Upaya Pemerintah dan Komunitas Atasi Sampah di Gunung Bawakaraeng dan Klabat Sulawesi

Upaya Pemerintah dan Komunitas Atasi Sampah di Gunung Bawakaraeng dan Klabat Sulawesi
info gambar utama

Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan mendaki gunung semakin diminati. Bahkan, pada masa pandemi seperti sekarang ini pun, banyak pencinta alam yang tetap mendaki gunung dengan mengikuti protokol kesehatan terkait Covid-19.

Vita Cecilia, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (DPP APGI), mengatakan bahwa wisatawan pendaki gunung mengalami peningkatan. Katanya, selama pembatasan kegiatan sosial mulai masuk ke masa transisi, pendakian gunung terlihat cukup masif.

Kebanyakan pendaki gunung didominasi anak-anak muda yang masih menempuh pendidikan tinggi dan biasanya mereka melakukan pendakian dua hari satu malam hingga empat hari tiga malam. Dalam setahun, mereka pun bisa mendaki tiga hingga delapan kali.

Pesona gunung di Indonesia memang luar biasa. Tak mengherankan bila banyak turis atau pencinta alam akan menyempatkan waktu khusus untuk mendaki dan menjelajahi gunung. Kegiatan mendaki gunung memang menyenangkan dan menantang, tapi jangan lupa untuk jadi pendaki bertanggung jawab dengan tidak merusak lingkungan.

Beberapa masalah yang sering terjadi di gunung antara lain merusak keanekaragaman hayati seperti memetik bunga edelweis, memutar musik keras di gunung, mencorat-coret bebatuan atau pohon, dan meninggalkan sampah begitu saja.

Masifnya kegiatan mendaki gunung ini juga berdampak pada volume sampah yang dihasilkan. Sangat disayangkan masih banyak pendaki yang kurang memiliki pengetahuan tentang pelestarian alam atau setidaknya sesederhana bertanggung jawab dengan tidak meninggalkan apapun di gunung selain jejak kaki.

Karena ulah pendaki, banyak gunung di Indonesia tercemar dengan tumpukan sampah, termasuk di gunung-gunung daerah Sulawesi.

Gunung Klabat | @alvarobueno Shutterstock
info gambar
Masalah Sampah di TN Kerinci Seblat dan Dampaknya pada Sektor Wisata

Sampah di Gunung Bawakaraeng dan Gunung Klabat

Gunung Bawakaraeng berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dengan ketinggian 2.845 mdpl. Gunung tersebut memiliki tiga vegetasi alam yang berbeda di setiap jalur pendakian, mulai dari dataran rendah dengan pemandangan ladang sayuran hijau, hutan belantara yang kerap berkabut tebal saat hujan, dan area perbukitan yang dipenuhi bebatuan.

Keindahan alam di Gunung Bawakaraeng memang mampu membuat siapa saja terpesona. Namun, di sisi lain banyaknya sampah di gunung pun agaknya mengurangi estetika dan mengancam ekosistem alam.

Gunung Bawakaraeng termasuk salah satu gunung yang mulai rusak karena ulah para pendaki yang membuang sampah sembarangan hingga merusak pepohonan. Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, mengungkapkan bahwa salah satu faktor kerusakan Gunung Bawakaraeng adalah sebagian pendaki yang tidak mengetahui aturan-aturan dalam mendaki gunung.

“Sehingga yang terjadi, mereka bukan hanya menjaga hutan dan gunung tetapi justru mencemari dengan membuang sampah di sembarang tempat, bahkan ada yang sampai merusak pohon. Saya sudah pernah meneriakkan untuk menutup Gunung Bawakaraeng agar proses pemulihan bisa dilakukan dengan baik,” jelas Adnan seperti dilansir Klikhijau.com.

Trashbag Community (TC), salah satu komunitas peduli sampah gunung dan hutan Indonesia menyebutkan bahwa sebagian besar sampah di gunung berupa plastik, botol plastik, kain, kaleng, tisu basah, beling, dan puntung rokok. Pada kegiatan bersih-bersih sampah di gunung, mereka mencatat bahwa volume sampah di Gunung Bawakaraeng mencapai 265 kg.

Selain di Gunung Bawakaraeng, persoalan sampah pun terjadi di Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Gunung dengan ketinggian 1.995 mdpl ini pun ikut ternodai karena banyak sampah plastik dan kertas bertebaran di beberapa jalur pendakian. Bahkan, sempat beredar pula foto-foto yang menunjukkan batu-batu di Gunung Klabat yang dicorat-coret orang tak bertanggung jawab.

Imbauan untuk para pendaki

Adnan menyampaikan bahwa Gunung Bawakaraeng harus dijaga bersama-sama, tak hanya mengandalkan satu atau dua kelompok saja. Ia mengimbau bagi masyarakat yang ingin mendaki gunung agar selalu melapor ke pos tim terpadu, memperhatikan standar keamanan dan keselamatan, hingga menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan di gunung.

Menurut Adnan, pendaki gunung belum tentu bisa disebut sebagai pencinta alam. Sebab, pencinta alam pasti akan melestarikan, menjaga, dan tidak merusak lingkungan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan.

Penyelamatan Gunung Bawakaraeng dari sampah sebenarnya dapat dilakuakan siapa saja dengan berbagai cara. Sebagai contohnya, Organisasi Petualangan Alam Bebas Generasi Muda Pecinta Alam Makassar (Opab Gempa Makassar) menggelar kegiatan “Jejak 2930 Mdpl” yaitu aksi penanaman pohon dan bersih-bersih sampah di gunung. Hal ini dilakukan sebagai bukti dan sebagai pembelajaran bagi semua orang bahwa mendaki gunung tanpa sampah sebenarnya sangat bisa dilakukan.

Pada kegiatan tersebut, mereka menanam bibit pohon di area Air Terjun Lembanna, Gowa dan mendaki Gunung Bawakaraeng dengan melakukan aksi penghijauan, bersih-bersih sampah, ditambah dengan lomba foto konservasi.

Gunung Papandayan, Kerentanan Sampah dari Pendaki dan Gerakan Zero Waste

KMPA sang penjaga gunung

Kaum Muda Pecinta Alam (KMPA) tunas hijau Tunas Hijau merupakan komunitas yang dibentuk dari hobi pendakian dan keprihatinan akan makin banyaknya sampah dan penebangan di Gunung Klabat.

Ketua KMPA Maria Taramen mengatakan banyaknya sampah di atas Gunung Klabat membuat para pencinta alam resah dan mereka pun berencana melakukan razia kepada para pendaki. Mereka melakukan pemeriksaan pada barang-barang bawaan pendaki. Misalnya, jika pendaki membawa 10 botol, saat turun pun harus membawa 10 botol karena jika tidak mereka pasti membuangnya di atas gunung.

Menurut penuturan Maria, sampah berupa botol dan plastik memang sudah jadi pemandangan biasa di atas Gunung Klabat. Saat ini komunitas tersebut sudah banyak terlibat dalam kegiatan penyelamatan lingkungan dan terus fokus menjaga Gunung Klabat sebagai gunung tertinggi di Sulawesi utara dan berfungsi sebagai hutan lindung serta menjaga margasatwa di dalamnya.

Ia mengatakan harapannya terhadap kelengkapan fasilitas seperti pos pendakian yang baik, jalur pendaki yang jelas, sistem pengelolaan sampah, dan pelatihan profesional untuk para guide dan larangan penebangan tetap dijalankan.

Maria berharap orang-prang ke Gunung Klabat untuk benar-benar menikmati alam. Setelah selesai bisa langsung turun dan jangan merusak dengan membuang sampah atau melakukan tindakan buruk lainnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini