Watchdoc jadi Lembaga Pertama Peraih Emergent Leadership Ramon Magsaysay Award

Watchdoc jadi Lembaga Pertama Peraih Emergent Leadership Ramon Magsaysay Award
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Kabar membanggakan kini datang dari dunia jurnalisme bangsa. Watchdoc, Rumah Produksi Audio Visual asal Indonesia baru saja memenangkan Magsaysay Award, sebuah penghargaan bergengsi yang kerap kali disebut-sebut sebagai Hadiah Nobel Asia.

Didirikan oleh Andhy Panca Kurniawan dan Dandhy Dwi Laksono, Watchdoc mendapat penghargaan Emergent Leadership di bidang jurnalisme investigatif pada Selasa (31/8) lalu. Hal ini menjadikan Watchdoc menjadi lembaga pertama yang diberi penghargaan di bawah kategori Emergent Leadership oleh Magsaysay Award. Sebelumnya, seluruh peraih penghargaan kategori ini adalah individu.

Setiap tahun, Yayasan Magsaysay yang berasal dari Filipina ini memberikan penghargaan bagi mereka yang dianggap berkontribusi di bidangnya masing-masing. Diberikan sejak tahun 1958, ada 314 individual dan 26 organisasi di 22 negara yang telah mendapat Ramon Magsaysay Award, dengan 28 di antaranya berasal dari Indonesia.

Mengenal Watchdoc, Rumah Produksi SexyKillers Peraih Ramon Magsaysay Awards

Penganugerahan Magsaysay Award | Twitter Watchdoc Indonesia
info gambar

Jika Kawan pernah menonton film Sexy Killers, The EndGame, Asimetris, maupun Kinipan, pasti Kawan tidak asing dengan Watchdoc sebagai rumah produksi yang merilis sejumlah film tersebut. Watchdoc berhasil dalam menawarkan perspektif baru bagi kaum muda dalam mencari kebenaran, sekaligus menyuarakan komunitas terpinggirkan agar suara-suara mereka didengar.

Dilansir dari ABC Indonesia, Andhy Panca Kurniawan sang pendiri Watchdoc mendapatkan kabar membahagiakan ini langsung dari panitia Ramon Magsaysay Award Foundation di awal bulan Agustus. Pemberian penghargaan ini dikarenakan film dokumenter Watchdoc masuk dalam jurnalisme investigasi yang menggunakan platform baru dalam menyoroti masalah lingkungan, sosial, dan hak asasi manusia.

Sejak didirikan pada tahun 2009, Watchdoc telah memproduksi sekitar 165 episode dokumenter dan 715 feature televisi. Di antaranya adalah The Mahuzes (2015), Asimetris (2018), Sexy Killers (2019), The EndGame (2021), dan Kinipan (2021).

Berjaya di Festival Internasional, Film Karya Anak Bangsa Raih Golden Leopard Award

Meraih Gwangju Prize for Human Rights dan Emergent Leadership

Pada awal tahun 2021, Watchdoc juga mendapat penghargaan Gwangju Prize for Human Rights. Selain itu, 45 karya video komersial dan non komersial milik Watchdoc juga pernah dianugerahi berbagai penghargaan lainnya.

Dikutip dari Kompas pada Rabu (1/9), Presiden Ramon Magsaysay Award Foundation Susan Adan mengatakan bahwa karya-karya Watchdoc mengangkat sesuatu yang tak banyak dibicarakan atau dihindari orang, dan mendistribusikannya kepada generasi baru.

Penghargaan ini menjadi wujud apresiasi Ramon Magsaysay Award Foundation kepada Watchdoc atas perjuangannya dalam menciptakan kesadaran publik akan isu-isu HAM, keadilan sosial, dan lingkungan.

"Penghargaan Emergent Leadership menggenapi apresiasi yang diberikan kepada kami setelah Gwangju Special Prize for Human Rights (dari Korea Selatan) yang kami dapatkan di awal tahun 2021 ini," kata Andhy Panca Kurniawan melalui ABC Indonesia.

Bagi Panca, penghargaan ini akan membuat Watchdoc menjadi lebih bersemangat dalam memproduksi karya-karya yang lebih baik, khususnya untuk masyarakat kecil dan generasi muda, serta untuk komunitas masyarakat sipil di Indonesia pada umumnya.

Jumlah Desa Wisata Kian Meningkat, Bentuk Sinergi Banyak Pihak Kelola Potensi Desa

Indonesia dalam Ramon Magsaysay Award

Pramoedya Ananta Toer sebagai Peraih Magsaysay Award pada 1995 | Twitter Watchdoc Indonesia
info gambar

Watchdoc bukan satu-satunya lembaga Indonesia yang dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay Award. Berbagai pemimpin, individu, bahkan badan hukum negara juga pernah mendapatkan apresiasi serupa.

Kegiatan Anti Bosan Agar WFH Lebih Berwarna

Berdasarkan data situs resmi Ramon Magsaysay, terdapat sejumlah individu dan organisasi dari Indonesia yang pernah menerima Raymon dalam berbagai kategori, di antaranya adalah Mochtar Lubis (1958), Ali Sadikin (1971), Abdurrahman Wahid (1993), Pramoedya Ananta Toer (1995), Ahmad Safi’i Maarif (2008), dan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK (2013).

Adanya prestasi bangsa dalam Ramon Magsaysay ini membuktikan masih banyaknya kebaikan-kebaikan yang terus disebarkan oleh generasi penerus bangsa di bidang mereka masing-masing. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang patut diapresiasi dan diteladani.*

Referensi: Kompas | Twitter Watchdoc Indonesia | ABC News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini