Mengubah Stigma Tiwul dari Makanan Ndeso jadi Sajian Kekinian

Mengubah Stigma Tiwul dari Makanan Ndeso jadi Sajian Kekinian
info gambar utama
Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Ketika menyebut nama tiwul, selalu terbersit dalam benak kita mengenai makanan khas desa yang terbuat dari ketela. Ketela sendiri memiliki karakter mudah timbuh di mana saja, meski berada di tempat kering dan kurang air. Oleh karenanya, tiwul menjadi makanan alternatif bagi mereka yang tidak ada kesempatan untuk mengunyah nasi dalam keseharian.

Namun, di tangan Bunga Ayu, tiwul mulai mendapat perhatian dan dikembangkan secara masif agar bisa setara dengan panganan kekinian yang indah di mata dan lezat di lidah. Dirinya membuka sebuah restauran di Dusun Ngrawan, Desa Ngreco, Kecamatan Weru, Sukoharjo dengan menu utamanya adalah tiwul.

Sejak 2018 ketika pertama kali buka, Bunga sengaja menaruh tiwul menjadi sajian utama, meski masih ada pilihan menu lainnya. Dirinya berharap bahwa tiwul yang lekat dengan panganan orang susah bisa naik derajat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

"Dalam perkara makanan, semuanya bergantung pada promosi dan proses pengemasan, oleh karena itu tiwul disajikan lebih modern dan rapi," tutur Bunga.

Penulis berkesempatan untuk mengunjungi Restoran Omah Tiwul. Letaknya yang jauh di pedalaman Sukoharjo tidak membuat pelanggannya surut. Bahkan, tak jarang pembeli dari luar kota juga berdatangan.

Restoran Omah Tiwul | Foto: Detik Travel
info gambar

Bunga menjelaskan untuk mempromosikan usaha kulinernya tersebut, dia bekerja sama dengan sejumlah influencer Kota Solo dan Sukoharjo. Dia tak segan untuk mengeluarkan kocek yang cukup dalam untuk biaya promosi dagangannya itu.

"Saya ingin membuat contoh bahwa tiwul bisa ditampilkan dalam beranda instagram dan media sosial lainnya, sehingga bisa menimbulkan ketertarikan, terutama bagi para generasi milenial," jelas Bunga.

Saat dicicipi, nasi tiwul terasa gurih dan ada sedikit manis di ujung lidah. Sehingga, kita dicampur dengan guyuran kuah dan sayur terasa cocok. Ditambah lagi dengan sambal terasi, menjadi komplit.

Tak Banyak yang Tahu, Inilah Kuliner Indonesia yang Mendunia

Prihatin makanan tradisional mulai terlupakan

Hidangan tiwul yang dikemas denan rapi dan kekinian
info gambar

Bunga merasa prihatin karena saat ini banyak anak muda yang tidak mengenal makanan tradisional. Terutama bagi mereka yang tinggal di area perkotaan, di mana secara pemikiran dan selera makanan lebih mudah terpengaruh tradisi asing.

Merasa tak ingin kalah, Bunga juga membuat menu lebih bervariasi. Dalam buku menu tidak hanya sekadar ditulis 'Nasi Tiwul', tetapi dia tulis seperti 'Gembul Komplit' yang di dalamnya terdapat panggang dan nasi tiwul. Ada juga menu 'Sego Gembul' yang disajikan tiga macam nasi, yaitu dari beras merah, tiwul, dan jagung.

"Kalau hanya ditulis nasi tiwul lalu ditambah menu, sepertinya hanya orang tua yang mau datang untuk membeli," kata Bunga.

Seruput Wedang Khas Indonesia dengan Segala Ragam Manfaat Bagi Kesehatan

Demi menghadirkan kesan jadul, Bunga menyiapkan beberapa kostum pakaian adat Jawa dan juga beberapa alat masak tradisional. Diharapkan para pembeli bisa datang tidak hanya untuk makan, namun juga mengabadikan momen.

"Sekarang wisata kuliner tidak hanya untuk menghibur lidah namun juga mata. Maka dari itu, kami menyajikan kostum agar kegiatan mereka bisa diabadikan dengan apik. Semacam nostalgia," lanjut Bunga menjelaskan.

Memulai usaha dari gendong jamu

Di balik usahanya, Bunga ternyata hanya berlatar belakang lulusan sekolah dasar. Wanita kelahiran 1993 tersebut memulai wirausahanya dengan menggendong jamu. Tidak hanya itu, ia juga berani untuk merantau ke Bandung.

Akhirnya rupiah demi rupiah dia kumpulkan dan membangun restoran bertema desa itu secara perlahan. Mulanya, Omah Tiwul hanya tersedia cash on delivery (COD) bagi para pembeli dagangannya yang ia distribusikan secara daring. Dia memulai usaha kuliner khas desa seperti emping atau keripik yang dibuat warga lokal.

Dirinya sengaja mengundang para tangganya untuk berwirausaha bersamanya, karena melihat besarnya potensi yang ada di desanya. Kolaborasi antarwarga itu terlihat dari etalase tokonya yang menyajikan aneka jajanan khas desa. Harganya juga sangat ekonomis dan bisa menjadi oleh-oleh khas Weru Sukoharjo.

Gastrodiplomasi dan Mimpi Besar Nation Branding Indonesia

Kini, Omah Tiwul selalu buka sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Bila akhir pekan, sajian hidangan akan segera habis pada siang hari karena membludaknya pembeli.

Demi mengenas masa lalunya sebagai pedagang jamu, Bunga men-display alat dagangan jamunya di pelataran restoran. Selain itu, becak ayahnya juga dia letakkan di depan restauran sebagai pengingat bahwa sebelum ada Omah Tiwul ini, ada usaha dan jerih payah yang dilakukan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini