Sejarah Batik Tulis Oey Soe Tjoen yang Kini di Ambang Kepunahan

Sejarah Batik Tulis Oey Soe Tjoen yang Kini di Ambang Kepunahan
info gambar utama

Batik Pekalongan merupakan jenis batik yang dibuat oleh masyarakat yang mayoritas tinggal di pesisir utara Pulau Jawa. Hal ini memunculkan pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling meniru.

Salah satu keunikan dari batik Pekalongan bisa terlihat dari adanya batik peranakan. Ada dua batik peranakan yang cukup terkenal, yakni peranakan Belanda (Indo-Eropa) dan peranakan Tionghoa (China).

Batik Oey Soe Tjoen merupakan salah satu batik tulis peranakan yang cukup terkenal di Pekalongan. Tepatnya di daerah Kedungwuni. Walau seorang peranakan, tetapi kreasi Oey terhadap batik tidak boleh diremehkan.

Oey, telah mengharumkan nama Pekalongan dengan batik mahakaryanya ke berbagai pelosok dunia. Keindahan pada batik Oey terlihat jelas dari goresan yang ditarik rapi dan bagian demi bagian yang diwarnai dengan teliti.

Dirinya memulai usaha batiknya di tahun 1925 dan sampai sekarang masih saja ada yang mencari karyanya. Pasalnya mereka masih tetap mempertahankan corak khas tulisnya. Pembuatan batik seluruhnya menggunakan goresan tangan.

Di Balik Cerita Soal Batik yang Menjadi Warisan Dunia

Rintisan usaha yang dibangun Oey sebenarnya bertolak belakang dari usaha batik cap milik ayahnya, Oey Kiem Bom, yang telah berjalan puluhan tahun. Ia enggan melanjutkan usaha batik cap, dan memilih memulai usaha sendiri, yaitu batik tulis.

Pada posisi yang kecewa itu, ayahnya terus menyakinkan bahwa pilihan Oey itu salah. Ayahnya khawatir bahwa anaknya akan gagal karena pilihannya sendiri. Baginya jauh lebih aman mempertahankan bisnis batik cap yang sudah dijalaninya sejak lama.

Namun dirinya tetap berisikukuh mewujudkan mimpinya, meski ia tau risikonya sangat besar. Apalagi setelah ia menikah dengan Kwee Tjoen Giok yang memiliki irama selaras, membuat tekadnya semakin bulat. Dirinya pun membuka bisnis batik tulis halus, tidak peduli dengan apa yang akan dialaminya, terutama bila dicoret dari daftar garis keluarga.

Memperkerjakan petani

Bertempat di rumahnya, di Kedungwuni, ia mulai merintis usaha batik tulis halus impiannya. Ia juga mengajak petani–petani di sekitarnya untuk membatik sebagai pekerjaan sampingan agar mendapat tambahan penghasilan.

Pada masa jayanya--1935, Oey pernah mempekerjakan sekitar 150 orang dengan hasil 30 kain batik per bulan. Umumnya, saat itu yang menjadi pekerja batik adalah para petani di sekitar wilayah rumahnya.

Alasanya dipilihnya para petani, tak lain karena sikap mereka yang tenang dan tekun dalam menjalani pekerjaan. Selain itu ia memang berkeinginan untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar yang bekerja sebagai petani.

Oey berharap dengan usahanya ini dapat memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Meski begitu, dirinya tidak memaksa para petani ini untuk bekerja penuh waktu. Misalnya saat musim panen, mereka dibolehkan menggarap lahan.

Oey juga seorang yang terkenal tegas, di mana pekerja yang dilanda masalah tak diizinkan untuk membatik hingga urusannya selesai. Sekalipun pekerja itu tetap memaksa bekerja, Oey tetap melarangnya. Dirinya pun melarang pekerja perempuan yang sedang datang bulan untuk menyentuh kain batik yang sedang dikerjakan.

Oey tidak hanya mendidik para pekerja agar disipilin saat bekerja, tapi juga meminta mereka agar bisa menjalin hubungan baik dengan para pengrajin peralatan, seperti tukang canting, pembuat lilin malam, juga juru ramu bahan pewarna kain.

Ketika Ibu Negara Turki, Emine Erdogan, Memakai Masker Batik

Ia juga mengajari anak buahnya mendekati orang orang kaya. Melalui strategi ini, Batik Oey dikenal kalangan papan atas. Tak sedikit saudagar kaya di pantai utara terpincut dan membelinya.

Usaha Oey makin benderang ketika karyanya juga digemari saudagar di Kudus, Magelang, dan beberapa daerah lain. Sebagian mereka adalah pengusaha rokok dan tembakau. Saking tenarnya, kain Batik Oey sempat menjadi mas kawin wajib sejumlah pengusaha China.

Dari sini, tampak pula ada darah pebisnis yang diwariskan dari sang ayah. Ia bukan hanya berperan sebagai desainer batik, tapi juga seorang pebisnis yang mengetahui apa yang diinginkan oleh para konsumen.

Menjadi kegemaran orang Eropa

Oey memang tidak pernah membatasi dirinya, pintu rumahnya selalu terbuka bagi setiap kalangan. Salah satunya adalah Eliza van Zulyen, sahabatnya yang merupakan seorang Indo-Eropa. Persahabatan keduanya terjalin karena kegemaran mereka terhadap batik.

Pada masa itu, usaha batik memang tidak hanya dimonopoli oleh pribumi, tapi ada juga orang Eropa, Arab, dan Tionghoa.

Saking akrabnya, keduanya tidak jarang saling mengkritik. Misalnya pada suatu saat Zulyen menyarankan Oey memasukan sentuhan-sentuhan Indo-Eropa ke motif batiknya. Tukar pandang ini ternyata memengaruhi Oey dalam mengkreasi corak motif batiknya.

Pelan-pelan Oey memasukan unsur-unsur ragam hias Eropa pada lembaran kain batiknya. Pegawai Belanda di Pekalongan itu memperkenalkan warna baru selain merah dan biru, yakni warna klasik yang menjadi identitas batik tradisional Pekalongan.

Berkat jasa Zuylen pula, Batik Oey akhirnya dikenal pengusaha mancanegara. Setiap bulan ada saja pemesan dari Eropa, Amerika, atau Jepang. Batik Oey juga masuk katalog karya seni yang patut dimiliki di Belanda.

Selain merespons selera orang barat, Oey mampu memenuhi hasrat orang Jepang. Ia membuat Batik Hokokai khas Negeri Matahari Terbit itu dengan motif merak, bunga, dan kuku, dengan memasukkan semua warna.

Secara umum, desain batik yang dihasilkan Oey umumnya memiliki motif buketan (rangkaian) bunga dengan warna kalem. Antara lain, hijau daun, merah marun, hingga kuning yang soft. Batik peranakan juga memelopori pewarnaan primer dengan gradasi. Teknik penggunaan warna gradasi ini memang dipelopori oleh Oey.

Tak Hanya Batik, Inilah Jenis Kain Tradisional Asli Indonesia yang Mendunia

Ada dua jenis batik yang diproduksinya, yaitu, kain panjang (jarit/tapih) dan sarung batik. Motif yang digarap Oey khusus bunga dan satwa.

”Untuk satwa, kami pakai kupu-kupu dan burung,” urai Widianti, generasi ketiga keluarga Oey, mengutip Jawapos.

Sayangnya, produksi Batik Oey mulai menurun pada 1980, setelah usaha beralih ke generasi kedua, Koey Kam Long, pada empat tahun sebelumnya. Menurut Widianti, gempuran produk tiruan membunuh usaha keluarganya.

”Batik tiruan dikerjakan dengan sablon atau printing,” ujar pemilik nama lain Oey Kiem Lian itu.

Hampir punah

Bagi para kolektor, Batik Oey memang telah terkenal sebagai yang paling halus dan peduli pada detail, bahkan bisa dijual dengan harga puluhan hingga ratusan juta. Namun bagi Widianti, usaha itu tinggal menunggu 'napas terakhir'.

Dirinya bercerita bagaimana mereka bertahan dengan bisnis itu selama 20 tahun, bersama dengan para 'senior' yang mengajarinya membatik.

Memang, komitmen Widianti hanya bisa jadi tinggal komitmen semu karena ia tak paham proses pembuatan batik. 10 warisan resep pewarnaan batik peninggalan ayahnya, misalnya, kerap membuatnya bingung.

Tanpa tuntunan dari para pembatik, usaha Widianti mungkin tak berlanjut sampai saat ini. Para pembatik memang kebanyakan perempuan-perempuan Jawa yang piawai melukis di kain dengan canting.

Batik Ciprat, Media Pemberdayaan Kaum Disabilitas di Berbagai Daerah

"Saya bilang pada mereka [para pembatik], 'tolong bekerja, anggap papa itu ada'. Dari situ saya melihat bagaimana mereka bekerja," ucap Widianti, dalam BBC Indonesia.

"Jadi, saya menganggap bahwa saya itu karyawan, pembatik adalah senior. Saya yang belajar dengan mereka sebagai bawahan," tambahnya.

Ingin mempertahankan kualitas usaha batiknya secara terus-menerus, Widianti memasang target tinggi untuk para calon pembatiknya. Jika dihitung-hitung, saat ini hanya ada 12 sampai 15 pekerja yang aktif.

Untuk selembar kain batik yang dibuat, Widianti meminta tenggat waktu 3 sampai 3,5 tahun. Bukan karena banyaknya permintaan, tapi karena dirinya tidak bisa memaksa para pekerjanya bekerja seharian di pembatikan. Mereka hanya bekerja sesempatnya.

“Ada yang petani, ada yang ibu rumah tangga, mereka membatiknya ya pas ada waktu luang saja. Setelah mengantar anak sekolah misalnya,” ungkap Widianti. Soal upah, tentu sesuai dengan jumlah pekerjaan.

Dengan hasil produksi itu, Batik Oey tidak lagi bisa menjadi mata pencaharian utama. Untuk tetap mempertahankan dapur keluarga tetap mengepul, Widianti membuka toko serba ada yang letaknya persis di samping rumah.

"Saya punya komitmen, jangan sampai kebesaran Oey Soe Tjoen itu hancur di tangan saya. Jadi, saya berusaha, sekeras apa pun, saya tidak menghancurkan apa yang dimulai oleh papa atau kakek," katanya.

Walau begitu, dirinya tidak bisa menjamin warisan dari leluhurnya ini akan tetap bertahan. Salah satu alasanya adalah para pembatik yang semakin tua dan tanpa penerus.

Tanpa pembatik andal, Widianti sulit membayangkan nasib usaha itu. Bahkan, jika putranya mau meneruskan bisnis itu, ia tak akan mengizinkannya membawa bendera Oey, tanpa kualitas setara.

"Boleh usaha batik, tapi jangan pakai nama Oey Soe Tjoen kalau kualitasnya tidak bisa sama," tandasnya.

"Makanya dengan prediksi seperti itu, saya bisa mengatakan bahwa batik tulis halus Oey Soe Tjoen bisa habis atau bisa punah dalam waktu 10 tahun ke depan karena saya tahu kondisi saya."

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini