berhenti di pemerintah pusat, namun juga dilakukan turunannya di Daerah Tingkat 1, Daerah Tingkat 2 hingga lingkup terkecil dalam tatanan masyarakat. Mengingat salah satu komponen dalam upaya membangun desa wisata adalah melihat minat dan kesiapan masyarakat terhadap pengembangan destinasi wisata setempat.

Sinergi dari berbagai pihak dapat membawa dampak keberlanjutan desa wisata.

Mengenal Nglanggeran, Peraih Desa Wisata Terbaik se-ASEAN

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini