Mengenal Milenial Shrimp Farming, Program Budidaya Udang Beromzet Menggiurkan

Mengenal Milenial Shrimp Farming, Program Budidaya Udang Beromzet Menggiurkan
info gambar utama

Bukti nyata bahwa transformasi teknologi dan digitalisasi menjadi hal yang tak terhindarkan kali ini semakin diperkuat oleh salah satu sektor yang tak terduga, yaitu budidaya hasil perairan berupa tambak udang.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai penerapan Milenial Shrimp Farming (MSF), atau yang lebih dikenal dengan istilah budidaya udang ala milenial, mungkin akan lebih baik jika kita mengetahui terlebih dahulu seperti apa sebenarnya potensi akan hasil yang dimiliki dari usaha budidaya udang.

Sebelumnya, GNFI pernah sedikit mengulas mengenai usaha budidaya udang yang dilakukan oleh seorang pemuda bernama Maulayadi, yang berasal dari wilayah Rias, Bangka Selatan.

Pada dasarnya, usaha budidaya udang berjenis vaname yang digeluti Maulayadi sejak tahun 2016 masih menggunakan metode yang sangat tradisional, dengan siklus panen satu kali dalam waktu satu tahun.

Namun, Maulayadi mengakui bahwa hasil yang diperoleh dari budidaya tersebut sangat memuaskan.

“…kalau soal keuntungan, yang pasti bisa buat beli mobil" ungkap Maulayadi kala itu.

Kemudian bayangkan, jika dengan adanya perkembangan teknologi dan digitalisasi yang diterapkan pada program MSF, siklus panen udang yang sebelumnya hanya terjadi satu kali dalam setahun, nyatanya bisa meningkat menjadi tiga hingga empat kali dalam kurun waktu yang sama.

Sudahkah terbayang akan seperti apa peningkatan omzet dan hasil menjanjikan yang dimiliki?

Kisah Sukses Pembudidaya Milenial Asal Bangka Selatan, Raih Omset Miliaran Rupiah

MSF dan tujuan pembangunan industri udang nasional

Pembangunan produksi udang nasional
info gambar

Secara garis besar, MSF adalah program usaha budidaya udang yang menerapkan sistem digitalisasi teknologi berbasis industri 4.0 yaitu Automation, IT, serta Gadget, dan sesuai namanya menyasar target calon pembudidaya di kalangan anak muda.

Program ini sendiri pertama kali digaungkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagai salah satu upaya untuk terus menggenjot produksi dan pembangunan industri udang nasional.

Slamet Soebjakto, selaku Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, pada saat pertama kali perilisan program ini di awal tahun 2021 juga mengungkap, bahwa MSF merupakan program yang dihadirkan dengan tujuan menggalakkan budidaya udang sebagai sarana untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sebagai tahap awal, dua instalasi MSF pertama kali dibangun pada dua lokasi yang berbeda yaitu di Jepara dan Situbondo.

Dengan adanya dua instalasi tersebut, masyarakat khususnya kalangan anak muda yang memiliki minat untuk menjalani usaha budidaya udang, akan mendapatkan pembekalan secara mendetail lewat program MSF mulai dari persiapan tambak, pengelolaan kualitas air, manajemen pakan, manajemen kesehatan udang, hingga manajemen panen.

Setelah mendapat pembekalan, mereka yang ingin berlanjut menjadi salah satu tenaga milenial dalam program MSF akan mendapat akses pemodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Kelompok milenial memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi terutama dalam dunia industri 4.0. Ini potensi yang akan kami tangkap agar mereka bisa diberdayakan untuk menciptakan terobosan baru dalam usaha dan bisnis budidaya udang nasional…” jelas Slamet.

Bermula dari KKN, Mahasiswa Temukan Solusi IoT untuk Tambak Udang

Detail penerapan teknologi pada program MSF dan potensi yang dimiliki

Penerapan tambak udang program Milenial Shrimp Farming
info gambar

Membahas lebih detail mengenai penerapan usaha budidaya udang yang sepenuhnya mengandalkan kemajuan teknologi dan digitalisasi, keunggulan yang dimiliki oleh metode satu ini dibanding usaha budidaya udang secara konvensional diungkap secara jelas oleh Iwan Sumantri, selaku koordinator teknis MSF di wilayah tambak Jepara.

Perbedaan pertama yang diungkap oleh Iwan dapat terlihat dari bentuk tambak atau kolam yang diterapkan antara budidaya udang MSF dan konvensional.

Pada sistem MSF, desain kolam yang dibuat memiliki bentuk lebih kecil dan melingkar, sedangkan pada kolam budidaya konvensional, biasanya memiliki bentuk persegi dan jauh lebih besar.

Dengan lahan budidaya seluas 9.100 meter persegi, nyatanya dapat terbentuk hingga sebanyak 29 tambak udang dengan desain melingkar, jauh lebih banyak dibanding desain persegi yang mungkin hanya akan membentuk dua tambak saja pada lahan dengan luas yang sama.

Selain itu, keberadaan tambak udang yang terbagi menjadi lebih banyak dengan desain melingkar juga dapat meminimalisir kegagalan panen yang mungkin terjadi akibat adanya virus atau wabah penyakit.

Sebagai contoh, jika satu atau dua tambak udang terserang wabah penyakit, pemilik tambak dapat segera melakukan penindakan dengan cepat dan hanya memengaruhi satu atau dua tambak yang bermasalah.

Lain halnya jika tambak memiliki bentuk persegi yang lebih luas, ditambah hanya terdiri dari dua tambak, maka peluang kegagalan panen yang terjadi apabila terserang wabah bisa mencapai lebih dari 50 persen secara keseluruhan, sehingga dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar.

Selain itu, perbandingan keunggulan yang paling terlihat di antara budidaya udang dengan sistem MSF dan konvensional berada pada segi tindakan dan perawatan sehari-hari.

Menurut Iwan, usaha budidaya udang secara konvensional umumnya hanya mengandalkan intuisi dalam hal pengambilan tindakan seperti waktu pemberian pakan dan perawatan. Namun, hal tersebut tentu tidak berlaku dengan budidaya udang sistem MSF yang sepenuhnya menerapkan bantuan teknologi dan digitalisasi.

Dengan sistem MSF yang mengandalkan teknologi terintegrasi, segala bentuk tindakan pemeliharaan dan perawatan tambak sudah berjalan secara otomatis dengan perhitungan yang tepat berdasarkan kondisi dari masing-masing tambak, mulai dari memantau kondisi kualitas air, kesehatan udang secara real-time, memantau status oksigen, hingga pemberian konsumsi pakan secara otomatis.

Mengenai hasil yang didapatkan saat masa panen, Iwan bahkan mengungkap detail omzet yang diperoleh hanya dari satu tambak yang ada di lokasi MSF Jepara.

Teknologi Baru Ramah Lingkungan untuk Budidaya Udang
Proses panen hasil budidaya udang dengan program MSF
info gambar

Berdasarkan penuturan Iwan, keuntungan yang didapat dari budidaya udang pada satu tambak bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp40 juta dalam waktu 90-110 hari, atau paling cepat 3 bulan sebagai satu kali masa panen.

"Kami sudah membuktikan satu tambak (udang) ukuran 314 meter dengan kepadatan minimal 250 ekor per meter itu bisa menghidupi satu keluarga dengan cukup," jelas Iwan, dalam video yang dimuat pada kanal YouTube resmi milik KKP.

Iwan juga menilai, bahwa jika ada seseorang yang menggeluti usaha budidaya udang dengan program MSF minimal satu tambak saja, berkat keuntungan yang dimiliki setiap satu kali panen, orang tersebut sudah dapat memiliki penghasilan yang melampaui UMR setiap bulannya.

"…apabila seorang sarjana perikanan langsung terjun ke tambak dengan teknologi seperti ini, artinya mereka tidak perlu ragu-ragu lagi untuk bisa memiliki pendapatan yang layak, karena dengan teknologi milenial ini InsyaAllah pendapatan itu akan didapat dengan tidak begitu sulit," pungkas Iwan.

Mahasiswa UB Ciptakan Pengontrol Kualitas Air Tambak Udang

Sumber: kkp.go.id | YouTube KKP | IDX Channel

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini