Deforestasi dan Sampah Plastik yang Dapat Mengganggu Ekosistem Kehidupan Hewan

Deforestasi dan Sampah Plastik yang Dapat Mengganggu Ekosistem Kehidupan Hewan
info gambar utama

Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan. Sebagai makhluk hidup, hewan menggantungkan hidupnya di ekosistem ini.

Namun, terdapat kegiatan manusia yang dapat merusak hutan sehingga mengganggu kehidupan hewan di dalamnya. Misalnya pembuangan limbah dan sampah. Pada April lalu, warga Blitar menemukan tumpukan sampah medis di tepi jalan hutan jati Gondanglegi.

“Kami menyayangkan tindakan ngawur tersebut. Hutan bukan tempat pembuangan sampah,” kata Waka Adm Perhutani Blitar Ivan Cahyo, seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Tidak hanya sampah medis, sampah plastik pun banyak ditemukan di hutan. Beberapa minggu lalu, tepatnya pada Minggu (22/8/2021), sekitar 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya membersihkan kawasan hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya Kecamatan Wonorejo.

Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Relawan Sungai Nusantara itu membersihkan pohon mangrove dari berbagai jenis sampah yang melilit akar, dahan, dan batang.

Selama enam jam pembersihan, sebanyak 20 karung sampah plastik atau setara dengan 200 kilogram berhasil dikumpulkan. Adapun sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah plastik termasuk botol plastik, styrofoam, tas kresek, dan alat tangkap ikan seperti senar, pelampung, dan sandal.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong pun mengatakan 54 persen dari total sampah plastik masih terbuang di lingkungan atau belum didaur ulang. Hal tersebut ia sampaikan pada, Senin (30/8), melalui webinar yang diselenggarakan Sekolah Sampah Nusantara.

Di lain sisi, The National Plastic Action Partnership (NPAP) mencatat terdapat sekitar 4,8 juta ton sampah plastik di Indonesia tidak terkelola dengan baik per tahunnya. Adapun maksud tidak dikelola dengan baik adalah dibakar di ruang terbuka (48 persen), tidak dikelola layak di tempat pembuangan sampah resmi (13 persen), dan mencemari saluran air dan laut (9 persen).

Project Manager Ocean Plastic Prevention Accelerator (OPPA), Duala Oktoriani, mengatakan angka tersebut diprediksi akan bertambah mengingat jumlah produksi sampah plastik di Indonesia menunjukkan tren meningkat 5 persen setiap tahunnya.

Kegiatan manusia selanjutnya yang dapat merusak hutan adalah deforestasi. Deforestasi berarti situasi hilangnya tutupan hutan beserta segala aspeknya yang berdampak pada hilangnya struktur dan fungsi hutan itu sendiri.

Deforestasi Hutan Indonesia pada 2021 | Goodstats
info gambar

Pada Maret lalu, pemerintah mengumumkan luas deforestasi Indonesia pada periode 2019-2020 mengalami penurunan sampai 75 persen atau sebesar 115,5 ribu hektare dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 462,5 ribu hektare.

Kalimantan menjadi pulau dengan deforestasi tertinggi seluas 41,5 ribu hektare. Kemudian, Nusa Tenggara dengan luas 21,3 ribu hektare dan Sumatra dengan luas 17,9 ribu hektare.

Dilansir dari Mongabay, Deputi Direktur Bidang Program Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL) Grita Anindarini mengatakan bahwa persentase penurunan deforestasi itu patut diapresiasi tetapi tidak boleh terjebak pada angka penurunan persentase tanpa melihat luasan.

Dalam kurun waktu dua tahun, pada periode 2018-2020, seluas 570 ribu hektare deforestasi dilakukan. Angka tersebut hampir setara luas Jakarta, yaitu 660 ribu hektare.

Totalitas Masyarakat Padangtegal, Jaga Hutan Monyet dari Sampah

Dampak deforestasi

Dua contoh kegiatan manusia tersebut dapat memengaruhi kehidupan para hewan yang tinggal di dalam hutan. Hutan yang rusak dapat mengubah persediaan air. Air menjadi kotor karena polusi dari kegiatan manusia. Bahkan, dapat membuat kekeringan akibat hilangnya tumbuhan hijau.

Lalu, hewan juga dapat kehilangan habitatnya. Hilangnya habitat dan sumber makanan memaksa hewan bermigrasi keluar dari hutan. Maka dari itu, binatang hutan biasanya akan masuk ke pemukiman manusia untuk mencari makanan.

Misalnya, pada Selasa (08/6), orang utan terlihat masuk ke pemukiman warga di Desa Lusan, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Kejadian tersebut bukan kejadian untuk pertama kalinya. Setidaknya, sudah terdapat dua orang utan yang masuk ke pemukiman warga di Kalimantan Timur sepanjang 2021.

Sebelumnya, seorang sopir truk perusahaan tambang batubara merekam orang utan sedang berjalan di jalur tanah yang biasanya dilalui alat berat. Tepatnya, peristiwa itu terjadi di area tambang batubara PT Tawabu Mineral Resource di Desa Sepaso Timur, Kabupaten Kutai Timur, pada Senin (17/5).

Menurut Kepala Bagian Ekologi Manajemen Satwa Liar Institut Pertanian Bogor (IPB), Ani Mardiastuti, ada beberapa dugaan penyebab orang utan masuk ke wilayah pemukiman warga, yaitu untuk mencari makanan, tempat berlindung, air, hingga mencari habitat lain.

"Jadi kita sekarang tinggal cari 4 kemungkinan itu. Space [tempat tinggal] apakah masih punya? tempat berlindung apakah masih punya? apakah pakannya apakah tidak punya tempat untuk tidur atau tidak ada air? Atau bisa juga seluruhnya,” kata Ani, mengutip CNN Indonesia.

Namun, melansir dari Harian Kompas, Pelaksana Tugas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Nur Patria Kurniawan mengatakan orang utan di Kabupaten Paser masuk ke pemukiman karena faktor usia. Terdapat kemungkinan orang utan tersebut tidak punya kemampuan memanjat lagi sehingga ia berjalan sampai ke pemukiman warga.

Berbeda dengan kejadian di Kabupaten Paser, orang utan yang masuk ke Kabupaten Kutai Timur kehilangan koridor sebagai jalur perpindahan satwa mencari makan.

Kejadian serupa juga terjadi di Kalimantan Barat. Selama Agustus 2021, sudah dua kali orang utan masuk ke pemukiman warga di Desa Teluk Harapan, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

"Dia (orang utan) merusak pondok, menumpahkan segala beras, padi dan lain lain," kata Darmono, warga Desa Teluk Harapan, kepada Tribun Pontianak (24/08).

Ketika Mitos Berpengaruh pada Pelestarian Satwa dan Lingkungan

Polusi plastik dan migrasi hewan

Seperti yang kita tahu, polusi plastik tersebar luas secara global. Ditambah lagi harga plastik yang murah dan barangnya tersedia secara luas. Berarti, plastik sering digunakan dan sering dibuang sembarangan. Namun, karakteristik plastik itu kuat dan tahan lama. Plastik yang dibuang ke lingkungan memiliki kapasitas untuk bertahan selama beberapa dekade atau ratusan tahun.

Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS) atau Konvensi PBB tentang Konservasi Spesies Migrasi Satwa Liar mengatakan, hewan yang yang bermigrasi di kawasan Asia-Pasifik merupakan spesies yang paling rentan terhadap polusi plastik.

Berdasarkan laporan yang mereka publikasikan pada, Selasa (31/8), hewan yang paling terkena dampak saat bermigrasi adalah lumba-lumba, gajah, dan burung.

“Sebagian besar polusi plastik dihasilkan di darat, sayangnya tidak mengherankan jika hal itu berdampak pada migrasi dan spesies hewan lain yang hidup di darat dan di lingkungan air tawar,” kata Fraenkel, Sekretaris Eksekutif CMS.

Laporan tersebut mencatat bahwa spesies yang dilindungi di bawah CMS dipengaruhi oleh polusi plastik di ekosistem sungai dan di darat, termasuk spesies air tawar, hewan darat, dan burung.

“Sebagian besar polusi plastik dihasilkan di darat. Tidak mengherankan jika hal itu (polusi plastik) berdampak pada migrasi dan spesies hewan lain yang hidup di darat dan di lingkungan air tawar,” tambahnya.

Padahal, hewan yang bermigrasi sudah berada di bawah tekanan dari stres lingkungan, termasuk dampak perubahan iklim. Ditambah pula dengan polusi plastik sebagai pemicu stres tambahan yang mengancam kelangsungan hidup mereka.

“Spesies yang bermigrasi akan menghadapi berbagai lingkungan yang lebih luas termasuk lingkungan yang terindustrialisasi dan sangat tercemar, sehingga ada kemungkinan terdapat paparan yang lebih tinggi terhadap plastik dan kontaminan terkait,” jelas para ahli PBB, seperti tercatat dalam pernyataan resmi.

Dua ekor gajah berkeliaran di sekitar tempat pembuangan sampah di di pinggir Taman Nasional Minneriya, Sri Lanka
info gambar

Hal tersebut dapat terlihat dari kasus gajah di Sri Lanka dan Thailand, yang memakan plastik dan mengais-ngais tempat pembuangan sampah.

Menurut para ahli PBB, burung yang bermigrasi adalah spesies yang paling banyak berinteraksi dengan plastik. Contohnya, Ibis sendok kecil dan elang tiram membuat sarang dari plastik, menggunakan tali pancing, dan puing-puing pengiriman.

Burung laut yang bermigrasi di kawasan Asia-Pasifik seperti albatros kaki hitam, dan albatros Laysan juga sangat rentan terhadap konsumsi plastik karena mereka mungkin tidak bisa membedakan barang-barang plastik yang mengambang dengan mangsanya saat terbang di atas lautan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Lydia Fransisca lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Lydia Fransisca.

LF
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini