Gunung Papandayan, Kerentanan Sampah dari Pendaki dan Gerakan Zero Waste

Gunung Papandayan, Kerentanan Sampah dari Pendaki dan Gerakan Zero Waste
info gambar utama

Gunung Papandayan termasuk salah satu gunung yang menjadi sasaran bagi para pendaki pemula. Selain medan pendakiannya yang tidak terlalu sulit, Gunung Papandayan juga memiliki pemandangan indah yang menemani pendaki selama melakukan pendakian ke gunung yang memiliki ketinggian 2.665 mdpl ini.

Gunung yang secara geografis terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini memiliki dua jalur pendakian yang bisa dipilih oleh para pendaki yakni jalur Cisurupan dan jalur Pengalengan. Jalur Cisurupan termasuk jalur pendakian yang termudah dan menjadi pilihan bagi para pendaki pemula karena treknya relatif lebih aman.

Pendaki harus menuju gerbang pendakian terlebih dahulu untuk kemudian melanjutkan menuju basecamp. Dari basecamp inilah perjalanan pendakian di mulai. Sebelum memulai pendakian, pendaki harus melakukan registrasi terlebih dahulu.

Sampah di Gunung Gede Pangrango dan Dampaknya Pada Upaya Pelestarian Kawasan Konservasi

Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan sebelumnya tutup sejak 26 Juni 2021 karena kebijakan PPKM Jawa Bali demi mencegah penularan Covid-19. Kini setelah dua bulan tutup, Anda bisa menikmati kembali keindahan Gunung Papandayan karena telah dibuka kembali sejak 25 Agustus 2021.

Pembukaan tersebut sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2021, yaitu jumlah pengunjung dibatasi hanya 25 persen dari total kapasitas pengunjung untuk daerah level 2 PPKM.

Dikeluhkan karena tarif mahal dan banyak sampah

Walau dikenal dengan keindahannya, banyak pengunjung mengeluhkan retribusi yang terlalu mahal serta tidak seimbangnya dengan pelayanan dan kebersihan di kawasan TWAlam Gunung Papandayan.

Salah satu pengunjung, Franky (19), warga Perum Tanjung Indah, Desa Tanjung Kamuning, Tarogong Kaler, Garut, mengeluhkan kenaikan tarif tiket masuk Gunung Papandayan yang ditetapkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Garut.

Dia pun menyebutkan perbandingan kenaikan tiket masuk dan berkemah di Gunung Guntur, yang mematok tarif Rp15 ribu dari sebelumnya Rp7.500 per orang. Di Papandayan, tiket masuk mencapai Rp30 ribu, berkemah Rp35 ribu dan parkir Rp15ribu.

Hal senada diucapkan oleh Daniel yang menuturkan tarif yang ditentukan oleh pihak pengelola terlalu banyak dan tidak rasional. Dia menambahkan, tarif yang dipungut untuk wisatawan yakni mulai dari tarif masuk kawasan wisata, tarif kemah, dan tarif parkir kendaraan yang sangat mahal.

Menyelamatkan Gunung Rinjani dari Persoalan Sampah

Namun besaran tarif itu, kata dia, tidak sesuai dengan pelayanan dan kondisi kebersihan di sepanjang jalur pendakian dan kawasan berkemah. Kondisi tersebut, kata dia, sempat dibahas oleh pengunjung lainnya dan menyatakan sama kecewa dengan pengelolaan Gunung Papandayan saat ini.

Ia menambahkan, jika kondisi tersebut tidak segera dibenahi maka TWA Gunung Papandayan akan ditinggalkan oleh wisatawan. Padahal gunung tersebut, kata dia, memiliki potensi daya tarik tersendiri, dan sudah terkenal hingga ke mancanegara.

"Jika pengelolaannya tidak segera dibenahi, saya yakin tak lama lagi objek wisata ini tak akan lagi diminati para wisatawan," katanya.

Rentan dengan sampah

Jika merunut ke belakang, persoalan sampah di gunung memang menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pengelola. Seperti yang terjasi pada 17 Agustus 2014, sekitar 3.000 orang pendaki menyerbu Gunung Papandayan. Sebagian datang untuk berwisata dan berkemah, lainnya ingin menggelar upacara peringatan ke-69 Tahun Hari Kemerdekaan.

Sayangnya, pasca acara tersebut menimbulkan masalah baru, yakni sampah. Memang, sampah pendaki masih jadi masalah besar hingga saat ini.

Pada bulan September 2015 lalu, kawasan hutan di Gunung Papandayan dan Kawasan Cagar Alam Guntur, pernah mengalami kebakaran yang berlangsung selama sepekan. Kebakaran diduga karena kecerobohan pendaki yang membuat perapian dan membuang puntung rokok sembarangan.

MongabayIndonesia yang meninjau langsung ke lokasi kawasan yang terbakar, menyebut bahwa lokasi kebakaran di kawasan Tegal Alun dengan ketinggian sekitar 2.500 mdpl terlihat jelas. Sebagian besar kawasan yang merupakan tempat tumbuhnya bunga edelweis itu hangus terbakar.

Totalitas Masyarakat Padangtegal, Jaga Hutan Monyet dari Sampah

Ketua Pemadam Kebakaran Kelompok Desa Keramat Wangi, Cisuripan, Garut, Engkus Kusnadi (51), menuturkan dugaan awal kebakaran bermula dari puntung rokok dan perapian bekas pendaki yang berkemah, karena jaraknya hanya 1,5 km dari lokasi kebakaran yang awalnya merupakan semak belukar.

Bedasarkan survei Komunitas Sapu Gunung dan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dari sejumlah perguruan tinggi, menemukan fakta minat masyarakat untuk mendaki gunung meningkat. Sayang, kehadiran pendaki itu menimbulkan masalah lingkungan di kawasan pegunungan.

Masalah utama yang ditemukan adalah timbunan sampah plastik di sejumlah gunung di Indonesia. Mereka menuding para pendaki pemula sebagai orang yang bertanggung jawab atas tumpukan sampah yang sulit terurai itu.

"Riset kami menunjukkan minat naik ke gunung dalam tiga tahun terakhir ini sangat tinggi. Sayangnya itu tak dibarengi dengan kesadaran perilaku di atas gunung," kata Koordinator Komunitas Sapu Gunung, Syaiful Rochman.

Hasil survei mengungkap, ada 453 ton sampah yang dihasilkan oleh 150.688 pendaki gunung tiap tahunnya. Dari total timbunan sampah itu, 53 persen atau setara 250 ton sampah di antaranya adalah sampah plastik.

Hasil tersebut menggambarkan permasalahan sampah yang perlu diwaspadai berkaitan dengan salah satu fungsi taman nasional sebagai destinasi wisata yang harus bersih dari sampah dan pemeliharaan serta pelestarian flora fauna endemik.

Gunung yang telah disurvei itu antara lain Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro, dan Gunung Prau.

Adapun yang masih dalam proses survei adalah Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Halimun Salak, Gunung Sumbing, Gunung Papandayan, Gunung Bawakaraeng, dan Gunung Halau Halau.

Berdasarkan survei, pendaki gunung terbagi dua jenis, yakni mereka yang bergabung dalam kelompok pencinta alam dan mereka yang berangkat sendiri tak berasal dari pencinta alam. Kelompok terakhir inilah yang paling berbahaya karena mereka minim dibekali pengetahuan bagaimana harus berperilaku di gunung.

"Mereka membuang sampah seenaknya, mengabaikan kelestarian lingkungan. Pendaki seperti inilah yang paling berbahaya," tutur Syaiful

Gerakan zero waste

Salah satu upaya untuk menjaga taman nasional yang bersih sampah adalah dengan mengedepankan paradigma baru “zero waste untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan taman nasional dan destinasi wisata Indonesia” yang merupakan tema dari kegiatan Jambore Sapu Gunung Indonesia pada 2016.

Kegiatan Sapu Gunung ini akan menjadi titik balik dan titik awal pengurangan dan penanganan sampah di taman nasional sekaligus mendukung Program Nasional Indonesia Bersih Sampah 2020.

Ada juga gabungan beberapa komunitas dan organisasi yang menamakan diri Gerakan Bersama Aksi Bersih, melakukan serangkaian kegiatan berupa penyuluhan dan edukasi persampahan dan Nol Sampah atau Zero Waste, baik terhadap anak anak, maupun terhadap penggiat alam bebas.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi pendaki gunung agar tidak membawa makanan berbungkus plastik, mengurangi makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan sehat.

“Pendaki juga bisa mulai mengganti tisu dengan lap kain, menggunakan botol minum isi ulang membuat menu sehat,” kata Ketua Pelaksana Kegiatan Gerakan Bersama Aksi Bersih, Raditia Anggabumi, dalam Jawapos, (Februari 2018).

Apalagi menurut Raditia, saat ini sampah di gunung, dan di tempat wisata alam dalam kondisi darurat. Gerakan “Nol Sampah atau Zero Waste” yang ditujukan kepada pendaki lewat komunitas ini, diharapkan dapat mengubah perilaku dan kebiasaan pelancong terhadap sampah.

Menurut Ketua Umum Trashbag Community, Yogi Komarudin, sebagian besar sampah yang dihasilkan berupa sampah plastik 37 persen, botol plastik 15 persen, kain 10 persen, kaleng 8 persen, tisu basah 8 persen, beling 6 persen, puntung rokok 4 persen, dan lain-lain. Jumlah total sampah yang berada di 17 gunung tersebut adalah 3,3 ton sampah.

“Tiap gunung--jumlah volume sampahnya--berbeda-beda. Untuk gunung-gunung favorit jika tidak ada upaya pengurangan maka volumenya bisa terus bertambah signifikan,” jelasnya.

Gerakan zero waste saat naik gunung juga dilakukan oleh Siska Nirmala. Setelah mengikuti pelatihan tentang zero waste, ia pun merasa terpanggil untuk bergerak nyata soal sampah gunung maupun di kehidupan sehari-hari.

Sampah di Gunung Semeru, Bukti Nyata Bahwa Pendaki Belum Tentu Pencinta Alam

Perempuan kelahiran 6 Mei 1987 ini kemudian menjalani hidup zero waste secara bertahap sejak 2012 dan setahun berikutnya membuat gerakan pribadi, Zero Waste Adventure, yang dilakukan dengan ekpedisi nol sampah di lima gunung.

Ekspedisi ke Gunung Gede, Pangrango, Papandayan, Lawu, dan Argo Puro, itu memang baru dituntaskan dua tahun kemudian. Namun, perempuan yang kala itu berprofesi sebagai jurnalis merasa bangga karena dapat membuktikan bahwa pendakian nirsampah memang bisa dilakukan.

"Yang paling utama caranya adalah dengan tidak membawa makanan instan, baik mi instan maupun makanan kaleng. Jadi, kita tidak menghasilkan sampah anorganik. Lalu untuk sampah organiknya, seperti kulit buah dan lainnya, kita kubur, tapi bijinya dibawa turun agar tidak merusak ekosistem di atas," tutur perempuan lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, seperti dikutip Media Indonesia.

Hal urgensi lain, menurut Siska, ialah menghentikan penggunaan kantong plastik untuk membungkus berbagai perlengkapan pendakian.

"Gantilah dengan dry bag. Tapi memang saya juga mengerti kalau untuk semua barang mungkin berat bagi pendaki kita karena harga dry bag yang lumayan," ujarnya

Lebih jauh, jika hidup zero waste telah menjadi kebiasaan, menurutnya, semua akan terasa ringan dan biasa saja. Hal itu pula yang ia rasakan dalam membawa botol minum dan perangkat makan sendiri. Kebiasaan itu kini dirasakannya sebagai sebuah bagian diri yang tidak bisa terpisahkan.

"Kalau ada anggapan jika mendaki zero waste itu repot, saya tanya, mendaki itu sendiri apa enggak repot? Mendaki saja kan sebenarnya sudah repot, tapi kan kita mau karena senang. Nah, harusnya jangan kita senang sendiri, tapi alam rusak."

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini