Sejarah dan Perjalanan Lahirnya Perpustakaan di Indonesia

Sejarah dan Perjalanan Lahirnya Perpustakaan di Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Siapa yang tak kenal dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia? Bangunan yang berdiri sejak 1980 ini menjadi salah satu yang paling megah dan lengkap dengan 24 lantai untuk menunjang berbagai fasilitas.

Dengan diresmikannya Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas baru oleh Jokowi pada 14 September 2017 lalu, menjadikan Perpusnas sebagai perpustakaan nasional tertinggi di dunia dengan tinggi 126,3 meter.

Namun, tahukah Kawan bagaimana awal mula munculnya perpustakaan di Indonesia? Bagaimana sejarah yang mengiringinya? Mari simak sejarah dan perjalanan perpustakaan Indonesia berikut.

Perpustakaan di masa kerajaan

Kitab Sutasoma yang berada di Museum Nasional Indonesia | Foto: Instagram.com/@museum_nasional_indonesia
info gambar

Keberadaan perpustakaan diawali dengan dikenalkan tulisan sekaligus berakhirnya masa pra-sejarah. Di Indonesia sendiri, sejarah ini tergolong lebih muda jika dibandingkan dengan negara Eropa dan Arab, tepatnya pada tahun 400-an Masehi. Ketika itu, lingga batu dengan tulisan Pallawa ditemukan dari periode Kerajaan Kutai.

Di pulau Jawa, sejarah perpustakaan dimulai pada masa Kerajaan Mataram. Hal ini tak lepas oleh peran pujangga keraton yang menulis berbagai karya sastra. Karya-karya tersebut seperti Sang Hyang Kamahayanikan, Sembilan parwa sari cerita Mahabharata, dan satu kanda dari epos Ramayana. Selain itu, muncul pula kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa.

RRI Diharapkan Dapat Menjangkau Lebih Banyak Daerah di Indonesia

Kerajaan-kerajaan lain di nusantara juga turut menulis manuskrip-manuskrip sastra, misalnya buku Negarakertagama dan Sutasoma di jaman Majapahit, dan karya sastra lain oleh Kerajaan Kediri, Demak, Banten, kerajaan di sekitarnya.

Naskah-naskah tersebut ditulis tangan di atas daun lontar dan hanya diperuntukkan bagi kalangan sangat khusus yaitu pemimpin kerajaan. Kegiatan penulisan dan penyimpanan naskah masih terus dilanjutkan oleh para raja dan sultan yang tersebar di Nusantara.

Kumpulan karya buku yang ditulis akan disimpan di kerajaan masing-masing. Makan, dapat dikatakan bahwa perpustakaan telah lahir dan mulai tumbuh, tetapi masih bersifat privat dan hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu saja.

Lahirnya perpustakaan umum di masa kolonial

Volkschool Pasoendan | Foto: initasikl.com
info gambar

Perpustakaan yang kita paling mirip dengan yang kita kenal saat ini hadir bersama dengan kedatangan bangsa Barat pada abad ke-16. Mula-mula, perpustakaan didirikan untuk menunjang misi penyebaran agama mereka, lalu berlanjut hingga digunakan bagi kepentingan pendidikan hingga propaganda.

Berdasarkan berbagai literatur, perpustakaan paling awal berdiri pada masa ini adalah perpustakaan gereja di Batavia (kini Jakarta) yang diresmikan pada 27 April 1643. Perpustakaan ini dipimpin oleh seorang pustakawan bernama Ds. (Dominus) Abraham Fierenius. Masa ini menjadi tonggak dimulainya kehadiran perpustakaan yang tidak lagi diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, melainkan juga dapat dinikmati oleh masyarakat umum.

Selanjutnya, pada 25 April 1778 berdiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) di Batavia beserta fasilitas perpustakaan yang dimilikinya. Perpustakaan ini kemudian mengeluarkan katalog buku yang pertama di Indonesia pada tahun 1846 dengan judul Bibliothecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florist Catalogue Systematic hasil suntingan P. Bleeker.

Berwisata Sambil Mengenal Sejarah Melalui Destinasi Dark Tourism

Perpustakaan BGKW ini memiliki prestasi yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan. Namanya pun ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Nama ini kemudian berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1950.

Tak hanya itu, pemerintah Hindia Belanda juga memiliki perpustakaan rakyat (volksbibliotheek) yang didirikan oleh Volks Lectuur (kelak berubah menjadi Balai Pustaka), dengan pengelolaan yang diserahkan kepada sekolah rakyat (volkschool). Perpustakaan ini melayani murid dan guru serta menyediakan bahan bacaan bagi rakyat setempat. Murid tidak dipungut bayaran, sedangkan masyarakat umum dipungut bayaran untuk setiap buku yang dipinjamnya.

Terdapat berbagai perpustakaan lain yang didirikan sesudah pembangunan BKGW dengan berbagai tujuan masing-masing. Misalnya Bibliotheek’s Lands Plantentuin te Buitenzorg yang didirikan pada 1842 (kini Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Hasil-hasil Penelitian) Indonesische Volk Bibliotheken pada 1911, dan perpustakaan Volks Bibliotheken yang digabungkan dalam Holland-Inlandsche School pada 1916.

Tumbuh pula berbagai jenis perpustakaan, baik dengan sistem sewa yang didirikan oleh swasta, maupun perpustakaan yang tumbuh bersama didirikannya berbagai universitas pada tahun 1920-an. Sayangnya, berbagai perpustakaan ini kemudian ditutup dan dijarah pada masa pendudukan Jepang.

Kemerdekaan Indonesia dan kejayaan perpustakaan

Perpusnas RI | Foto: Instagram.com/perpusnas.go.id
info gambar

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, dunia perpustakaan juga mengalami perubahan dan perkembangan. Era pasca kemerdekaan ini dapat dimulai dari tahun 1950-an, ketika berdirinya perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang berfokus pada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia, tepatnya pada 25 Agustus 1950.

Selanjutnya, Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada 1962 dengan pengubahan nama menjadi Museum Pusat. Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional.

Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989, ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Tambah Pengetahuan dengan Membaca 4 Buku Fiksi Sejarah Indonesia

Pihak Keraton Mangkunegoro ikut mendirikan perpustakaan keraton, sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksi perpustakaan tersebut adalah naskah kuno. Meskipun koleksi ini tidak dipinjamkan, masyarakat tetap boleh membaca dan mempelajari manuskrip-manuskrip tersebut di tempat.

Pada tahun 1995, Perpustakaan Nasional Republik (Perpusnas) Indonesia di Jakarta dan Rijksmuseum di Amsterdam memulai adanya kerjasama dalam pelestarian warisan budaya bangsa. Secara resmi, Perpustakaan Nasional berdiri di pertengahan 1980, dengan integrasi keseluruhan secara fisik pada Januari 1981.

Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tetapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan.

Kini, selain perpustakaan umum yang didirikan oleh pemerintah, kita juga kerap menjumpai perpustakaan yang dilahirkan oleh pihak-pihak swasta maupun organisasi non profit. Selain itu, tak jarang juga Kawan akan menemukan konsep perpustakaan merangkap cafe yang menjadi tempat nyaman untuk bersantai.

Kemudahan mengakses perpustakaan baik secara fisik, maupun digital menjadi sesuatu yang perlu kita syukuri dan manfaatkan sebaik mungkin. Akses terhadap pengetahuan ini adalah salah satu kunci penting untuk membangun bangsa. Jadi, jangan lupa untuk kunjungi perpustakaan terdekat Kawan, ya!*

Referensi: Jendela Perpustakaan | Perpustakaan BSN

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini