Gawai, Ritual Adat Suku Dayak Iban Sebagai Wujud Rasa Syukur Atas Panen Melimpah

Gawai, Ritual Adat Suku Dayak Iban Sebagai Wujud Rasa Syukur Atas Panen Melimpah
info gambar utama

Kalimantan termasuk pulau di Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa atau kelompok etnis. Salah satu sukunya yang paling terkenal adalah Suku Dayak yang terbagi atas 6 suku besar dan 405 suku kecil. Mereka dikenal mengekspresikan kepercayaannya dengan menggelar berbagai ritual upacara adat untuk beragam tujuan.

Gawai merupakan salah satu ritual Suku Dayak yang rutin dilakukan setiap tahun untuk menyambut musim berladang yang baru. Menurut keterangan Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan, Gawai Dayak merupakan pesta panen yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur komunitas masyarakat adat, karena telah diberikan kemurahan rezeki oleh Tuhan berupa hasil panen sepanjang tahun.

Lebih lanjut, Fransiskus mengatakan bahwa pesta panen ini bukanlah ajang pesta foya-foya, tetapi lebih mengutamakan rasa syukur dan memang merupakan adat serta budaya peninggalan leluhur Suku Dayak. Pelaksanaan gawai pun dimaknai sebagai bentuk melestarikan seni dan budaya masyarakat.

Pada praktiknya, tak semua orang Suku Dayak menggelar acara gawai. Suku Dayak Iban dan Dayak Darat merupakan dua sub-suku yang rutin mengadakan ritual tersebut.

Ngayau, Tradisi Masa Lalu Suku Dayak yang Dikenal Sebagai Pemburu Kepala

Ungkapan rasa syukur

Gawai Dayak diadakan sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada Petara atau Sang Pencipta atas hasil panen yang diperoleh sepanjang tahun, dan mengharapkan hasil berlimpah pada tahun selanjutnya. Mereka juga berdoa agar selalu diberikan kesehatan dan keselamatan.

Gawai Dayak terdiri dari beberapa upacara yang dijalankan di kota dan rumah panjang atau lazim disebut lamin. Berbagai persembahan akan disiapkan untuk dewa padi demi hasil panen yang baik. Selama ritual, akan ada penyair yang membacakan mantra sekaligus melumuri persembahan dengan darah ayam jantan.

Beberapa syarat yang wajib ada dalam upacara gawai antara lain babi, ayam, dedaunan, buah-buahan dari alam, nasi putih, uang koin, mandau, benang, rokok, besi, kapur sirih, garam, dan beras kuning.

Usai ritual tersebut dilakukan, gawai dimulai secara resmi. Di tengah ruang, akan didirikan sebatang pohon yang disebut ranyai dan dihiasi dengan aneka makanan dan minuman. Sebelum upacara digelar, masyarakat biasanya sudah menyiapkan hidangan tradisional, seperti pulut, rendai, tumpe, kembang goyang, dan tuak.

Para peserta ritual akan menggunakan pakaian tradisional dan perhiasan manik-manik orang Ulu. Gadis-gadis Dayak Iban pun akan mengenakan perhiasan perak tradisional. Di akhir upacara, pohon ranyai nantinya akan diturunkan sebagai penanda berakhirnya gawai.

Adapun salah satu rangkaian acara sebelum gawai ialah ngemapas yang dilakukan pada malam hari sebelumnya agar pada pelaksanaannya tidak terganggu oleh roh-roh jahat. Seluruh prosesi ritual akan dipimpin oleh tetua adat dan semua masyarakat pun akan berkumpul bersama dalam gawai.

Selain ngemapas, ada pula ritual niri kembung, dilakukan pada waktu subuh saat gawai berlangsung. Dalam ritual ini, masyarakat di sepanjang Rumah Betang akan mendirikan bendera sekaligus membuat teresang dari bambu yang dihiasi daun pisang.

Pada pagi hari, dilakukan ngalu ketemuai datai untuk menyambut kehadiran para tamu yang hadir dengan menyuguhkan minuman tradisional dan acara adat. Ada pula sebagian tamu yang melakukan tradisi ngetas pintu atau mengetuk pintu untuk berkunjung ke Rumah Betang.

Uniknya, dalam upacara gawai ini juga biasanya ada ritual khusus yang dilakukan beberapa kepala keluarga. Gawai tersebut dilakukan tergantung keluarga masing-masing. Kemudian, gawai-gawai tersebut memiliki penamaan yang berbeda tergantung prosesnya, antara lain Gawai Sandau Ari, Gawai Kelingkang, Gawai Kenyalang, Babi Lemai, dan Tambak Bulu.

Ritual Naik Dango Bentuk Syukur Atas Hasil Panen Padi Suku Dayak Kanayatn

Mitos tentang upacara gawai

Berdasarkan mitos yang populer di kalangan orang Dayak tentang sejarah gawai, bermula dari cerita Nek Baruang Kulup. Konon, ada setangkai padi milik Jubata di Gunung Bawang yang dicuri seekor burung pipit dan jatuh ke tangan Nek Jaek yang sedang menyayau.

Kepulangan Nek Jaek yang hanya membawa setangkai padi membuatnya diejek. Bahkan, saat ia mengutarakan keinginan untuk membudidayakan padi pun ditentang hingga membuatnya diusir.

Dalam pengembaraannya, Nek Jaek bertemu dengan sosok bernama Jubata. Kemudian, mereka pun menikah dan memiliki anak bernama Nek Baruang Kulup. Sosok inilah yang membawa padi kepada manusia karena diceritakan sering turun ke dunia untuk bermain gasing. Pada akhirnya, padi menjadi makanan sumber kehidupan sebagai pengganti jamur bagi manusia.

Dari cerita ini pula masyarakat Suku Dayak mulai menggelar upacara gawai sebagai tradisi bersyukur kepada Tuhan, sekaligus menjaga keutuhan kesatuan komunitas Suku Dayak, menjaga identitas, dan melestarikan tradisi nenek moyang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini