Lapisan Ozon yang Menyembuhkan Diri dan Upaya untuk Melindunginya

Lapisan Ozon yang Menyembuhkan Diri dan Upaya untuk Melindunginya
info gambar utama

Selamat Hari Lapisan Ozon Internasional! Ya, setiap tanggal 16 September sejatinya telah menjadi hari peringatan dari momen pelestarian salah satu lapisan pelindung bumi ini.

Keberadaan Hari Lapisan Ozon (World Ozone Day) yang diperingati setiap tahun nyatanya diharapkan dapat menyebarluaskan kesadaran bagi semua orang yang hidup di muka bumi, tentang masalah penipisan lapisan ozon agar dapat bersama-sama menjaga kelestariannya.

Karena sama halnya seperti peringatan hari lingkungan lain yang ada dan kerap diperingati tiap tahun, dicetuskannya hari lapisan ozon juga berangkat dari permasalahan yang awalnya muncul dari kerusakan yang terjadi pada lapisan ozon itu sendiri.

Lantas, seperti apa sebenarnya awal mula permasalahan yang terjadi pada lapisan ozon, sehingga mendorong organisasi dunia melakukan berbagai upaya internasional untuk menanggulangi hal ini?

Mendesaknya Mitigasi Jangka Panjang untuk Hadapi Perubahan Iklim

Awal mula alarm kerusakan lapisan ozon

Alat penyejuk udara yang ditemukan pada tahun 1906
info gambar

Kebutuhan hidup manusia yang tak terhindarkan seiring perkembangan zaman, pada dasarnya menjadi hal utama yang mendorong adanya permasalahan pada lapisan ozon.

Diawali dengan penemuan berbagai peralatan rumah tangga elektronik, salah satunya alat penyejuk udara atau air conditioning (AC), yang hingga saat ini dipandang sebagai salah satu penyebab terbesar bukan hanya dari peristiwa menipisnya lapizan ozon, melainkan sampai sudah tahap membuat adanya lubang besar yang terlihat melalui citra satelit.

Dengan berbagai macam pembuatan dan penggunaan peralatan elektronik sekaligus produk yang mengandung senyawa kimia Chlorofluorocarbon (CFC), layaknya mesin pendingin dan berbagai produk plastik, akhirnya laporan kerusakan lapisan ozon pertama kali disampaikan oleh para peneliti di akhir tahun 1970.

Mengutip Kompaspedia, rusaknya lapisan ozon yang dimiliki bumi terdeteksi setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), melalui salah satu programnya yaitu Global Ozone Observing System melaporkan bahwa telah muncul berbagai lubang di lapisan pelindung bumi ini.

Permasalahan tersebut diperkuat, setelah kelompok peneliti lainnya dari Inggris yaitu British Antartic Survey (BAS) pada tahun 1974 mengumumkan, bahwa lapisan ozon di atas wilayah Antartika telah mengalami penipisan sebanyak 30 hingga 40 persen dari ketebalan yang ada.

Kemudian, mulai tahun 1980-an kondisi semakin memburuk dengan adanya penipisan lapisan ozon sebanyak 60 persen dibandingkan kondisi semula.

Al Gore: Keberanian Upaya Indonesia Untuk Atasi Perubahan Iklim Diakui

Program mengatasi kerusakan dan lahirnya Hari Lapisan Ozon

Konferensi Wina
info gambar

Setelah mendapat banyak laporan mengenai kerusakan lapisan ozon dari kelompok peneliti di berbagai negara, akhirnya dibuat suatu persetujuan umum pada tahun 1985 yang dikenal dengan sebutan “Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer” atau Konvensi Wina untuk Perlindungan Lapisan Ozon.

Ada sebanyak 28 negara yang awalnya terlibat dalam penandatanganan program pemulihan ini pada tahun 1987. Indonesia sendiri baru mulai bergabung tujuh tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1992 yang menyusul bersamaan dengan berbagai negara lainnya.

Dengan segala upaya dan program yang kerap dilakukan untuk mengembalikan keberadaan lapisan ozon seperti sebagaimana mestinya, barulah PBB di bawah United Nations Environment Programme (UNEP) pada tahun 1994, menetapkan tanggal 16 September sebagai Hari Internasional untuk Pelestarian Lapisan Ozon.

Sementara itu jika melihat pada laman resmi treaties.un.org sendiri, hingga detik ini tercatat sudah ada sebanyak 198 negara yang berpartisipasi dalam program pemulihan lapisan ozon yang telah berjalan.

Jika ditanya mengenai sejauh mana keikutsertaan negara kita dalam memecahkan permasalahan satu ini, tentu Indonesia juga sudah melakukan berbagai upaya dalam menjaga keberlangsungan lapisan ozon, meski di tengah kebutuhan masyrakatnya akan peralatan elektronik yang tak terhindarkan.

Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di antara lain secara bertahap menghapus penggunaan Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO), yang sudah dilakukan sejak tahun 2007, salah satunya dengan mengurangi peredaran barang-barang yang mengandung BPO di kalangan masyarakat, dan menggantikan keberadaannya dengan alat rumah tangga elektronik non-CFC yang saat ini sudah banyak digunakan.

Karbon Biru Indonesia Ternyata Memiliki Peran Penting Dalam Pengendalian Perubahan Iklim

Lapisan ozon yang mulai menyembuhkan diri

Kabar baiknya, dalam beberapa tahun terakhir bahkan hingga tahun lalu, para kelompok peneliti dari berbagai negara melaporkan adanya fenomena lapisan ozon yang mulai menyembuhkan diri, dengan pemulihan kondisi berupa tertutupnya beberapa lubang yang sebelumnya nampak dari satelit.

Pada tahun 2014, lembaga penelitian yang berada di bawah naungan PBB melaporkan bahwa berbagai lubang ozon yang sempat menganga di berbagai belahan negara telah menutup sedikit demi sedikit.

Berdasarkan pemberitaan yang dimuat oleh Daily Mail, berkat terjadinya peristiwa tersebut, PBB memiliki keyakinan bahwa dalam 10 tahun setelahnya lapisan ozon akan ada dalam masa penyembuhan diri, dan seluruh lubang yang berada di berbagai wilayah termasuk Benua Antartika diharapkan dapat menghilang di tahun 2050.

Enam tahun berselang, masa penyembuhan lapisan ozon yang diyakini PBB nyatanya sedikit terbukti pada tahun 2020 lalu. Kelompok peneliti Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) pernah menyampaikan, bahwa lapisan ozon di belahan bumi utara sempat menutup.

Meski begitu, berdasarkan penjelasan lanjutan disampaikan bahwa fenomena tertutupnya lubang ozon yang berada di wilayah kutub utara merupakan peristiwa musiman, yang artinya sewaktu-waktu bisa saja lubang tersebut muncul kembali.

Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan pemulihan lapisan ozon secara permanen akan terjadi, hanya saja membutuhkan waktu yang panjang dan akan terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama.

“Kali ini lubang ozon di atas Kutub Utara tertutup karena siklus tahunan lokal, bukan penyembuhan jangka panjang. Tapi ada harapan, lapisan ozon juga dapat pulih namun secara perlahan," ungkap CAMS.

Pentingnya Indonesia Masuk Dewan Kawasan Kutub Utara (Arktik)

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini