Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan

Institut Pasteur Dr Sardjito dan Perjuangan Tenaga Kesehatan bagi Kemerdekaan
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Apakah Kawan pernah mendengar tentang Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito yang berlokasi di Yogyakarta? Jika iya, apakah Kawan tahu siapa sesungguhnya sosok di balik nama tersebut?

Membicarakan tentang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia memang hampir tidak ada habisnya. Tiap warga negara memiliki peran masing-masing dalam mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Tak terkecuali Dr. Sardjito, seorang dokter sekaligus akademisi yang vokal dalam membantu perlawanan rakyat ketika melawan sekutu melalui caranya sendiri.

Mulai dari memproduksi vaksin dan obat-obatan, membuat ransum bagi para tentara negara, hingga berperan besar bagi pemindahan Institut Pasteur. Kontribusi serta cerita hidupnya layak dikenang oleh generasi penerus bangsa.

Dr. Sardjito: Seorang dokter, rektor, sekaligus akademisi pejuang kemerdekaan

Prof. Sardjito | Foto: Dok. arsip UGM
info gambar

Prof. Dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H. adalah seorang dokter sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya, ia juga menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang pertama (1949—1961), dilanjutkan menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1963—1970).

Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019, Dr. Sardjito kini menjadi salah satu pahlawan nasional yang memiliki kontribusi besar bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Koes Hendratmo dan Kenangan Kesuksesan Berpacu dalam Melodi

Dr. Sardjito dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan pemenuhan produksi pasokan obat-obatan dan vaksin bagi rakyat dan pejuang kemerdekaan. Misalnya, dengan memaksimalkan operasi Institut Pasteur beserta pemindahannya dari Bandung ke Klaten, menjadi garda terdepan dalam bidang medis bersama Palang Merah, hingga memberi inovasi luar biasanya dalam memindahkan vaksin melalui perantara kerbau.

Ditambah lagi, ia juga seorang akademisi yang memiliki jasa besar dalam kebudayaan Indonesia. Melalui tulisan Sardjito yang berjudul The Revival of Sculpture in Indonesia yang membahas mengenai seni memahat di masa prasejarah hingga kolonial dalam perspektif genetika, ia berhasil mempresentasikan karya tersebut di Kongres Pasifik Keilmuan ke-8 di Quezon City Manila Filipina tahun 1953.

Dilansir dari News Detik, Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono menyatakan bahwa UNESCO dan kawan-kawan di dunia internasional menjadi tertarik kepada Candi Borobudur dan Prambanan setelah Prof Sardjito mempresentasikan hasil penelitian tersebut.

Institut Pasteur Dr. Sardjito: Pemenuhan vaksin dan obat bagi pejuang kemerdekaan

Institut Pasteur 1930 | Foto: Wikipedia
info gambar

Setelah hari kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada akhir Agustus 1945, Institut Pasteur yang merupakan lembaga penelitian vaksin dan obat-obatan milik pemerintah Hindia Belanda secara resmi diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Hal ini menjadikan seluruh kewenangan bagian laboratorium termasuk hasil penelitiannya diberikan kepada Kementerian Kesehatan.

Lembaga yang bertugas meneliti kesehatan dan produksi obat-obatan ini kemudian mengalami kekosongan jabatan pemimpin setelah Matsura Kakka meninggalkan jabatannya dan kembali ke Jepang. Untuk sementara, kepemimpinan di lembaga ini dipegang oleh dr. R. Moh. Saleh guna menjaga Institut Pasteur agar tidak diduduki oleh tentara Sekutu.

Pengembangan Desa Wisata di Sumba, Boyke Hutapea: Potensinya Bisa Lebih dari 100 Desa

Dr. Sardjito yang saat itu menjabat sebagai Kepala laboratorium Institut Pasteur di Semarang, Jawa Tengah, diperintahkan untuk mengambil alih kepemimpinan pusat Institut Pasteur di Bandung. Sardjito secara resmi mengemban tugas sebagai kepala Institut Pasteur pusat pada akhir September 1945.

Dilansir dari Historia, Sardjito kemudian menginstruksikan tenaga medis di Institut Pasteur Bandung untuk membantu sipil dan militer, terutama dalam pemberian vaksin dan serum. Selain itu, ia juga membantu menangani penyebaran penyakit anjing gila yang mewabah di Bandung sekitar tahun 1940-an.

Peristiwa Bandung Lautan Api dan pemindahan Institut Pasteur

Peristiwa Bandung Lautan Api | Foto: Sejarah Lengkap
info gambar

Ketika Inggris datang ke Bandung dan mengancam kedaulatan Indonesia, Sardjito mendirikan pos-pos medis di sepanjang jalur transportasi penting dan pinggiran kota tempat tentara berkumpul menjaga keamanan kota. Ia juga menyediakan segala kebutuhan akan obat-obatan, vaksin, dan makanan darurat bersama tenaga medis dari Institut Pasteur dan Palang Merah.

Di bawah pimpinannya, Institut Pasteur menjadi garda terdepan dalam menyediakan kebutuhan medis semasa perang. Bahkan ketika Bandung dibombardir, yang memunculkan peristiwa Bandung Lautan Api, Sardjito terus membantu rakyat di garis depan.

Penyerbuan tentara sekutu di Bandung pada Oktober 1945 ini dikhawatirkan dapat menguasai Institut Pasteur beserta vaksin yang sedang dikembangkannya. Hal tersebut menjadikan penyelamatan obat-obatan dan vaksin menjadi sangat penting. Akhirnya, Sardjito memutuskan untuk memindahkan vaksin ke daerah pedalaman yang sukar dijangkau sekutu.

Palang Merah Indonesia, Salah Satu Cara Soekarno Pertahankan Kemerdekaan Pascaproklamasi

Situasi yang memanas juga mengantarkan Sardjito untuk memindahkan Institut Pasteur ke daerah yang lebih aman. Pemindahan ini mencakup seluruh operasional, penelitian, dan produksi. Ia memilih daerah Klaten sebagai tempat berdirinya Institut Pasteur sementara, dengan menempati laboratorium Percobaan Tembakau Klaten.

Di Klaten, Sardjito membagi Institut Pasteur menjadi tiga bagian, yakni unit Bakteriologi yang ia pimpin, unit Imunologi dan virologi yang dipimpin oleh Moh. Saleh, dan unit Serologi yang dipimpin oleh Subroto.

Meski bekerja dengan peralatan sederhana, Institut Pasteur mampu memproduksi berbagai vaksin bagi penyakit menular seperti tipes, kolera, disentri, dan pes yang sempat mewabah di Salatiga, Kebumen, dan Yogyakarta. Sardjito bersama tim juga berhasil membuat serum untuk penyakit rabies dan berbagai penyakit kulit. Lembaga ini bahkan dapat memberikan bantuan vaksin sebanyak 2000 liter, untuk pemerintah Mesir ketika diserang pandemi kolera.

Ketika Belanda melakukan penyerbuan ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948, sebagian besar karyawan Institute Pasteur diungsikan ke luar Klaten. Setelah Yogyakarta berhasil diamankan, Institut Pasteur kemudian dipindahkan ke Kota Pelajar tersebut. Hingga akhirnya lembaga ini kembali ke Bandung untuk menjalankan peran sebagaimana mestinya, tepatnya ketika situasi telah mereda dan Indonesia kembali berdaulat secara penuh.

Dr. Sardjito telah begitu banyak berjasa bagi Republik Indonesia. Agar kontribusi tersebut terus dikenang oleh generasi muda, ia dianugerahi berbagai apresiasi seperti Bintang Mahaputra, Bintang Gerilya, Bintang Kemerdekaan, Bintang Karya Satya dan lain-lain.

Sosok yang juga aktif di Budi Utomo ini menghembuskan napas terakhirnya pada 5 Mei 1970, di Yogyakarta, Indonesia. Ia meninggalkan berbagai pembelajaran dan semangat juang yang perlu kita teladani sebagai penerus bangsa.*

Referensi: Historia | News Detik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini