Datangi Kampung Kayutangan Malang, Lompati Waktu ke Zaman Kolonial Belanda

Datangi Kampung Kayutangan Malang, Lompati Waktu ke Zaman Kolonial Belanda
info gambar utama

Malang penuh sejarah. Dari jejak kerajaan kuno abad ke 8 masehi sampai era kolonial Belanda. Kekayaan warisan sejarah itu memunculkan berbagai kawasan Malang heritage. Tidak sedikit yang kemudian dikelola jadi tujuan wisata.

Salah satunya adalah Kampung Heritage Kayutangan. Ini adalah objek wisata sejarah berupa perkampungan tua, yang memiliki banyak rumah kuno yang masih terawat keasliannya.

Ada 60 rumah tua yang berhasil diidentifikasi di kampung ini. Seluruhnya relatif terjaga bentuk aslinya. Di depan rumah dipasang plakat informasi usia bangunan sampai pemilik pertamanya. Rumah tertua dicatat dibangun pada 1870.

Banyak pula yang dibangun dalam kurun 1920-1940 dengan model atap pelana atau biasa disebut rumah jengki. Kampung ini bisa diakses dari koridor Talun (Jl. Arief Rahman Hakim) dan koridor Kayutangan (Jl. Basuki Rahmat).

Letaknya yang dekat degan Alun-alun kota Malang menjadikan Kampung Kayutangan nyaman dinikmati sebagai wisata jalan kaki. Seperti halnya banyak perkampungan di kota, di sini wisatawan diajak menyusuri gang-gang kecil.

Dulu, kampung ini tidak tertata, tidak teratur, kotor, bercampur dengan aroma tidak sedap. Setelah adanya sebuah program pada 2021 yang bernama Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hadir di kampung tersebut.

Ganesya, Museum Budaya Terbesar di Malang Raya

Kampung itu kini menjelma menjadi sebuah kawasan yang "cantik", bahkan sejauh mata memandang, deretan hunian yang tertata apik di antara rumah-rumah berarsitektur kolonial Belanda terawat dengan baik, membuat mata enggan berpaling.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, Program KOTAKU merupakan wujud kolaborasi antara Kementerian PUPR dan pemerintah daerah (pemda) dalam mendorong dan memberdayakan warga setempat sebagai pelaku pembangunan.

"Hal ini khususnya untuk infrastruktur berskala kecil atau pekerjaan sederhana yang tidak membutuhkan teknologi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasannya," ujar Basuki dalam keterangan tertulis.

Selain menerima manfaat pembangunan infrastruktur, diharapkan penataan Kawasan Heritage Kayutangan ini dapat membantu pelestarian cagar budaya serta menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Ketua RW 01 Kelurahan Kauman Edi Hermanto mengharapkan Kawasan Kauman dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.

"Kota Malang mempunyai banyak ikon wisata salah satunya adalah Kawasan Heritage Kayutangan ini,” tutur Edi yang dikabarkan dari Kompas.

Sudah ada sebelum masa kolonial

Banyak masyarakat tidak tahu Kampung Kayutangan sesungguhnya sudah lama hadir, bahkan sebelum masa kolonial. Hal ini dipertegas Sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono.

Dwi menjelaskan Luas Kayutangan pada dasarnya membentang dari utara yang saat ini terdapat pertigaan PLN. Kemudian mengarah ke selatan sampai perempatan utara baratnya alun-alun Kotak, Malang.

"Di sebelah barat (Alun-Alun Kotak) terdapat satu kampung di balik koridor yang disebut Talun," ujar Dwi yang dilansir dari Republika.

Kayutangan termasuk Talun merupakan satu wilayah yang memiliki perjalanan sejarah panjang. Talun bahkan sudah ditetapkan sebagai desa perdikan (bebas pajak) sejak 1198. Hal ini diperkuat dalam data yang tertulis dalam prasasti Ukir Nagara.

Dari data-data itu, Dwi meyakini kampung yang kini dikenal Kayutangan termasuk Talun memiliki sejarah kuat. "Karena tahun 1198 sudah ditetapkan sebagai perdikan, berarti sudah ada sebelum tahun itu," ujar Dwi.

Secara toponimi, Talun memiliki arti tepian hutan. Dengan kata lain, kebun baru yang berada di pinggir hutan. Makna ini yang mendeskripsikan Talun karena lokasinya seperti kebun yang berada di tepi hutan. "Lalu hutan itu seperti apa?" tambah Dwi.

Berdasarkan kitab Pararaton, terdapat sejumlah prajurit yang telah diperintahkan Tunggul Ametung untuk mencari Ken Arok. Hutan di sini ternyata pernah menjadi tempat persembunyian Ken Arok remaja. Salah satu areal hutannya dikenal dengan sebutan patangantangan.

Patangantangan memiliki kata dasar tangan. Menurut Dwi, kata itu merujuk nama pohon. Pohon tersebut memiliki cabang seperti tangan manusia saat dibentangkan ke kiri maupun kanan.

Situs Watu Gong, Tersembunyi dan Penuh Sejarah

"Ternyata nama ini tidak hanya di Malang, di Tulungagung juga ada nama desa Rejotangan. Dari nama pohon ini sehingga dikenal hutan Kayutangan. Kayu tangan nama koridor areal hutan yang menurut Pararaton, konteks ceritanya sekitar abad ke-13 ketika Ken Arok remaja, itu dijadikan tempat bersembunyi," tambah dia.

Kemudian, terjadi revitalisasi di kawasan tersebut sejak Belanda masuk ke Kota Malang. Revitalisasi kawasan Kayutangan itu terjadi sekitar abad ke-18, tepatnya ketika Belanda mendirikan perkampungan untuk orang-orang Eropa.

Kampung-kampung itu tersebar dekat benteng-benteng yang ada ketika itu, antara lain, di sisi selatan Sungai Brantas, Klojen Lor, Sawahan, Tongan (kampung Arab), dan Talun.

Selain itu, koridor Kayutangan yang letaknya dekat dengan alun-alun menjadi ”pintu masuk” menuju Kota Malang. Kawasan koridor tersebut kemudian menjadi pusat bisnis. Banyak kantor, toko, dan tempat berdagang yang dibangun di sekitar kawasan itu. Pusat bisnis tersebut meliputi kawasan Kayutangan dari sisi utara hingga selatan.

Di luar itu, ada kampung-kampung tempat tinggal orang Eropa yang masih bertahan sampai sekarang. Salah satu dan yang tertua di Malang adalah kawasan Kampung Wisata Heritage Kayutangan.

Menurut Dwi, ada sisi sejarah yang bisa dibagikan kepada pengunjung. Sayang, banyak warga yang belum mengetahui detail sejarah kawasan kampungnya sendiri.

”...Saya dan teman-teman dari Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Dinas Pariwisata Kota Malang, dan rekan-rekan yang lain berusaha mengedukasi tentang ini. Jadi, bagaimana kita berusaha mempertahankan kampung purba ini supaya kita juga bisa cerita sama orang-orang dari luar kota,” katanya yang dikabarkan Jawapos.

Dari tiga RW yang tergabung dalam kampung wisata, Kampung Kayutangan kini memiliki 40-an rumah yang masih mempertahankan unsur kelawasan masing-masing. Itulah yang berusaha dipertahankan, baik oleh tim cagar budaya, seniman, sejarawan, maupun pihak-pihak lain yang peduli pada sejarah Kota Malang.

Dinding rumah-rumah kuno di Kampung Kayutangan rata-rata memiliki ketebalan ukuran super. Bisa sampai 30 sentimeter (cm). Jauh lebih tebal jika dibandingkan dengan rata-rata tebal dinding rumah modern yang hanya 15 cm.

Lalu, atapnya miring 45 derajat. Besi-besi teralisnya rata-rata tipis melengkung dan membentuk ornamen. Ada juga yang tebal berbentuk garis tegak lurus. Sangat khas, seperti rumah kakek-nenek para generasi milenial sekarang.

Kampung wisata

Menggagas kampung wisata ini bukanlah perkara mudah. Ahmad alias I’ink, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di kampung itu, bilang, masalah utama adalah menyatukan visi dan misi warga.

Banyak warga yang tinggal di rumah kuno, tapi mereka tak sadar bahwa rumahnya itu adalah aset wisata. ”Mereka mikir, apa sih ini tujuannya dibikin spot foto, buat apa sih?” ucap I’ink.

Namun, setelah diedukasi, warga kemudian membuka diri, menyiapkan rumah mereka sebagai titik swafoto bagi tamu. Dari seluruh rumah bergaya arsitektur Belanda, ada 25 rumah siap menerima wisatawan. Menyediakan berbagai properti untuk berfoto sembari pemiliknya tetap beraktivitas seperti biasa.

Misalnya rumah Ester. Dibangun pada 1940, pernah digunakan pengobatan sinshe. Meski tidak lagi ada praktik pengobatan, keturunannya masih menjual jamu tradisional. Ada pula menyediakan pernak - pernik seperti kamera lawas maupun perabotan kuno untuk berfoto.

"Kami sudah bersiap, pemilik rumah bisa bercerita tentang arsitektur rumah dan sejarahnya. Menyediakan juga oleh-oleh," paparnya.

Ada tiga akses masuk menuju Kampung Heritage Kayutangan. Bisa dari koridor Talun di Jalan Arif Rahman Hakim serta dua akses lainnya dari koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat. Di tiap akses masuk itu pengunjung dikenai Rp 5 ribu per orang.

Kota di Jawa Timur Ini Terpilih Sebagai Kota Kreatif Indonesia

Pengunjung diberi peta wisata Kayutangan dan kartupos bergambar bangunan lawas. Bila ingin masuk ke dalam rumah untuk berfoto, ada biaya Rp 10 ribu. Selain diizinkan masuk untuk berfoto, pemilik rumah siap menjawab pertanyaan seputar sejarah dan arsitektur rumah mereka.

"Uang masuk kampung itu digunakan menambah fasilitas di sini. Kalau biaya masuk rumah agar ada dampak ekonomi ke kami," ucap I’ink

Setiap hari rata - rata ada 100 - 250 pengunjung. Namun di akhir pekan bisa mencapai 500-an pengunjung. Selain menjaga dan merawat sejarah kampung, dengan cara itu pula diharapkan ada nilai tambah ke ekonomi warga.

Sebelumnya, Walikota Malang, Sutiaji berencana mengembalikan fungsi kawasan Kayutangan di sepanjang Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang. Sensasi Jalan Malioboro di Yogyakarta akan dimunculkan dari area PLN Kayutangan hingga Alun-Alun Kota Malang.

"Nanti jalan masuknya dari PLN Kayutangan lalu terhubung ke Alun-Alun bunderan. Kita rombak sehingga nanti seperti Jalan Braga di Bandung dan Malioboro di Yogyakarta," ujar Sutiaji.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini