Sampah di Gunung Gede Pangrango dan Dampaknya Pada Upaya Pelestarian Kawasan Konservasi

Sampah di Gunung Gede Pangrango dan Dampaknya Pada Upaya Pelestarian Kawasan Konservasi
info gambar utama

Nama Gunung Gede Pangrango tentu sudah tak asing di kalangan para pendaki dan pencinta alam di Pulau Jawa. Gunung tersebut berada di dua wilayah, yaitu Kabupaten Cianjur dan Sukabumi dengan ketinggian 1.000-2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung Gede Pangrango merupakan gunung api bertipe stratovolcano yang berada di lingkup Taman Nasional Gede Pangrango. Lokasi gunung diselimuti oleh hutan pegunungan yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga subalpin, di sekitar puncaknya.

Untuk mencapai lokasi, perjalanan bisa ditempuh melalui rute Jakarta-Bogor-Cibodas dengan jarak tempuh sekitar 100 km, via Bandung-Cipanas-Cibodas dengan jarak 89 km, atau jalur Bogor-Salabintana sekitar 52 km.

Sejak pandemi, kawasan gunung mengalami buka-tutup mengikuti kebijakan pemerintah terkait pembatasan kegiatan terkait Covid-19. Namun, mulai tanggal 2 September 2021 lalu, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mengumumkan bahwa Gunung Gede Pangrango telah dibuka kembali untuk pendaki dengan syarat harus mengikuti protokol kesehatan dan sudah divaksin minimal dosis pertama.

Selama PPKM Jawa-Bali, kuota pendakian dibatasi hanya 25 persen dari jumlah normal 600 orang per hari. Tentu ini menjadi kabar baik bagi para pencinta alam yang sudah tak sabar ingin mendaki gunung dan menikmati berbagai keindahan di gunung.

Perlu diketahui bahwa Gunung Gede Pangrango memang memiliki daya tarik luar biasa. Pasalnya, di sana terdapat beberapa objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari Telaga Biru, air terjun Cibereum, kandang batu dan kandang badak untuk kegiatan berkemah dan pengamatan satwa, Alun-Alun Suryakencana yang merupakan kawasan dengan hamparan bunga edelweiss pada ketinggian 2.750 mdpl, serta puncak dan kawah Gunung Gede.

Tentunya semua keindahan alam yang ada di Gunung Gede Pangrango harus dilestarikan dan dijaga baik-baik agar bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Sebab, pelestarian alam juga merupakan tugas kita semua.

Tak dapat disangkal bila hingga kini masih banyak wisatawan dan pendaki yang sekadar berkunjung ke alam tetapi tak mengindahkan kebersihan dan tak memedulikan kondisi alam. Pada akhirnya, mereka sesuka hati membuang sampah sembarangan, yang tampaknya hanya sepele, tapi dampaknya besar bagi ekosistem alam.

Deforestasi dan Sampah Plastik yang Dapat Mengganggu Ekosistem Kehidupan Hewan

Persoalan sampah di Gunung Gede Pangrango

Situs resmi Gunung Gede Pangrango menunjukkan jika diasumsikan jumlah pendaki 600 orang per hari dengan waktu pendakian selama dua hari. Maka dalam satu waktu, jumlah pendaki bisa mencapai 1.200 orang. Bahkan hingga 1.800 pada waktu liburan, ditambah banyak pendaki ilegal yang sengaja menambah jumlah hari tanpa izin resmi.

Tak ada jaminan bahwa ribuan pendaki tersebut semuanya akan mematuhi aturan untuk tidak meninggalkan sampah di area konservasi. Jika satu orang meninggalkan setidaknya 0,5 kg sampah saja, maka bila dikali 1.800 orang, sampah di gunung dalam satu waktu pendakian bisa mencapai 900 kg.

Sampah-sampah yang mendominasi gunung kebanyakan non-organik seperti kaleng, bungkus makanan plastik, botol minum, dan sampah-sampah peralatan pendaki yang rusak.

Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto, menjelaskan bahwa sebenarnya persoalan sampah di Gunung Gede Pangrango sudah mengalami penurunan. Pada awal tahun 2018, jumlah sampah bisa mencapai 1,2 ton dan pada bulan Agustus di tahun yang sampa, volume sampah menjadi 800 kg. Kemudian pada Januari 2019, jumlah sampah turun lagi ke angka 500 kg dan menjadi 300 kg pada bulan Agustus.

Meski menunjukan tren yang positif, ia mengaku tak ingin lengah dan terus mengedukasi pendaki. Sebab, tak dapat dimungkiri bila nanti ada pendaki pemula baru, sampah bisa naik lagi.

Wahyu mengatakan bahwa jenis sampah yang ia temukan di Gunung Gede Pangrango tak hanya plastik dari logistik pendaki, tetapi juga lembaran kertas berisi pesan yang sedang tren diunggah ke media sosial. Segala macam sampah yang dibuang di gunung tentunya akan berpengaruh pada usaha pelestarian alam di kawasan konservasi.

Ia pun mengimbau agar para pendaki tidak membawa sabun deterjen karena dikhawatirkan akan mencemari ekosistem hutan. Pun, banyak pendaki yang kedapatan membawa rokok. Sebenarnya Wahyu sendiri tidak melarang pendaki membawa rokok, asal dimatikan dengan benar dan puntungnya dibawa turun gunung agar tidak memicu kebakaran hutan.

Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam

Satu ton sampah diangkut dalam dua hari

Pada pertengahan Juni 2021, sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan pembersihan sampah berhasil mengangkut satu ton sampah dari dari dua jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.

Menurut keterangan Poppy Oktadiyani, Humas Balai Besar TNGGP, membenarkan bahwa 142 sukarelawan telah mengumpulkan sampah sebanyak 828 kg dari jalur pendakian Ciputri dan 295,5 kg dari jalur pendakian Cibodas.

Kebanyakan sampah merupakan botol air mineral, bungkus mi instan, dan kaleng yang ditinggalkan pendaki. Padahal sebelum mendaki, mereka sudah diperingatkan bahwa sampah wajib dibawa kembali saat turun.

Niko Rastagil, Relawan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), mengatakan bahwa pemandu dan petugas taman nasional selalu mengingatkan pendaki agar tak meninggalkan sampah di kawasan taman nasional, sekecil apapun, terlebih sampah plastik.

Niko menjelaskan bahwa pendaki gunung dan pencinta alam semestinya peduli pada kebersihan dan kelestarian lingkungan. “Jangan sampai mereka mengaku pencinta alam tapi meninggalkan sampah," kata Niko seperti dilansir Jawapos.com.

Balai Besar TNGGP pun tengah menggencarkan kampanye budaya bersih kepada para pendaki agar tak lagi meninggalkan sampah saat mendaki. Mereka pun mengimbau pendaki untuk membawa kembali sampah saat turun demi menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

Perlu diingat bahwa sampah non-organik yang tidak dikeluarkan dari Gunung Gede Pangrango butuh waktu lama untuk penguraian, bahkan puluhan hingga ratusan tahun. Sebagai contoh, plastik dan kaleng membutuhkan waktu 100 tahun untuk terurai dan styrofoam bahkan butuh waktu 500 tahun lebih hingga terurai sempurna.

Bayangkan bila sampah-sampah tersebut bertahan di gunung dan menjadi sumber polusi bagi air, tanah, dan udara.

Balai Besar TNGGP pun terus melakukan berbagai upaya dalam mengatasi masalah sampah. Salah satunya lewat penyuluhan oleh petugas di pintu masuk pendakian. Semua pendaki akan diperiksa barang bawaanya pada pintu masuk dan keluar, pemasangan papan peringatan soal sampah, dan operasi bersih-bersih gunung secara rutin.

Alue Dohong, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, meminta para pendaki di TNGGP agar selalu menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah saat mendaki. Sebab, dengan hal sederhana ini bisa meningkatkan kesadaran pendaki soal menjaga kelestarian alam.

Jika kelestarian dapat terjaga, maka fungsi alam pun bisa jadi sarana yang menyehatkan bagi jasmani dan rohani masyarakat yang berkunjung. Sebaliknya, jika masalah sampah tidak dikelola dengan baik, hutan malah bisa membuat orang sakit.

Di sisi lain, Wahyu pun mengimbau agar para pendaki Gunung Gede Pangrango agar menjadi pendaki yang cerdas dan tidak merugikan. Pendaki cerdas itu mereka yang bertanggung jawab, mendaki secara resmi, tidak merugikan negara, dan keselamatan jadi lebih terjamin.




Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini