Pesona Danau Ranau, Danau Kedua Terbesar di Sumatra Setelah Danau Toba

Pesona Danau Ranau, Danau Kedua Terbesar di Sumatra Setelah Danau Toba
info gambar utama

Rasanya, kampanye “Di Indonesia Saja” yang digaungkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, memang tak berlebihan. Pasalnya, pariwisata di Indonesia memang begitu kaya dan beragam. Jangankan di area provinsi atau pulau, di tiap-tiap kota dan kabupaten saja, masih banyak potensi wisata yang belum banyak orang tahu.

Maka tak ada salahnya jika kita sebagai warga Indonesia lebih menjelajahi destinasi wisata di negeri sendiri karena begitu banyak yang dapat dieksplor untuk meningkatkan wawasan, pengalaman, dan ikut melestarikan tempat wisata di negeri sendiri.

Setiap daerah yang kita kunjungi di Indonesia, hampir keseluruhannya memiliki potensi wisata dengan ciri khas masing-masing, baik yang sudah dikenal, kurang populer, atau belum dikembangkan dengan maksimal.

Salah satu contohnya adalah Lampung, provinsi ini terletak di sebelah selatan Pulau Sumatra dan berbatasan dengan Sumatra Selatan dan Bengkulu. Lampung semakin dikenal sebagai destinasi wisata dalam negeri sejak berbagai acara kebudayaan diadakan di sana secara rutin, sebut saja nama-nama Festival Way Kambas, Festival Teluk Stabas, dan Festival Krakatau.

Di kalangan para pelancong, nama Lampung mungkin terkenal dengan Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan yang populer dengan lumba-lumbanya. Namun, jika dijelajahi lebih jauh lagi, masih banyak potensi wisata, terutama alam, yang menarik untuk diketahui.

Misalnya adalah Danau Ranau. Namanya mungkin kalah tenar dengan Danau Toba yang memang tersohor karena memiliki ukuran yang besar, ditambah lagi dengan Pulau Samosir di bagian tengahnya. Tak hanya menawarkan wisata alam, kawasan Danau Toba pun kaya akan nilai-nilai kebudayaan.

Secara geografis, Danau Ranau terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatra Selatan.

Destinasi Wisata Alam Eksotis di Jayapura, Bukti Papua Tak Hanya Raja Ampat

Pesona Danau Ranau

Danau Ranau merupakan danau kedua terbesar di Sumatra setelah Danau Toba. Danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan dan semakin lama, lubang besar tersebut penuh dengan air dan menjadi danau.

Luas permukaan danau ini ialah 125,9 km persegi dengan kedalaman rata-rata 174 meter serta kedalaman maksimum 229 meter. Di sekeliling danau ditumbuhi berbagai tumbuhan semak, dan oleh warga setempat sering disebut ranau. Maka, inilah yang mendasari penyebutan nama Danau Ranau. Sisa gunung api tersebut kini dikenal dengan nama Gunung Seminung yang menjadi latar belakang danau.

Sebagai danau tektonik atau danau vulkanik, aliran utamanya berasal dari Sungai Warkuk dan mengalir menuju Sungai Selabung yang merupakan salah satu dari anak Sungai Komering. Danau ini juga sering dikunjungi nelayan untuk mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan.

Topografi Danau Ranau merupakan perbukitan berlembah, dan ini membuat udara di sekitarnya terasa sejuk dan segar. Tak hanya untuk kebutuhan irigasi semata, Danau Ranau juga cocok jadi destinasi wisata karena punya pemandangan indah dan bisa jadi tempat menghilangkan penat dari hiruk-pikuk perkotaan.

Danau Ranau | @xovyan Shutterstock
info gambar
Berwisata ke Desa Jampit yang Menenangkan di Kaki Gunung Ijen

Objek wisata di Danau Ranau

Saat mengunjungi Danau Ranau, Anda akan menemukan banyak pengunjung yang berkegiatan memancing. Serunya, wisatawan pun dapat memancing dan membakar hasil pancingan di tepi danau. Bahkan, bila tak berminat memancing, pun bisa membeli ikan tangkapan nelayan secara langsung.

Jika Danau Toba dikenal masyarakat dengan Pulau Samosir yang berada di bagian tengahnya, sebenarnya hal serupa pun dapat ditemukan di Danau Ranau. Ya, di tengah danau ini juga terdapat sebuah pulau bernama Pulau Marisa.

Untuk sampai ke Pulau Marisa, pengunjung harus menyeberang menggunakan perahu-perahu nelayan yang sudah berderet tapi di tepian danau. Salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan adalah sumber air panas dengan kandungan sulfur. Banyak orang mandi atau berendam di sumber air tersebut yang dipercaya dapat mengobati penyakit kulit dan untuk tujuan relaksasi.

Mengunjungi Danau Ranau, kita dapat menikmati indahnya pemandangan Gunung Seminung dan menjelajahi beberapa objek wisata lain. Misalnya, Air Terjun Subik Tuha, hamparan sawah yang luas dan hijau yang menyegarkan mata, serta perkebunan kopi. Anda pun bisa mengunjungi Pantai Sinangkalan, Pantai Pelangi, Pantai Bidadari, dan Wisata Lombok.

Mengunjungi Beragam Pasar Tradisional Unik di Indonesia

Akses ke Danau Ranau

Untuk mengunjungi Danau Ranau, bisa mengambil rute dari Bandar Lampung ke arah Kota Bumi, dan lanjutkan sampai ke Bukit Kemuning, Kota Batu, dan sampai ke danau dengan estimasi perjalanan 6-7 jam. Akses menuju danau cenderung sempit tetapi masih bisa dilewati kendaraan roda empat. Meski demikian, perjalanan dengan kendaraan roda dua akan lebih terasa mudah.

Akses jalan sampai ke Danau Ranau sebenarnya relatif cukup baik dan sudah teraspal, tetapi memang berkelok-kelok dan harus berhati-hati karena tak ada pembatas jalan. Di beberapa titik, terdapat jalur yang cukup menantang, misalnya kawasan hutan lindung yang sempit dan dipenuhi pepohonan di kanan-kiri jalan.

Bila tertarik untuk berlibur beberapa hari di kawasan Danau Ranau, tak perlu khawatir karena di sana sudah ada penginapan, mulai dari menyewa rumah penduduk hingga penginapan yang lokasinya tepat di tepi danau untuk menikmati panorama Danau Ranau lebih dekat.

Penginapan tersebut secara resmi dikelola oleh PT. Pusri dan biaya menginapnya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp100-150 ribu per malam pada hari biasa. Dengan membayar sejumlah tersebut, sudah termasuk fasilitas sarapan dan kamar tidur yang nyaman.




Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini