Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam

Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam
info gambar utama

Siapa yang tidak mengenal Gunung Semeru? Salah satu objek favorit bagi para pendaki di antara sekian banyak gunung lain yang ada di Indonesia.

Menjadi bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), gunung berapi kerucut yang berada di wilayah Jawa Timur ini merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan Puncak Mahameru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl.

Di sisi lain, ada satu hal yang membuat gunung yang dikenal sebagai 'Puncak Abadi Para Dewa' ini sangat populer di kalangan pendaki, yaitu keberadaan Ranu Kumbolo, danau dengan lanskap menakjubkan dan sudah pasti akan dilewati oleh mereka yang mengawali pendakian melalui rute Ranu Pani.

Namun sama seperti keberadaan objek wisata alam pada umumnya, pesona dan keindahan yang dimiliki oleh Gunung Semeru nyatanya juga tidak lepas dari permasalahan yang sebenarnya sangat mendasar, dan masih sulit dipahami oleh banyak orang hingga saat ini, yaitu sampah.

Nyatanya, kegiatan pendakian gunung semakin diminati oleh banyak orang dari tahun ke tahun, tentu perkembangan ini menjadi hal yang baik, namun di saat bersamaan juga ada permasalahan yang patut mendapat perhatian besar, yaitu mengenai belum pahamnya para pendaki—yang mungkin pemula, akan bagaimana mengelola sampah yang mereka bawa saat melakukan pendakian.

Tren mendaki gunung dan ancaman sampah yang semakin nyata

Kepadatan pendaki yang berkemah di gunung
info gambar

Tak bisa disalahkan sepenuhnya, namun di saat yang bersamaan fakta yang terjadi juga tidak bisa membuat semua pihak menutup mata, publik pasti masih ingat dengan salah satu film fenomenal berjudul 5 cm yang rilis pertama kali pada tahun 2012.

Kebetulan, Gunung Semeru dan Ranu Kumbolo menjadi latar tempat yang dipilih dari film bergene petualangan ini.

Film yang dibintangi Fedi Nuril dan Raline Shah tersebut sebenarnya memiliki jalan cerita dan pesan moral yang penuh makna. Namun sayang, dampak yang terjadi setelah kepopulerannya jauh dari harapan akan kelestarian lingkungan Gunung Semeru dan Ranu Kumbolo itu sendiri.

Melansir Kompas, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) pada tahun 2019 pernah mengonfirmasi, bahwa tren mendaki gunung memang mulai mengalami peningkatan sejak delapan tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 2011.

Kemudian, ledakan minat semakin meningkat setelah kemunculan film yang sebelumnya dimaksud.

“…tontonan-tontonan yang berkaitan dengan petualangan, ada juga film-film yang berkaitan sama petualangan. Contohnya, terakhir yang tentang Semeru. Saya nggak mau nyebut merek atau nama filmnya. Iklimnya (mendaki gunung) semakin meningkat dan APGI coba mengakomodasi ini…” ungkap Wisnu Wiryawan, perwakilan APGI kala itu.

Dalam kesempatan yang sama, Wisnu juga mengatakan, bahwa sejak saat tak sedikit pula pendaki yang sebetulnya belum memiliki pengetahuan dasar tentang pendakian, lantaran tidak pernah bergabung dalam komunitas maupun organisasi pencinta alam.

Dari situlah permasalahan sampah terasa semakin nyata, hal tersebut pernah diungkap oleh Han Sonny, Sekretaris Sahabat Volunteer Semeru (SAVER), lewat sebuah acara Virtual Escape Tour Semeru yang berlangsung pada, Sabtu (14/7/2020).

Han menceritakan, bahwa tak lama setelah film petualangan populer yang sebelumnya dimaksud muncul, ada sebanyak enam ton sampah di Ranu Kumbolo yang terkumpul hanya dalam waktu empat hari.

“…pernah kita coba menghitung di tahun 2013, dalam waktu empat hari saja dari tanggal 15-18 Agustus, dalam empat hari sampah tertinggal di Ranukumbolo ada lebih dari enam ton," ungkap Han.

Kondisi tersebut sempat membuat geram masyarakat sekitar, yang pada akhirnya harus berusaha keras membersihkan tumpukan sampah dengan susah payah.

"…kita perlu melakukan sesuatu yang waktu itu luar biasa banget, sama warga sekitar waktu itu berjuang habis-habisan," tambahnya.

Di sisi lain, hal serupa yang menimpa kawasan Gunung Semeru juga diungkapkan oleh salah satu anggota komunitas pencinta alam Gimbal Alas Indonesia, Trianko Hermanda. Diceritakannya, pada tahun yang sama semenjak Semeru semakin populer, sampah rumah tangga seperti plastik, tisu, dan benda-benda tidak terurai semakin banyak ditemukan.

"Limbah plastik, bungkus mi instan, botol, tisu, tisu basah yang tidak mudah hancur, banyak sekali kami temukan di jalur pendakian sampah-sampah ini," ungkap Trianko.

Bahkan pada bulan Agustus 2013, komunitas tersebut berhasil mengumpulkan sampah seberat 12 ton. Diungkap Trianko, Ranu Kumbolo masih menjadi lokasi dengan sampah yang paling banyak ditemukan, karena menjadi titik favorit para pendaki untuk berkemah.

Aman dari ancaman sampah di kala pandemi melanda

Ungkapan mengenai alam yang beristirahat berkat pandemi melanda ternyata bukanlah hisapan jempol belaka. Hal tersebut nyatanya terbukti pada kondisi lingkungan sejumlah kawasan Taman Nasional dan Gunung di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Gunung Semeru dan seluruh bagian TNBTS.

Berkat penutupan dan pembatasan kawasan wisata yang dilakukan sejak awal pandemi melanda, seperti halnya PSBB pada bulan Maret 2020 lalu, momentum ini dapat dikatakan sebagai masa pemulihan ekosistem bagi sejumlah kawasan wisata pendakian gunung di Indonesia.

Sebagai contoh, kegiatan pendakian umumnya meningkat setiap peringatan Kemerdekaan 17 Agustus, sampah yang dihasilkan dari kegiatan dan momen ini pun nyatanya kerap tak terhindarkan karena banyak pendaki yang ingin melakukan upacara bendera di atas puncak Mahameru.

Humas Balai Besar TNBTS bahkan mengungkap bahwa setiap momen 17 Agustus, biasanya kuota izin pendakian 600 orang per hari selalu penuh. Bila selama tiga hari, maka saat peringatan kemerdekaan ada sekitar 1.800 orang di Gunung Semeru, dengan sampah yang dihasilkan mencapai 990 kilogram atau nyaris satu ton.

Namun, setelah dua tahun terakhir peringatan kemerdekaan berlangsung di tengah situasi pandemi, berbagai kawasan Taman Nasional dan gunung pendakian yang belum dibuka pun aman dari ancaman sampah yang biasanya menghampiri.

Aksi nyata mengatasi sampah di Gunung Semeru oleh berbagai pihak

Jika permasalahan sampah di kawasan Hutan dan Gunung Semeru sudah terjadi, sudah pasti dan mau tak mau, pihak pertama yang mengatasi persoalan tersebut tidak jauh dari masyarakat sekitar yang memiliki kelangsungan hidup dan nilai ekonomi di wilayah tersebut.

Saat ini, diketahui ada kelompok kebersihan lingkungan (KKL) yang pertama kali diinisiasi pada tahun 2018. KKL tersebut dibentuk di Desa Ranu Pani, rute yang paling banyak dipilih oleh para pendaki Semeru.

KKL Desa Ranupani juga mendapatkan pinjaman lahan dari TNBTS seluas 800 meter persegi sebagai Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu. Dalam pelaksanaannya, sampah yang sebagian besar terdiri dari botol minuman plastik yang selesai diangkut dari jalur pendakian Gunung Semeru, akan dipilah untuk mendapat penanganan lanjutan.

Beruntungnya, bukan hanya masyarakat sekitar atau pihak pengelola yang mengatasi persoalan tersebut. Ada peran besar yang juga dilakukan oleh berbagai komunitas pencinta alam yang memiliki kedasaran mulia akan kelangsungan alam yang ada di Indonesia.

Salah satu komunitas pencinta alam yang diketahui kerap berperan aktif mengatasi permasalahan sampah di Gunung Semeru, yaitu komunitas peduli sampah di hutan dan gunung atau lebih dikenal sebagai Trashbag Community.

Berdirinya komunitas ini rupanya berawal dari keterbatasan pengelola gunung dan taman nasional dalam menghadapi permasalahan sampah.

Akhirnya, sekelompok pendaki mendirikan Trashbag Community pada tahun 2011 dan saat ini sudah memiliki sekitar 2.500 personel yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia, dan kerap aktif melakukan aksi pungut sampai di berbagai gunung pendakian, termasuk salah satunya Gunung Semeru.

Melansir BBC, ketua umum Trashbag Community yaitu Ragil Budi Wibowo berpendapat, bahwa aksi penurunan sampah dari gunung tidak akan efektif bila tidak dibarengi dengan pemberian pemahaman dan pengawasan kepada para pendaki.

“…yang efektif adalah mencegah sampah-sampah berada di atas gunung, apabila hanya fokus mengangkut sampah dari atas gunung, siklusnya akan berputar tanpa henti..” tuturnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini